TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.194


Rei bersama Min pulang ke villa sudah larut, mereka segera beristirahat. Min pergi ke sofa untuk tidur, sedangkan Rei sangat kesal dibuat nya. Istri nya itu tidak tidur seranjang dengan nya, apa wanita itu lupa akan kegiatan mereka kemaren malam pikir Rei.


'Huh, kenapa seemosi ini?'


Gumam Rei dalam hati ketika wanita belia itu sudah berselimut sebatas dada di sofa. Rei berguling kesana kemari, tapi tak di gubris sama sekali malah wanita itu sangat nyenyak tertidur.


'Huh, kenapa tidak bisa tidur'


Rei terbangun lantas mendekat ke sofa memperhatikan istri nya tidur. Rei menghela nafas nya lalu mengangkat tubuh langsing itu. Diletakkan disebelah kiri nya lantas memeluk tubuh istri nya itu.


'Memang sangat lembut'


Rei menenggelamkan kepala nya di leher sang istri.


'Wangi sekali'


Tangan Rei sudah meraba sesuka nya, juga meremas yang dia inginkan.


'Tidak enak rasa nya, seperti dengan boneka saja'


Rei segera memejamkan mata, sambil memeluk wanita disebelah nya. Malam pun berlalu, Min membuka mata.


"Eh, kok berat, aku dimana sih"


Min merasakan hembusan nafas di ceruk leher nya, Min melihat ke perut nya. Ada tangan besar yang melingkar disana, juga bahu sebelah kanan nya agak berat. Min menengok ke sebelah kanan nya.


"Eh si om, aku kapan pindah kesini?"


Rei sebenar nya sudah bangun, dia menunggu reaksi istri nya. Sementara Min melihat kedalam selimut.


"Masih rapih"


Min tersenyum, semalam lelaki yang sebagai bos nya tidak menganiaya diri nya seperti di resort itu.


"Sebaik nya aku cepat mandi"


Min turun dari ranjang dengan perlahan, Rei membuka mata nya. Sementara Min sedang fokus agar langkah nya tidak menimbulkan bunyi, Rei tersenyum smirk.


HAP.......


Tubuh Min melayang ke udara.


"Ahh.......!"


Min tersentak kaget karena tiba-tiba tubuh nya melayang.


"Om, lepas......om!"


Untung kamar mereka kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar teriakan Min ini.


"Om lepasin, aku mau mandi!"


"Kita mandi bareng, hemat waktu dan air ya"


Rei tersenyum jahil.


"Aku bisa mandi sendiri kok"


"Tapi aku ingin mandi bersama mu"


Rei langsung menceburkan tubuh Min ke bak mandi besar milik nya. Rei menahan nya dengan melilitkan tubuh nya.


"Om, sesak!"


"Mandi dong"


"Iya....iya tapi jangan dililit gini"


"Oke, sabuni tubuh ku ya"


Min mengambil sabun untuk menyantuni tubuh bos nya ini. Sebelum sampai mengambil sabun, Rei sudah mengungkung tubuh langsing Min. Min tidak ada tenaga untuk melawan, seluruh permainan di kuasai oleh Rei.


"Om, sudah siang nih"


"Sebentar lagi ya, nanggung"


Min hanya cemberut saja, lelaki ini seenak diri nya saja meminta kepuasan batin dari nya. Sebentar bukan nya 10 menit namun 45 menit baru selesai. Rei segera menyanyi tubuh lelah Min, juga tubuh nya. Menggendong Min ke shower untuk membersihkan diri, mereka sudah 2 jam mandi di pagi hari dari jam 7 hingga sembilan lewat.


'Lelah sekali'


Gumam Min.


Rei meletakkan istri nya di ranjang, lantas dia segera berganti baju.


"Tidak usah ke kantor kalau lelah, semua orang sedang senggang di kantor karena jam 10 nanti ada rapat penting"


"Aku banyak kerjaan"


Min dengan rasa yang masih linu di pangkal paha nya itu, segera berpakaian.


"Berangkat?"


Min mengangguk, istri Rei terlihat sedikit pucat.


"Wajah mu pucat"


"Tidak apa"


"Baik lah, ikut mobil ku saja supaya cepat"


Mereka segera bergegas berangkat bersama, 1 jam kemudian mereka sampai di tempat parkiran.


"Naik lift ku saja"


Rei menyeret tubuh Min untuk ikut bersama nya.


"Sudah lah jangan dipikirkan"


Min mengangguk.


Benar saja banyak para karyawan yang nongkrong di kantin dan ruang kerja agak sepi. Sehingga dengan leluasa Min segera menuju ruangan nya.


"Baru datang ya?"


Min terlihat kaget ketika seorang lelaki muda menyapa nya, Min tersenyum canggung.


"Oh iya pak"


"Tumben siang?"


"Aku sedikit ada pekerjaan di rumah, lagi pula di kantor senggang hari ini"


"Iya juga sih?"


Min dengan cepat berjalan ke ruangan kerja nya.


"Oh ya, kemarin sore kau di restoran xx dengan siapa, seperti nya seorang lelaki"


Lelaki itu Andreas, dia memandang Min dengan tatapan menyelidik.


"Sepupu pak"


"Oh sepupu mu, pantas akrab ya, aku melihat hany dari punggung lelaki itu tidak melihat dari depan maka nya ku tanya, awal nya ingin menyapa mu"


Sahut Andreas sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Wajah mu pucat, apa kebanyakan begadang?"


"Aku kurang istirahat karena banyak pekerjaan"


"Oh, baik lah, istirahat yang cukup ya"


Andreas segera berlalu pergi.


'Siapa kamu sebenar nya? kenapa bisa bersama pak Rei'


Andreas memperhatikan cara berjalan Min.


'Seperti ada yang aneh?'


Gumam Andreas, namun lelaki itu tak berani menyinggung lebih dalam takut jika akan melukai perasaan Min belum lagi akan menimbulkan prasangka buruk dan kesalahpahaman.


Para petinggi perusahaan milik Rei sedang rapat tahunan, mereka sampai jam makan siang hampir habis baru keluar.


"Bagaimana tuan hasil nya?"


"Sama sekali tidak memuaskan, aku kurang setuju dengan ide mereka terlalu banyak resiko untuk memunculkan produk baru"


Aryos mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam ruangan kantor milik Rei. Mereka berdiskusi tentang masalah ini, Aryos sangat cekatan belum lagi Ravenda yang sudah masuk kembali. Ravenda sudah mengakui kesalahan dan kekhilafan nya.


"Sudah lah, kita belum bertemu solusi nya"


Aryos dan Ravenda pun hanya bisa menundukkan kepala mereka.


"Istirahatlah, atau mau pulang juga boleh"


"Baik tuan"


Jawab kedua nya secara serentak.


"Yos"


Aryos berbalik dan berhenti, sementara menunggu Rave keluar dari pintu kantor Rei.


"Saya tuan"


"Panggil istri ku, katakan bahwa aku menunggu nya di ruangan ini"


"Baik tuan"


"Antarkan dia kehadapan ku"


"Baik"


Aryos segera berjalan menuju divisi yang di tempati Min, kantor sedikit lengang karena para karyawan sudah di pulangkan hari ini. Hanya mengurangi 1 jam kerja saja, mereka sangat bahagia apa lagi di liburkan.


"Nyonya"


Min mendongak, lantas tersenyum.


"Ikut saya, tuan sedang menunggu mu"


"Ada masalah apa?"


"Di hanya berpesan pada saya untuk menjemput mu"


"Baik lah"


Min segera membereskan peralatan kantor nya, lalu bergegas. Sementara seorang lelaki tanpa sengaja baru keluar dari divisi nya, melihat gadis yang di taksir nya sendirian berniat mengajak pulang. Namun siapa sangka asisten pribadi bos besar nya menjemput gadis itu, gadis itu hanya bersedia saja ikut tanpa penolakan.


'Apa identitas mu?'


Gumam Andreas, ya lelaki yang berada di seberang tembok ruang kerja Min adalah tak lain Andreas. Baru saja Andreas merasa menemukan gadis yang cocok, namun dia di dahului oleh orang lain, sungguh naas nasib nya.


Andreas begitu sakit dada nya sangat sesak melihat pujaan hati akan menemui orang di cintai nya.


BERSAMBUNG.