TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.136


Rei tidak pulang ke rumah sang kakek, tapi pergi ke resort. Dino pun segera mengikuti bocah lelaki kecil itu.


"Tidak pulang tuan?"


"Tidak paman, nanti nenek curiga, lebih baik aku pura-pura tinggal di resort saja"


"Baik lah"


Dino pun memilih kamar yang ada di satu tempat resort yang diperuntukkan untuk pemilik resort itu.


Waktu berlalu dengan cepat Rei terbangun jam sudah menunjukan pukul 8 pagi hari.


"Sudah pagi rupa nya?"


Rei segera bangun, mencuci wajah nya lalu bergegas pulang ke rumah nenek.


"Sudah bangun tuan muda?"


"Ayo pulang paman"


"Kita pulang kemana?"


"Tentu saja ke rumah, memang mau kemana lagi"


Dino malas berdebat dengan anak tuan nya yang satu ini, lantas melajukan mobil nya menuju ke rumah keluarga Aryandy.


"Sudah sampai"


Rei turun tanpa berucap apa pun.


"Nenek, Rei pulang!"


Berteriak seperti menggunakan toa saja.


"Bagus lah kalau sudah pulang, ada tamu kau malah berteriak seperti Tarzan saja, memang nya rumah ini hutan"


Rei tidak sadar, dia segera menengok kesebelas nya, wanita paruh baya yang semalam menahan nya untuk pulang kini pagi-pagi buta sudah ada di rumah nenek nya.


"Aku keatas mau mandi nek"


"Sapa dulu tamu nya, dasar tidak sopan"


Rei mengucapkan salam lantas membungkuk, lalu bergegas ke lantai 3 untuk mandi dan rebahan sebentar.


Sudah 1 jam menunggu namun anak itu belum juga turun.


"Kenapa dia belum turun untuk sarapan"


"Biar Cinta saja yang membawakan nya sarapan mah"


"Baik lah cah ayu, pergilah"


Flashback on.


Tepat pukul 5 pagi Cinta membuka mata nya, dia tidur di ranjang sebelah suami nya. Namun ketika bangun putra bungsu nya sudah tidak ada di tempat semalam, sedetik kemudian, dia ingat anak itu pergi begitu saja.


"Kenapa?"


"Mamah kangen Rei pah"


Cinta menundukkan wajah nya, jika sudah begini istri nya pasti sangat sedih.


"Pergi lah ke rumah om Aryandy, bawa Raksa dan Riana kesana"


"Kak Raksa sudah 3 hari ini tidak muncul di rumah sakit papah"


Riana yang baru dari kamar mandi berucap.


"Kemana ank itu?"


"Oh iya betul pah, sejak kejadian kecelakaan itu loh"


Ucap Rieka membenarkan ucapan adik nya sambil menguap.


"Kak, bau tau ihh jorok"


Indri kebetulan berada disebelah Rieka.


"Kamu aja belum mandi"


Mereka seketika saling membuang muka.


"Sudah sana pada mandi dulu, terus sarapan, mamah ke rumah om Aryandy diantar supir saja pah"


"Bawa beberapa penjaga ya"


"Iya, tapi jangan terlalu mencolok"


"Siap Bu bos"


Aksara segera menyuruh beberapa orang untuk mengawal istri nya, juga mencari keberadaan putra sulung nya.


1 jam merias diri Cinta segera berangkat.


"Pah, kami juga mau keluar untuk shopping ya"


Ucap Indri menggandeng Riana, Riana hanya mendelik kesal.


"Ikuti kakak mu"


Ucap Aksara kemudian.


"Baik pah"


Kedua anak kembar perempuan nya itu sudah berlalu, hanya tersisa Rieka.


"Baik pah"


Rieka segera pergi ditemani Melki yang mengawal nya.


Drrtt....ddrrttt.


"Bicara lah"


"Tuan muda pertama datang ke club' terbesar sejak 2 hari lalu, begitu pun semalam"


"Lalu"


"Dia menyewa salah seorang wanita malam, untuk melayani nya semalaman"


"Dimana dia sekarang?"


"Dia belum keluar tuan"


"Baik awasi siapa saja yang bertemu dengan nya"


"Saya ada bukti nya tuan, saya kirim lewat email"


"Baik lah"


Aksara memeriksa email yang dikirimkan oleh mata-mata nya, lantas menyuruh mereka mengawasi seseorang yang semalam bertemu dengan anak sulung nya.


Waktu setempat masih menunjukan pukul 6 pagi namun wanita paruh baya sudah berkunjung ke rumah seseorang terkaya pula di negara Z ini. Siapa lagi jika bukan Cinta yang berkunjung ke rumah keluarga Aryandy, karena putra bungsu nya berada di rumah itu.


"Selamat pagi"


Nenek Aryandy menengok ke sebelahnya, wanita muda yang cantik menyapa nya. Nenek menyambut nya dengan ramah dan mempersilahkan wanita itu masuk.


"Kakek lihat ke ruang tamu siapa yang datang?"


Nenek berseru dengan bahagia. Kakek dengan cepat menggerakkan kursi roda nya, ya disana terlihat seseorang yang begitu dia rindukan namun tak pernah sempat untuk bisa bertemu.


"Nak"


Cinta menengok lalu tersenyum.


"Selamat pagi om, aku melihat foto kalian berempat sangat indah di lihat.


"Ayo duduk, jangn berdiri saja jika ingin melihat nya lebih lama, nah ini juga ada foto-foto Rei sewaktu masih bayi sampai usia 18 tahun"


Dengan cepat Cinta menerima nya, dia membuka satu demi satu helai tak terasa air mata Cinta mengalir dengan deras nya.


"Dia anak yang cerdas, saat kami tidak bisa pergi ke kota untuk membeli susu nya dia tidak rewel"


Ucap sang kakek mengenang ketika dia baru saja bertemu dengan Dino yang langsung koma saat setengah dari tubuhnya terbakar.


"Dia hampir tidak pernah menangis, dan saat masuk sekolah pun dia tidak menangis"


Ucap sang nenek menimpali.


"Maaf nak, kami tidak pernah punya kesempatan untuk mengembalikan dia pada mu"


Cinta mendongak, lantas mengangguk.


"Aku sangat bahagia menemukan nya sekarang, aku sungguh bahagia dia masih hidup dan baik saja"


Nenek Aryandy mengelus pundak Cinta yang bergetar, memeluk nya untuk menenangkan.


"Jangan khawatir, kami selalu memberikan dia yang terbaik nak, karena dia juga cucu kandung kami"


Awalnya Cinta terdiam, lalu melihat kearah kakek Aryandy.


"Maksud om apa ya?"


"Kau anak kandung kami"


"Kenapa bisa demikian?"


"Kau anak kandung kami, yang kami titipkan pada tetangga kami di samping rumah, karena kami akan bekerja ke luar negeri saat kau bayi hanya untuk 3 hari"


Kakek Aryandy menjeda ucapan nya sebentar.


"Hingga kejadian naas terjadi, rumah tetangga kami hancur tanpa sebab, semua identifikasi itu menyatakan kau ikut meninggal tanpa kami tahu jika kau masih hidup dan dibawa sepupu tetangga kami ke desa yang jauh, maaf"


"Lalu bagaimana kau tahu jika aku adalah anak mu?"


"Karena sebelum Karenina membuang kami ke hutan, dia memberitahu jika anak kami masih hidup di desa dan ikut kepala desa di desa itu"


"Benar nak, setelah kami mencari kami membawa foto mu, ternyata info dari mata-mata jika kau adalah istri tuan muda Alkatiri"


Cinta terdiam, pantas selama ini ayah nya tidak menyukai nya jadi dia bukan anak kandung mereka.


"Papah, mamah"


Kakek dan nenek Aryandy menyambut pelukan dari anak perempuan tunggal nya. Mereka menangis bersama.


"Maaf kami tidak mengenali cucu kami waktu dibawa Dino yang kebetulan kami temukan di hutan"


"Setelah Dino sembuh dia berkata jika itu anak bungsu mu, kami hendak ke kota namun Dino menemukan kabar jika kalian pindah negara"


"Benar mah, pah terimakasih karena sudah merawat anak bungsu ku"


"Kami orang tua mu itu sudah seharus nya, kami sangat senang bisa merawat bayi tampan yang nakal itu"


Ucap sang nenek tertawa.


Flashback off.


BERSAMBUNG.