
Kedatangan mereka bukan menengok ibu angkat atau mommy kandung tapi lebih tepat nya membuat rusuh.
"Apa kalian mau menginap?"
Tanya Daddy German acuh, nyata nya dia baru semalam saja bisa berduaan dengan istri nya Amelia.
"Mungkin dad, kan kita kompak"
Daddy German menghela nafas berat, yang dia hadapi adalah bayi besar milik istri nya.
Lagi wanita tercinta nya mencintai mereka, entah bagaimana nasib nya jika kedua lelaki dewasa itu menginap.
"Kalian tidak dicari oleh istri kalian?"
Tiba-tiba ide cemerlang terbit di jidat Daddy German.
Mereka William dan Andra nampak tersenyum, ibu Amelia hanya menggelengkan kepala nya saja karena candaan kedua pemuda dewasa itu.
Dilihat nya sang suami yang sudah misuh-misuh, ibu Amelia mengelus lengan yang mulai tumbuh keriput itu.
"Kenapa sih dad, lagian ya kita itu anak nya ibu, jadi kita mau mengunjungi ibu, apa seorang anak berkunjung pada ibu nya harus di larang juga"
Ucap William panjang kali lebar dan ditambah tinggi, entah rumus apa yang di gunakan lelaki itu untuk melawan sang Daddy.
"Mereka hanya bercanda mas, tidak akan serius kau jangan menanggapi nya dengan serius begitu"
Akhir nya ibu Amelia membela lelaki yang masih menjadi suami nya itu.
"Ah ibu tidak asik"
Ucap Andra merajuk seperti boneka jail.
William nampak ngeri memandang lelaki di sebelah kanan sang mommy.
"Bener mom, kan kita sudah janji kalau kita tidak boleh buka kartu loh"
Daddy German tersenyum, karena kedua pemuda dewasa itu rupa nya mau mengerjai nya.
"Kalian ini, mengganggu orang tua saja"
Ketua Daddy German.
"Ayo kita makan siang bersama"
Ucap ibu Amelia pada kedua anak nya ini.
"Wah masak apa Bu?"
"Ibu memasak kesukaan Daddy German, semua masakan karena ibu belum tahu kesukaan Will, juga ada menu kesukaan mu nak"
Diakhir kalimat Bu Amelia nampak melirik pada Andra yang kemudian pemuda itu nampak tersenyum.
"Wah aku sudah sangat lapar sekali Bu"
"Ayo ibu masak banyak loh"
William dan German juga mengikuti kedua ini dan anak angkat itu. Dalam suasana khidmat itu mereka menikmati makan siang nya.
"Ya sudah kami pamit mom"
German bernafas lega karena kedua pengacau itu akhir nya kembali ke kandang nya.
"Loh kok sudah mau kembali? Ini kan masih siang"
German sudah ketar-ketir karena ucapan istri nya itu.
"Asisten Will sejak tadi memanggil mom"
Ucap William seraya memperlihatkan panggilan di ponsel nya.
"Oh ternyata sibuk, ya sudah hati-hati ya nak kalian"
Ucap ibu Amelia membuat Daddy German bernafas lega.
Andra dan Will berangkat dari mansion Daddy German menuju ke mansion keluarga Mid.
Sementara para istri kedua lelaki tampan itu sedang berada di salon untuk sekedar melepas lelah dan memanjakan diri mereka sendiri. Meski pun mereka harus dikawal Novan dan Anita.
Roy juga sedang tugas memantau kesehatan Alesa di rumah sakit, yaitu anak dari lelaki yang menolong ibu Amelia.
"Aku langsung ke kantor ya?"
Ucap William menurunkan Andra di depan gerbang rumah nya.
"Oke"
Andra berjalan masuk kedalam mansion, sepi memang semua orang sedang keluar termasuk mommy dan Daddy nya yang sedang ke rumah sakit.
"Tuan sudah pulang?"
"Iya"
"Mau makan siang tuan?"
"Bawakan cake dan jus mangga saja bik, gerah sekali ini, aku sudah makan siang di rumah ibu"
"Baik tuan"
Bibik segera bergegas ke dapur, lantas menyiapkan semua yang tuan nya minta.
"Buat siapa bik?"
"Eh non Rose, ini buat tuan Arvin"
"Oh ada orang di rumah ya?"
"Iya non"
Bibik membuka pendingin khusus kue yang akan diambil untuk Andra, lemon cake kesukaan lelaki itu.
Bibik membawakan semua pesanan tuan nya itu masuk kedalam kamar.
"Tuan ini jus dan cake nya"
"Letakkan saja di meja bik"
Bibik meletakkan pesanan tuan muda nya lalu segera berbalik.
"Kok tambah gerah?"
Setelah meminum habis jus mangga yang bibik berikan dan juga lemon cake nya.
Andra mencoba mengecilkan suhu AC di kamar nya ini agar lebih dingin, namun nihil tak berhasil membuat gerah dalam badan nya menurun.
Bahkan semakin rendah suhu nya semakin panas pula badan nya ini.
"Ada apa sih? bukan nya lebih adem kok malah lebih gerah"
Andra meracau sendiri di dalam kamar nya, dia bahkan sekarang tengah berada di kamar pengantin mewah.
Andra bingung sendiri, karena tadi dia masih di kamar nya di negara A sekarang sudah di negara Z.
Tok....tok....tok.
Pintu di ketuk, Andra langsung membuka nya, terlihat wanita cantik yang tersenyum pada nya.
Andra memicingkan pandangan nya kearah wanita itu.
"Mas....ini aku, mas kenapa?"
Suara lembut nan mendayu itu kini hingga di telinga Andra, suara yang erotis dan menggetarkan tubuh bangun bawah nya untuk mengacung sempurna.
"Si......Siapa kau?"
Lirih Andra sambil memegangi kepala nya yang agak berdenyut.
"Ini aku mas istri kesayangan mu"
Andra membuka mata nya, pintu sudah di tutup dan di kunci.
"Sayang benar ini kau?"
Wanita cantik itu mengangguk dengan senyum nya yang lembut dan cantik.
"Sini aku peluk, supaya tidak pusing dan panas lagi"
"Arin sayang nya mas, tolong yang panas banget"
Racun Andra, lantas wanita itu mendekat menempelkan tubuh nya. Beberapa saat kemudian tangan lentik wanita itu dengan lancang membuka kaos milik Andra.
Lalu meraba dada bidang Andra dan memeluk nya erat serta menjilati dada yang penuh dengan otot itu.
"Ahhhh........"
Tentu Andra melenguh dengan sikap erotis itu bahkan mereka masih sama-sama berdiri.
Diteliti nya wanita cantik di hadapan nya yang memakai lingerie merah menyala, rambut nya lurus lagi kulit nya begitu halus.
"Kau cantik sekali?"
Andra mengelus pipi mulus istri nya itu, turun ke bibir bervolum yang tebal dan sexy itu. Andra juga dengan tangan tangan satu nya meraba pinggang wanita di hadapan nya.
"Ahh, tidak kau bukan Arin, pergi......"
"Mas ini aku Arin......kau menolak ku lihat aku sudah menyiapkan kamar cantik ini untuk surprise"
Lirih wanita itu dengan tatapan sendu, Andra membuka mata nya benar ini istri nya tercinta.
"Sayang maaf, mas pusing banget"
Lirih Andra, sementara wanita itu tersenyum manis.
"Mau ku pijit sayang"
Sambil membelai dada telanjang milik Andra yang penuh dengan otot kekar nya.
Bahkan kini tangan wanita itu mulai turun ke paha Andra, disana bahkan diantara kedua paha itu sudah ada benda tumpul yang tegak dengan ukuran yang besar dan panjang.
Andra memejamkan mata nya menikmati walau hanya sedikit gesekan tangan di kedua paha nya.
Tubuh nya semakin terbakar, Andra melihat wanita yang mengelus paha serta menjilati dada nya memang adalah istri nya Rindi.
"Sayang kau sexy sekali"
Ucap Andra, dan wanita itu menjilati dengan lahap seperti es krim dada Andra sambil mengelus pelan paha lelaki itu.
Bahkan perempuan itu kini melepaskan bathrobe yang di pakai nya ketika masuk kedalam kamar yang Andra tempati.
Kini terpampang lah pundak mulus, imut, lagi tubuh istri nya hanya mengenakan lingerie saja tanpa dalaman sama sekali membuat tubuh itu polos hanya tertahan baju menerawang itu saja.
Sementara Lisa baru masuk kedalam ruang perawatan, salon penuh karena banyak yang perawatan dan Rindi dapat bagian duluan sehingga mereka harus saling menunggu.
PLUUUKKK.......
Minuman yang Rindi beli mendadak jatuh, tanpa dia sentuh entah mengapa. Ada gejolak rasa yang aneh bagi nya namun dia sendiri tidak tahu.
Rindi menghubungi papah Afar yang sedang terapi di rumah sakit.
"Iya nak"
"Papah dimana?"
"Masih di rumah sakit, ada apa nak?"
"Ah tidak, Arin hanya bertanya saja pah"
"Loh kamu sendiri ada dimana nak?"
"Aku sedang me time dengan kak Lisa"
"Suami kalian dimana?"
"Mereka berkunjung ke rumah ibu Amelia, pah"
"Oh"
"Ya sudah pah selamat makan siang ya"
"Iya nak, hati-hati"
Rindi menutup ponsel nya lantas kembali menunggu, namun tetap saja perasaan nya tidak enak tapi dia lebih tidak enak jika mengajak Lisa pulang.
BERSAMBUNG.