
Meski bekerja namun pikiran nya tertuju pada sang mamah, Min berhenti sejenak melamun kan nasib nya bagaiman mungkin sang mamah sampai berhutang ratusan juta, untuk biaya apa. Min tidak pernah ingat wajah sang papah, karena di bawa tinggal di desa oleh sang mamah sejak usia 3 tahun.
"Hei kenapa? kerja kok melamun?"
Karina datang membawa makan siang karena dia tidak melihat Min keluar ruangan.
"Tidak ada, jangan asal tebak"
"Siapa yang asal tebak?"
Karina mengedipkan mata nya, Min seolah tidak mengerti. Pasal nya tadi saat Min turun dari lantai paling atas Karina juga ada di lantai bawah nya.
"Ini makan siang untuk mu"
"Baik banget tumben"
"Ya siapa tahu aku akan berteman dengan calon istri seorang triliuner"
"Uhuukk.....uhhuukk"
Karina tersenyum smirk.
"Jangan sembarangan"
Karina melenggang pergi menuju ruang kerja nya sendiri.
Drrtt......ddrrtttt.
"Iya selamat siang"
"Apakah ini nona Jasmin?"
"Iya bener"
"Nona silahkan ke rumah sakit xxx"
"Kenapa aku harus kesana?"
"Saya dokter yang menangani penyakit mamah anda nona"
Deg......
Sambungan ponsel itu terputus, rasa nya saat ini Min begitu lemas hingga ke tulang-tulang nya. Dia begitu terburu-buru untuk segera pergi ke rumah sakit. Min berlari kearah HRD perusahaan untuk meminta ijin pulang karena mamah nya sakit. Singkat cerita HRD kantor mengijinkan nya.
Min berlari sambil menangis menuju lobi perusahaan untuk menghentikan taksi.
"Hari ini cuaca bagus, juga suasana hati ku sangat bagus"
Rei yang berada di kantin perusahaan sedang makan siang pun berucap pada Aryos.
"Bagus lah bos, suasana hati mu sangat penting untuk perusahaan"
"Kau benar"
Aryos tersenyum senang karena di puji Rei, 5 tahun lalu keluarga nya di bunuh dan di bantai tanpa ampun oleh Sanunjaya karena perkara tanah di dekat mall terbesar di kota. Hingga dia begitu membenci marga Sanunjaya hingga ke tulang belulang mereka.
"Aku ada tugas untuk mu"
Rei berbisik karena Aryos mendekat lalu mengangguk.
"Setelah selesai nanti, maka mobil sport keluaran terbaru yang baru ku beli itu akan ku hadiahkan pada mu"
"Siap bos, dengan senang hati"
Aryos segera bangkit lalu berjalan kearah lobi dan menghilang untuk mengerjakan perintah dari tuan nya.
"Ini pekerjaan mudah hanya seperti ini saja"
Sambil berkendara di jalan raya Aryos bergumam, dia segera menghubungi seluruh teman-teman nya yang bekerja di rumah sakit untuk membantu nya dengan imbalan yang fantastis.
Min sampai dengan menaiki taksi, dia segera bertanya pada resepsionis yang berjaga disana.
"Jasmin"
Min menoleh pada suara seorang lelaki yang memanggil nama nya.
"Apa dokter memanggil saya"
"Benar, kau Jasmin anak dari Laula bukan ?"
"Benar dok"
"Ikut dengan saya"
Lelaki paruh baya yang masih terlihat ketampanan nya, bahkan jika muda mungkin dokter itu menjadi idola bagi seluruh kaum wanita.
Min dengan patuh mengikuti dokter muda itu, lantas mereka telah sampai pada salah satu ruang perawatan di rumah sakit itu.
Klek.
Disana terbaring wanita paruh baya, mamah Min sendiri, yaitu mamah Laula.
"Mamah......"
Min membekap mulut nya, air mata nya menetes dengan deras nya.
"Apa yang terjadi pada mamah ku dok, jelas-jelas tadi pagi masih baik-baik saja"
Dokter menghela nafas sebentar.
"Lalu ku putuskan untuk datang menengok nya, karena mamah mu belum mengambil obat tumor nya selama 1 bulan ini"
Mata Min membola, bagaimana mungkin wanita yang lembut dan hangat itu terkena penyakit mematikan. Pantas akhir-akhir ini sang mamah selalu mengunci pintu kamar nya, dan juga hutang itu yang ratusan juta mungkin dia gunakan untuk biaya sekolah juga pengobatan penyakit nya.
"Mamah tidak pernah berkata pada Min akan penyakit nya"
"Benar karena dia tidak ingin membebani mu apa lagi membuat mu bersedih Jasmin"
"Mamah sungguh tidak ingin berbagi dengan ku penderitaan nya di tanggung sendiri"
"Kamu bersabar lah"
"Kapan mamah punya penyakit ini dok?"
"Sejak dia mengandung diri mu Jasmin, dia tidak mau membunuh mu dengan melakukan operasi dia harus meminum obat keras itu bisa berakibat pada janin"
Min tak lagi berkata apa pun, dia hanya duduk disisi sang mamah dengan patuh.
"Jangan marah pada nya"
Min mengangguk.
"Aku juga pernah membujuk diri nya untuk melakukan operasi tapi dia menolak"
"Kenapa?"
"Karena kemungkinan nya hanya 35% untuk sembuh"
Min mendesah lemah.
"Dari pada dia gagal di meja operasi lebih baik dia menemani mu, aku juga sudah mengusulkan untuk berobat ke luar negeri tapi dia juga menolak karena kau akan sendirian di desa ini"
"Dokter ini sebenar nya siapa nya mamah?"
"Aku teman masa kecil nya, dia tidak akan menikah dengan papah mu jika tidak di jodohkan"
"Apa dokter punya perasaan pada mamah ku?"
"Benar, tapi mamah mu tidak pernah menerima perasaan ku"
"Lalu apa yang harus Min lakukan dok?"
"Bujuk mamah mu untuk operasi setelah nya aku akan bawa ke luar negeri untuk berobat"
"Baik jika mamah bangun akan Min sampaikan dok"
Dokter yang bernam tag Ervan. S itu segera pamit undur diri untuk segera mengurus prosedur operasi pengangkatan timur yang ada di kepal mamah Laula.
"Mah cepat sembuh, Min sangat khawatir pada mamah"
Min memegang tangan sang mamah untuk menguatkan tekad mamah nya yang tertidur pulas karena bius itu.
Drrtt....ddrrtt.
"Karina tolong buatkan ijin ku 1 Minggu ya"
"Kau mau kemana?"
"Mamah ku sakit, jadi aku harus menemani dia di rumah sakit"
"Oh, baik lah, akan ku buatkan untuk mu"
Min segera mandi karena gerah, dia menyuruh salah seorang cleaning servis untuk membelikan nya baju ganti rumahan. Min juga memesan makanan yang dekat dengan rumah sakit lewat aplikasi delivery online.
Min yang lelah karena bekerja juga kaget atas keadaan sang mamah yang tiba-tiba itu segera tertidur meski dalam keadaan duduk. Jam 4 sore Min tersadar karena suara sang mamah yang kehabisan nafas, Min dengan panik memencet tombol memanggil dokter.
"Kenap begini?"
"Kondisi pasien menurun dokter!"
"Kesadaran nya sangat rendah, dia seperti nya mengalami koma, jika di operasi kemungkinan nya akan gagal"
"Baik lah, segera ganti kantong darah nya"
"Bank darah kita sudah kehabisan golongan darah ini, ini kantong terakhir dokter"
"Berapa lama?"
"3 jam"
Dokter Ervan segera keluar mencari Min.
"Min apa golongan darah mu sama dengan mamah mu?"
"Tidak dokter"
"Mamah mu membutuhkan banyak darah, tapi di beberapa rumah sakit sudah tidak ada golongan darah yang sama dengan mamah mu"
"Lalu kemana aku harus mencari nya?"
"Rumah sakit privat keluarga Aryandy"
BERSAMBUNG.