
Ditya Alkatiri dan istri nya Diah Rayz yang berada di benua seberang sudah mendengar kabar dari anak dan menantu mereka. Karena baru saja seminggu lalu istri nya siuman maka Ditya begitu sangat senang. Dia sangat bersyukur ketika mata sang istri terbuka, sekaligus beberapa kabar yang baik datang dari anak menantu nya.
"Dad"
Diah baru saja bisa bicara dan yang dipanggil adalah nama panggilan suami nya.
"Iya mom"
"Kita ada dimana?"
"Kita ada di rumah sakit, sayang"
"Kok sepi sih dad"
"Memang, karena kau butuh ketenangan lagi udara segar lebih banyak"
"Ohh....."
"Istirahat lah lagi, supaya cepat pulih"
"Benar, aku ingin melihat Rayz dan cucu-cucu kita"
"Betul harus semangat sembuh"
"Iya"
Diah tidak sadar jika diri nya itu sedang di benua yang jauh dari anak semata wayang nya. Ditya sedang memikirkan cara untuk berkata yang sebenar nya pada istri nya itu.
Ditya beberapa kali menghubungi sang anak namun sambungan ponsel nya tak bisa tersambung. Ditya mencoba menghubungi para asisten anak nya itu.
"Iya tuan besar"
"Melki bagaimana keadaan disana?"
"Semua baik saja tuan, kami sedang ada tender besar tuan jadi sangat sibuk di kantor"
"Oh, bagus lah sampaikan pada Rayz mommy sudah sadar"
"Baik tuan"
Setelah sambungan telepon waktu itu hingga 5 Minggu tak ada kabar sama sekali. Namun Ditya tetap berdoa untuk anak, menantu, juga cucu yang masih dalam perut menantu nya. Bahkan mereka membawa usg milik menantu nya agar jika rindu bisa mengusap itu.
"Dad, kapan kita pulang?"
"Nanti dad tanya sama dokter ya apa mommy bisa menempuh perjalan jauh"
Entah sudah kesekian ratus kali nya sang istri bertanya pada suami nya. Setelah Ditya mengutarakan keberadaan mereka, istri nya sempat syock namun setelah nya sudah bisa tenang kembali. Ditya menceritakan keadaan mereka, Diah istri nya merasa tak masalah asalkan para cucu nya terjamin kesehatan nya.
Ddrrtt.....ddrrttt.
Ponsel Daddy Ditya berdering, dengan segera lelaki paruh baya itu mengangkat nya.
Klik....
"Daddy..."
"Rayz bagaimana keadaan mu?"
"Di speaker dad"
"Oh iya mom"
Daddy Ditya memenuhi permintaan istrinya.
"Bagaimana keadaan mommy disana?"
"Baik, sayang"
Bukan Daddy lagi yang menjawab tapi mommy Diah.
"Mommy, mommy menangis"
Dengan segera mommy Diah mengusap air mata nya, meski tak terlihat karena hanya menggunakan panggilan suara saja.
"Tidak sayang, mommy tidak menangis"
"Jangan menangis mom, Ray, baik saja disini, semua sudah aman disini, jadi kalian bisa pulang kita sudah bisa berkumpul lagi disini"
"Benar kah, nak?"
Air mata mommy Diah tak terbendung lagi banyak nya, bahkan suara nya sudah sangat kenceng.
"Jangan menangis, Cinta mendengar nanti cucu mommy jadi cengeng kaya Oma nya"
"Tidak apa ya dek, Oma yang jagain nanti"
"Cucu Oma tidak satu loh ya"
"Oma sanggup kok"
Sementara Cinta tersenyum melihat suami nya menggoda ibu nya sendiri.
"Byy orang tua juga di goda sih"
"Biarin sayang, sekali ini doang kok"
"Cinta mau tidur kalau begitu"
Dengan segera Aksara mematikan ponsel nya, karena orang tuanya juga akan pulang.
"Bagaimana mom?"
"Kita besok pulang ya dad?"
"Bak lah, sekarang kita istirahat lalu berpamitan pada Haris dan istri nya"
"Baik lah mommy setuju"
Benar saja lusanya setelah berpamitan dengan Rista, kedua paruh baya itu segera menuju bandara untuk segera pulang ke kediaman Alkatiri. Mereka juga merindukan semua nya, terlebih lagi anak semata wayang dan istri nya bahkan sebentar lagi sepasang paruh baya itu akan menjadi kakek dan nenek. Kini mereka selama 13 jam akan mengudara dalam burung besi yang melintasi belahan dunia.
BERSAMBUNG.