
Pagi hari Rindi berniat untuk pulang ke rumah paman nya. Setelah tinggal bolak-balik kadang menemani papah nya, kadang menginap di rumah paman.
"Kamu mau pulang nak?"
"Iya pah"
Rindi melihat sudah ada beberapa koper pakaian, dan juga asisten papah nya disana.
"Papah mau kemana?"
"Tentu saja pindah nak, papah sudah resmi bercerai dari mamah Melina"
Rindi mengangguk.
"Semudah itu pah?"
"Iya karena 20 tahun papah punya perjanjian dengan mamah tiri mu itu"
"Perjanjian apa pah?"
Rindi mendekat ke arah meja makan dan duduk disana menemani sang papah yang mau meneguk teh nya.
"Papah menikahi mamah mu dan sudah mengugat cerai mamah Melina, tapi dia menolak di ceraikan, papah juga tahu jika Melina sudah melahirkan putri nya Lisa, padahal kami sudah tidak pernah berhubungan badan lagi sejak 2 tahun lalu"
Rindi kaget mendengar penuturan sang papah.
"Putri nya dengan lelaki lain sudah berusia 2 tahun namun Melina enggan di ceraikan, dia berhasil menculik ibu mu saat kau masih bayi, jadi papah setuju membuat perjanjian untuk mengulur waktu tapi rupa nya Melina sudah merencanakan hal lain"
Afar menjeda sebentar ucapan nya lantas menghela nafas.
"Mamah mu diancam supaya mau tinggal serumah dengan Melina, agar dia bisa membuat pembunuhan mamah mu seperti penyakit jantung, papah yang sibuk mencari uang untuk masa depan kami tidak tahu sampai mamah mu terjatuh dari kamar kamu untung nya tidak sedang menggendong ku saat itu"
Afar bercerita dengan menahan kesedihan di mata nya lantas menghela beberapa kali nafas nya dengan sulit.
"Jangan dipaksa pah"
"Maaf nak, kebahagiaan yang papah kejar justru papah lah yang menghilangkan nya sendiri, papah berusaha keras agar kita bisa bahagia namun papah tidak sadar jika mamah mu di intai maut kapan pun. Melina berbuat baik di depan papah jadi papah tidak curiga selama ini pada nya. Papah hanya menunggu mu pulang, papah sudah tidak peduli rumah atau perusahaan lagi"
Rindi mengangguk.
"Terimakasih karena kau dan paman mu mengusut kematian mamah kandung mu nak"
"Iya pah, sekarang papah mau kemana?"
"Tentu saja ke rumah lama ku dan mamah mu"
Rindi mengerjakan mata nya.
"Kalian punya rumah yang lain?"
"Iya dulu papah ketemu mamah mu saat di desa papah menempati rumah kakek mu dan papah ketemu mamah mu yang sebagai guru cantik mengajar disana"
Rindi mengangguk tersenyum.
"Datang lah jika bosan bekerja di perusahaan paman mu, jenguk papah di desa"
"Baik lah"
"Jangan lupa melapor pada papah jika lelaki tua yang egois itu memarahi mu"
Rindi tertawa karena papah nya mengejek sang paman.
"Jangan bilang pada nya, dia akan marah dan langsung mendatangi ku, meski usia sama-sam tua dia tetap saja lelaki angkuh seperti teman kaya raya nya itu"
"Benar pah"
"Cari lah kebahagiaan mu, jangan ada lagi penderitaan, cari pasangan yang benar-benar tulus mencintai mu, papah selalu mendoakan mu nak"
"Papah akan pergi sekarang kah?"
"Benar papah akan pindah hari ini"
"Bagaimana dengan asisten mu pah?"
"Kalau dia mau mengikuti mu maka ambil lah"
Rindi melirik lelaki yang hampir sebaya dengan sang papah.
"Maaf nona, saya juga mau berkeluarga di desa yang dekat dengan tuan huni"
"Tentu"
"Hati-hati di jalan pah"
"Baik, jaga lah diri mu disini, hubungi papah jika kau rindu"
"Iya pah"
Mobil travel sudah datang semua asisten rumah tangga ikut membantu setidak nya untuk terakhir kali nya melepaskan tuan mereka setelah mereka mengabdi di keluarga Mukti selama hampir setengah abad ini.
Rindi dengan bahagia melambaikan tangan melepas sang papah untuk hidup bersama kenangan sang mamah. Betapa lelaki itu sangat tersiksa selama hidup nya, berkorban tanpa tahu hasil menyakiti sesuatu yang dia sayang agar tidak kehilangan lagi.
"Paman tidak kerja?"
"Kau datang, bagaimana pak tua Mukti itu?"
"Papah kan adik ipar paman"
"Ya begitu lah"
"Papah tidak mau bergabung atau tinggal dengan Arin tapi dia memilih pergi ke desa, dimana ketika pertama kali bertemu mamah di desa itu, begitu kata nya"
Sang paman memandang Rindu.
"Mungkin aku juga harus mengunjungi desa itu juga"
"Iya jika kita senggang memang harus"
"Melina sudah divonis hukuman seumur hidup, tapi tidak dengan putri kandung nya yaitu kakak tiri mu"
"Dia bukan kakak kandung ku, papah bilang dia anak mamah Melina dengan selingkuhan nya, papah menikahi mamah karena sudah menceraikan mamah Melina tapi mamah Melina tidak mau di ceraikan papah"
"Oh, begitu rumit si tua Mukti itu mendapatkan cinta dalam hidup nya"
"Benar paman"
"Lisa koma di rumah sakit, pantas mata-mata paman bilang ada lelaki tua yang menunggui diri nya di rumah sakit, takut juga Melina putri nya ku tarik bersama diri nya"
"Begitu kah?"
"Itu semua sudah berlalu Melina sudah bunuh diri di penjara dan kakak mu juga keguguran entah janin siapa?"
"Kok paman tidak kasih tahu berita nya lebih awal"
"Untuk apa? toh sudah tiga bulan lalu berita nya tersebar seiring pelelangan perusahaan"
"Oh iya juga ya paman"
"Akhir nya dengan penuh pertimbangan papah mu melelang perusahaan, awal nya mau menghidupkan kembali perusahaan keluarga Mukti"
"Lalu?"
"Ya di lelang begitu saja, begitu pun rumah awal nya di pertahankan namun 2 hari lalu di jual dengan kisaran rata-rata rumah nya"
"Kok seperti janggal"
"Mungkin dia mau seperti biksu yang mengasingkan diri"
Rindi menatap sang paman aneh.
"Paman bikin horor saja, mana ada papah jadi biksu"
"Sudah lah, profesor mu kemarin berkunjung dengan bocah Lucas itu"
"Terus"
"Mereka mau kau mengajar disalah satu universitas ternama begitu kata mereka"
"Tidak aku malas bertemu mereka setiap hari"
"Baik lah nanti paman sampaikan"
Rindi masuk ke lantas atas ke kamar nya untuk beristirahat karena waktu sudah siang hari.
"Tuan"
Di sebuah perusahaan raksasa seorang lelaki matang sedang duduk memainkan bolpoin nya itu.
"Ada apa?"
"Berita resmi perusahaan serta aset dari keluarga Mukti keluar dari jaringan bisnis resmi di umumkan"
"Baik lah"
"Anda tidak terkejut?"
Andra menggelengkan kepala nya.
"Aku sudah mendengar kerincuhan keluarga mereka, aku tidak tertarik"
"Tapi bukan kah?....."
"Tidak, pusatkan kekuatan kita pada pasar dunia, perluas area bisnis kita saja"
"Baik tuan"
Roy kita berita ini sangat menarik untuk sekedar dibahas oleh tuan muda nya. Nyata nya lelaki itu lebih tak tersentuh, kebiasaan nya berubah total meski tidak main perempuan namun tuan nya menyukai dunia malam sejak gadi belia dalam keluarga Mukti menghilang tanpa jejak.
BERSAMBUNG