
Aksara tersenyum, mengenang jalan-jalan nya tadi sore meski pun terhalangi meeting dadakan. Tapi imbalannya restu sang mommy, yang kini membuat istri cantik nya sedang menyisir rambut basahnya.
"Hemm, wangi banget sih"
"Kenapa"
Cinta mengelus rahang kokoh milik suami tampan nya, ada rasa aneh yang jelas membangkitkan gairah Aksa. Aksara langsung menggendong istrinya seperti memeluk guling.
"Om, rambut Cinta masih basah loh"
"Ya sudah dikeringkan dulu"
Dengan telaten Aksara mengeringkan rambutnya, setelah kering Aksara segera memeluk tubuh mungil istrinya, mencium harum tubuh yang baru saja memakai wewangian itu.
"Byy geli"
Namun Aksara terus mengendus leher istri nya hingga terdengar erangan suara dari Cinta. Membuat libido Aksara naik, hingga mereka melakukan sesi percintaan panas, Aksara menyudahi aksinya ketika sang istri terlelap di sepertiga malam.
"Good night sayang ku"
Aksara bangkit lantas membersihkan diri nya, menuju meja karja nya di ruangan sebelah. Mengecek laporan yang dikirimkan oleh Dino pada nya.
"Bocah ini tak tahu malu sekali, sudah tau aku lelaki beristri masih saja asal mengirimkan"
Gumam Aksara dengan segera mengerjakan laporannya. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi, Aksa baru selesai dengan pekerjaannya langsung masuk ke dalam selimut dimana sang istri tertidur.
Pagi telah menyingsing, mommy Diah sudah sibuk dengan acara sarapannya yang terbilang istimewa untuk hari ini.
"Selamat pagi mommy?"
"Pagi Cath"
"Pagi Tante"
"Pagi Ini, kau datang juga?"
"Iya Tante, kaya nya Min udah biasa sama ala sarapan rumah ini!"
Ucap Karenina dengan nada yang lemah lembut lagi anggun.
"Sudah mommy tegaskan di email kalian masing-masing bukan! bahwasannya mommy sudah memilih menantu"
Karenina tersenyum miring sambil berjalan mendekat pada mommy Diah.
"Tidak segampang itu mommy, kau kira kontes menantu buatan mu ini talk show, bila kau suka kau teruskan bila tidak kau pilih sesuka hati"
Ucap Karenina berapi.
"Dengar nyonya besar Alkatiri, Wicaksara adalah pialanya, harta ini, juga kedudukan sebagai istrinya adalah hadiahnya, jadi aku menginginkan nya"
Ucap Karenina, pergi berjalan setelah membanting gelas milik Cinta.
"Dan siapa pun yang merebutnya, maka akan hancur seperti gelas itu"
Ucap nya sambil menjauh.
Mommy Diah hanya menghela nafas sambil mengelus dada nya. Benar kata suami dan anak nya, dia hanya melihat kedua orang tua dari Karenina itu. Dia tidak pernah menyelidiki tabiat, sifat juga kelakuan gadis itu.
"Jangan di hiraukan ya mom, Karenina memang seperti itu"
"Iya Cath"
"Mom Cath duluan ya mau mengantar Ahaaz ke sekolah"
Mommy Diah mengangguk, kembali menata piring piring sarapan juga minuman mereka.
"Selamat pagi mom!"
Ditya langsung mengecup mesra kening istri nya, lalu duduk di kursi untuk menyantap sarapan pagi nya.
"Dad, ke kantor?"
"Iya cuma sebentar"
"Ya sudah"
Mommy Diah terlihat murung, Ditya tersenyum melihat istri nya nampak ada keresahan juga beban pikiran.
"Daddy agak tidak sibuk, mom ikut saja dari pada di rumah"
"Baik lah, jika Daddy memaksa"
'Heh, wanita ini tidak pernah berubah'
Monolog Daddy Ditya.
Setelah mommy Diah bersiap lantas segera berpamitan juga berpesan untuk menghidangkan sarapan untuk anak juga menantu nya yang masih terlelap.
"Eeuungghh......jam berapa sekarang?"
"Masih jam 9 sayang"
"APA!"
Aksara menutup telinga nya karena jeritan sang istri di dekat telinga nya, telinganya mendadak berdenging.
"Jangan berteriak ini masih pagi"
"Tapi kan Cinta telat buat bantu mom siapin sarapan"
"Tidak usah, dibawah tidak ada orang"
"Tidak ada orang"
"Daddy pasti bawa mom ke kantor, mereka selalu bersama"
Aksara kembali memasukan tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Byy tidak kerja"
"Kerja"
"Ini sudah siang banget, byy"
"Tak apa, byy ada rapat siang hari aja, jadi kita bisa tidur sebentar lagi"
"Baik lah"
"Hem penurut sekali, oh ya sayang kau sudah boleh kuliah lagi, byy sudah membuka cuti mu"
"Benar kah?"
"Iya"
Aksara memeluk tubuh istrinya erat sekali.
"I love you"
Aksa langsung ******* bibir mungil itu sedikit lama.
"I love you too, sayang nya byy"
"Jadi mulai besok Cinta kuliah ya?"
"Iya"
Perasaan bahagia Cinta karena mendapatkan yang dia mau sedangkan Aksara bahagia dapat membahagiakan sang istri.
Cath mengantarkan Ahaaz segera, memutar arah dan sampai lah di area parkir sebuah hotel di pinggiran kota.
"Masuk kak"
Perempuan muda yang tak lain Karenina Aryandi menyambutnya. Mereka berdua menemui seorang lelaki paruh baya juga seorang wanita cantik.
"Siapa dia Smith?"
"Putri angkat ku"
"Ha...ha...ha"
Karenina tertawa begitu juga Cath.
"Ya dia simpanan ku"
"Itu lebih baik"
Ucap Cath.
"Kau sudah berjumpa dengan lelakinya bukan?"
"Iya, sayang sekali lelaki setampan dia harus di umpan kan pada ku"
"Jaga mulut mu!"
Karenina hendak mendaratkan tangannya, namun di cegah oleh Cath.
"Tahan Karen"
"Benarkan perkataan ku, dengan memandang nya saja bagian bawah ku sudah berkedut minta dijamah nya"
Dengan santai wanita yang tak lain Nathalie itu berkata sambil menyalakan rokok, menghisapnya dan mengepulkan nya ke udara.
"Baik lah kita setuju dan ini rencananya"
Setelah menyelesaikan transaksi, mereka berdua pergi, namun tak lama Karenina datang kembali.
"Jalankan rencananya lantas sambung dengan rancangan ku, tugas A itu pekerjaan kalian sedangkan sisa serahkan pada ku"
Setelahnya baru Karenina pergi dengan senyum puas.
Aksara sudah rapi turun ke dapur sambil menggenggam jari jemari istrinya, bersiap menyantap santap siang sekaligus sarapan tadi pagi.
"Pelan sayang makan nya!"
Cinta dengan lahap memakan nasi di piring nya.
"Cinta lapar sekali"
Aksara tersenyum, mengelus surai panjang istrinya.
"Jangan keluyuran ya, byy berangkat dulu"
Cinta mengangguk, melangkah menghampiri para bibik yang sedang sibuk membuat camilan kering.
"Buka, siang-siang gini enak nya makan rujak buah yang seger, manis, Asep dan sedikit pedas"
Semua bibik terhenti dari pekerjaannya menatap nyonya mudanya.
"Non mau rujak buah, biar bibik buatkan"
"Ah, tidak usah bik, Cinta naik keatas saja"
Beberapa orang segera mengupas buah segar, mangga yang masih setengah matang, kedondong, belimbing, jambu, apel, pear juga buah seadanya.
"Ini kita ngupas sebanyak ini!"
"Sudah cepat, buat bumbu nya"
Dalam hitungan menit rujak buah sudah sampai di kamar milik Cinta.
"Ehh ini apa bik?"
"Rujak buah non, coba dicicipi"
"Wah terimakasih bik"
Air liur Cinta hampir menetes melihat irisan buah segar dengan bumbu yang kental. Dengan segera Cinta memakannya sambil menonton televisi di kamarnya. Tak terasa waktu sudah sore, Aksara melangkah menuju kamarnya.
Klek.
Terlihat layar televisi masih menyala, namun tak ada penonton justru televisi sedang menonton Cinta yang tertidur.
"Segitu lelahnya kah? sampe pulas begitu tidur nya"
Aksara memandang istrinya kemudian beralih ke nampan buah, dan bumbu rujak yang tersisa.
"Byy sudah pulang?"
"Sudah"
"Cinta ngantuk"
Dengan cepat Cinta merayap ke tempat tidur, kemudian berbalik.
"Byy peluk dong"
Aksa segera memeluk istrinya.
'Ada yang aneh? tapi apa?'
Gumam Aksara dalam hati nya.
BERSAMBUNG.