TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.319


Sudah 2 Minggu Rindi di tinggalkan oleh suami nya, walaupun baru terhitung sebulan ini di nikahi Andra. Pria matang kata raya yang turun temurun dari garis konglomerat. Rindi tak pernah menyangka jika pertemuan nya dengan lelaki dewasa itu menjadikan bagian dari nya.


Matahari sudah mulai terbit dengan sinar gagah nya namun paman Adidharma belum melihat keponakan satu-satu nya itu.


"Bik, non Arin kemana?"


"Kayak nya belum bangun tuan"


"Bocah ini pada hal sudah bersuami sebulan lalu masih saja malas"


Paman bergegas naik ke lantai atas untuk membangunkan keponakan nya agar segera beraktifitas.


Tok.....tok.....tok.


Paman mengetuk pintu kamar milik keponakan nya, meski dia keponakan nya namun sudah menjadi menantu dan titipan dari keluarga Alkatiri suami Rindi.


Rindi yang berada di dalam kamar merasa terganggu pada hal masih sangat mengantuk sekali.


"Siapa sih masih pagi sudah mengganggu saja"


"Rin bangun........!"


"Iya sebentar paman"


KLEAK....


Rindi membuka pintu kamar nya, di depan kamar sudah berdiri paman nya.


"Kenapa paman?"


"Bangun sudah jam 7 nih, kamu tidak pergi ke kantor paman"


"Tapi aku lelah sekali paman"


"Tumben, malas"


"Arin masih ngantuk paman"


"Jadi mau ke kantor tidak?"


"Iya deh Arin mandi, nanti Anita yang supiri Arin ke kantor nya paman"


"Ya sudah paman duluan ke kantor, paman ada meeting pagi ya"


Rindi mengangguk, paman segera turun ke bawah. Disana sudah ada Anita yang menunggu nona nya.


"Kau sarapan saja dulu, nona mu sedang mandi"


"Baik tuan, hati-hati"


Anita dengan cepat duduk di meja makan menyantap sandwich dan segelas susu coklat hangat nya.


Dengan malas Rindi berendam agar tubuh nya segar, entah mengapa sudah 3 hari ini diri nya sangat malas beraktifitas bahkan mandi juga malas.


"Huh malas nya mau ke kantor"


Dengan lesu, Rindi menuruni tangga rumah milik paman nya. Anita yang memperhatikan nona nya itu, merasa aneh karena tak biasa nya nona nya sangat lesu hari ini.


"Nona sakit?"


Anita bertanya ketika nona nya mendekat kearah meja makan. Rindi hanya diam cemberut sambil menyendok nasi goreng.


"Nona.....!"


Anita dengan pelan memanggil nona nya.


"Aku lagi kesel aja"


"Apa karena tuan?"


Tanya Anita pelan pada nona nya. Rindi hanya menggelengkan kepala nya sebagai jawaban karena dia tak ingin berbicara entah karena apa hari ini malas dan kesal.


'Apa tuan ngomong yang tidak-tidak sama nona ya?'


Gumam Anita dalam hati.


"Hari ini, kau ikuti aku kemana pun ya Anita karena aku sangat malas sekali dan lagi aku sedang kesal"


"Baik nona, ayo nona sarapan dulu, nanti nasi goreng nya dingin akan tidak enak dimakan"


Rindi mengangguk, dia mencoba menyuapkan sesuap nasi goreng nya, mengunyah dengan perlahan dan merasakan rasa nya.


"Kok nasi goreng nya aneh ya?"


"Aneh bagaimana non?"


"Entah lah tak seperti biasa nya"


"Sebentar saya coba"


Anita mencoba nasi goreng yang di makan nona nya tentu di piring yang berbeda. Anita menyuapkan nasi goreng itu, terasa nikmat pas di lidah dan lagi sangat lezat.


"Bagaimana?"


Anita yang di tanyai nona nya menjadi bingung dan kalut entah harus menjawab apa.


"Ada apa?"


"Maaf nona, tapi menurut saya nasi goreng ini enak dan lezat, pas di lidah tidak asin atau pedas"


Rindi mengerutkan kening nya setelah mendengar jawaban dari Anita. Dia bingung sendiri, lantas menyuap kembali nasi goreng nya. Tapi tetap saja nasi goreng itu rasa nya tak karuan.


Rindi beranjak dari kursi nya di ruang makan itu.


"Nona susu anda belum di minum?"


Rindi berhenti sejenak, memandang susu coklat itu. Ada rasa tak ingin meminum nya tak seperti biasa nya.


"Aku tak ingin meminum nya"


Anita terdiam.


"Baik lah nona"


"Ayo kita berangkat saja"


"Baik nona"


Anita segera membukakan pintu mobil untuk nona nya, lalu dia sendiri duduk di kursi kemudi.


"Kita berangkat nona ke kantor?"


Rindi mengangguk dengan lesu.


'Ada apa dengan ku ini?'


Gumam Rindi dalam hati nya.


Dia bingung sendiri dengan perasaan nya karena ini sangat berbeda dari kebiasaan nya.


Tak berapa lama mereka sudah tiba di perusahaan paman Rindi.


"Sudah sampai nona?"


"Oh, iya ayo kita masuk"


"Baik nona"


Rindi pergi ke kantor perusahaan milik paman nya.


"Tuan besar sedang meeting nona"


Ucap salah seorang asisten paman nya.


"Iya aku tahu"


Rindi segera menuju ke ruangan kerja nya di perusahaan itu lantas duduk, lagi-lagi dia sangat malas membuka berkas yang ada di meja nya.


Di meja nya ada foto diri nya bersama Andra ketika menginap di resort milik Daddy Rei.


"Mas, aku kangen"


Ucap Rindi tanpa sadar mengelus foto Andra yang mendekap nya saat dia berdiri di balkon resort ketika sore hari.


Tentu Rindi sangat merindukan suami nya itu karena saat ini sudah 2 Minggu mereka berjauhan.


Meninggalkan Rindi yang sedang Rindu akan suami nya namun di seberang dunia lain seorang wanita cantik yang pernah menjadi kakak perempuan satu-satu nya itu sedang dalam masalah.


Ya Lisa kini sedang mondar-mandir, pasal nya Willian anak seorang pembisnis kaya raya itu akan menikahi nya.


"Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa menikahi pacar dari nona ku?"


Gumam Lisa dengan sangat gugup.


Tok.....tok.....tok.


"Masuk"


Seorang pelayan masuk ke kamar yang Lisa tempati sejak semalam.


"Nona ini makan siang nya, nanti 1 jam lagi temui tuan muda kedua tuan William"


"Ah, ba....baik lah"


Lisa gugup, bagaimana pun dia di negara asing tepat nya negara A. Dia terpisah dari negera asal nya dan tak bisa bebas karena seperti budak di negara ini.


Lisa melihat makan siang yang dibawa pelayan tadi, lengkap nasi dengan lauk ayam, tahu, ikan, sayur bahkan ada buah-buahan juga tersedia disana dengan segelas air putih.


Lisa segera menyantap makan siang nya dengan lahap, dia ingin menemui tuan kedua itu, karena tuan kedua pernah tidur dengan nya semalaman.


Lisa teringat peristiwa malam kemaren, dia yang sudah di operasi keperawanan serta tubuh nya di rawat oleh CARMEN LEWES menjadi kembali seperti semula. Lisa mendengus kasar, entah bagaimana cara nya ketika dia sampai di hotel yang di tempati lelaki itu.


Entah itu berkah atau kutukan, namun Lisa seolah jera, dia ingin bebas dari Carmen dan hidup dengan baik di negara A dengan identitas yatim piatu. Dia juga akan mengubur masa lalu kelam nya di negara Z.


Lisa menepuk jidat nya, dia hampir lupa kerena melamun dia harus menemui tuan Willian yang sering di sebut tuan kedua itu. Lisa berjalan ke lantai dua, disana sudah ada pelayan yang menyambut nya itu.


"Silahkan non Lisa"


"Terimakasih"


Lisa berjalan menuju balkon di mana lelaki semalam yang menggauli nya itu menunggu nya.


Lisa mengangguk, di melihat lelaki yang berusia sekitar kepala 4 namun masih sangat muda dan gagah.


"Maaf tuan karena sudah menunggu saya"


"Ah tidak apa, silahkan duduk"


Lisa dengan canggung duduk di seberang lelaki itu.


"Aku memanggil mu kemari karena ingin membicarakan pernikahan kita"


Deg....


Deg....


Jantung Lisa langsung berdetak tidak karuan karena kata PERNIKAHAN di sebutkan dalam pembicaraan mereka.


"Maafkan kelakuan ku semalam yang sudah menyakiti mu, maaf aku dibawah pengaruh alkohol dan obat hingga aku berbuat kasar pada mu, jadi aku......"


Belum lah selesai William berkata, Lisa menyela nya.


"Maaf tuan apa boleh saya berbicara"


"Silahkan"


"Saya hanya salah seorang pelayan dari nona Carmen, tuan"


"Lalu?"


"Saya rasa, saya tidak bisa menikah dengan anda, saya hanya seorang pelayan, lagi pula bukan kah anda berkata saat itu anda mabuk jadi anda melakukan nya tidak sadar"


Lirih Lisa menjelaskan.


"Lalu?"


"Sa....saya rasa kita tidak usah menikah tuan"


Dengan takut Lisa berkata di hadapan William, William memperhatikan wanita dewasa sekitar 30 tahunan itu. Dia melihat nya dengan seksama karena sedari tadi wanita di hadapan William itu hanya menunduk.


"Apa alasan nya?"


"Ma...maksud anda?"


"Apa alasan mu menolak ku menikahi mu"


Lisa terdiam, mulut nya seakan terkunci, dia ingin sekali berkata jika dia hanya ingin hidup tenang. Anggap lah Lisa kapok dengan semua perbuatan jahat nya yang terdahulu, sudah cukup karma nya menjadi orang rendahan, di rendahkan bahkan di buang oleh ayah kandung nya karena menolak menikah dengan seorang pembisnis tua.


"Kenapa kau diam?"


Lisa terjengkit kaget dari lamunan nya.


"Kau melamun saat aku sedang berbicara serius dengan mu?"


"Maaf"


Nampak Lisa gemetaran tubuh nya bisa William lihat karena keringat mulai bercucuran di kening wanita itu. William mengerti jika wanita di hadapan nya itu tak ingin di nikahi nya ada beberapa alasan mungkin. Terlebih dia adalah pelayan dari kekasih nya.


"Pergi lah ke kamar mu, jangan keluar tanpa ijin ku"


Lisa dengan segera bergegas masuk kembali ke kamar nya.


"Jaga calon istri ku itu, jangan biarkan dia kabur"


Titah nya pada para pengawal.


"Baik tuan"


William menuruni tangga terlihat sang Daddy sudah ada di dalam rumah.


"Dad baru pulang?"


"Tumben kau masih di rumah? Bagaimana urusan mu dengan wanita semalam?"


William nampak sendu.


"Ayo kita ke kolam belakang"


Daddy German mengajak anak bungsu lelaki nya untuk duduk di kolam belakang.


"Ada apa?"


"Wanita yang ku gauli semalam adalah pelayan milik Carme dad"


William menunduk sedih di hadapan sang Daddy. German hanya menghela nafas kasar, dia sudah memperingatkan putra bungsu nya agar tidak berhubungan dengan gadis nakal itu tapi Will tetap kekeh.


'Kurang ajar si Carmen berani nya memberikan anak ku pelayan nya untuk di tiduri'


German German mendengar jik baru saja anak kesayangan nya meniduri seorang pelayan.


"Lalu bagaimana?"


"Wanita itu tidak mau ku nikahi dad"


German mengerutkan kening nya mendengar penuturan dari William itu.


"Maksud nya dia meminta kompensasi begitu?"


William menggelengkan kepala nya.


"Dia tidak inginku nikahi karena dia hanya seorang pelayan"


German tersenyum miring, memang nya di jaman ini masih adakah wanita yang demikian.


"Bicarakan dahulu dengan tenang dengan nya, atau mungkin dia diancam oleh pacar mu atau punya tanggungan lain, Daddy serahkan keputusan ini pada mu karena kau yang akan menjalani hidup mu sendiri"


William mengangguk mendengarkan nasihat Daddy nya.


"Tapi jika kau mencintai wanita lain dan wanita yang semala kau gauli itu hamil kau bisa merawat anak nya atau bisa Daddy rawat jangan terlalu pusing"


William mendongakkan kepala nya, dia tersenyum mendengar ucapan Daddy nya.


"Jaman sudah modern, memang di negara A ini semua serba bebas, maka nya Daddy minta kamu berhati-hati takut nya tersandung masalah seperti ini"


"Iya dad"


William pun memikirkan jika dia akan segera mengajak kembali wanita yang bernama Lisa untuk berbicara secara baik-baik nanti malam.


Sementara di kediaman Lewes itu, seorang asisten nampak sangat terburu-buru menemui tuan nya di perusahaan.


"Tuan"


Seorang lelaki paruh baya berbalik kearah asisten nya.


"Ada apa?"


"Nona ketahuan membawa selingkuhan nya ke apartment yang dibelikan tuan William"


"Lalu?"


"Nona diseret dan di buang di pinggiran'


"Sudah kau jemput?"


"Sudah tuan"


"Bawa mereka kesini!"


"Baik"


Beberapa bodyguard milik tuan Lewes segera memasuki ruangan pejabat tertinggi itu untuk mengantar sepasang kekasih yang di buang di pinggiran kota.


Tuan Lewes memperhatikan anak gadis dan lelaki yang menjadi model yang sering berseliweran di layar kaca itu.


"Daddy!"


Teriak nya pada sang Daddy manja.


PLAAKK ....


Tamparan itu mendarat di pipi anak semata wayang tuan Lewes yang ada di hadapan nya.


"Kau tahu apa kesalahan mu hah?"


Carmen menunduk di hadapan Daddy nya, dia memang sudah salah karena terlalu mengumbar kemesraan dengan model lelaki yang tampan itu.


Tuan Lewes mencengkram dagu anak nya menghadapkan nya pada lelaki muda yang menjadi selingkuhan nya itu.


"Kau lihat dia apa yang bisa kau dapat dari lelaki itu!"


Meski sakit namun Carmen hanya diam, karena dia dahulu sudah pernah diingatkan oleh Daddy nya agar berhati-hati karena William adalah kunci kesuksesan mereka.


Lelaki selingkuhan Carmen mendadak lemas, seolah lutut nya tak bertulang, dia takut hidup nya akan segera berakhir.


"Tuan ampuni aku"


Lelaki itu bagaimana pun harus menyelamatkan nyawa nya terlebih dahulu dari monster di hadapan nya.


"Kau lihat bahkan dia ketakutan pada Daddy mu sendiri, apa lelaki lemes yang kau idamkan itu hah?"


Carmen menitikkan air mata nya.


"Bawa lelaki itu, buat identitas nya lenyap, kurung dia di ruang bawah tanah lalu buang ke pengasingan"


"Baik tuan"


Para bodyguard segera menenteng tubuh ringan lelaki yang menjadi selingkuhan dari Carmen.


"Ampuni dia Daddy, jangan lakukan itu Daddy, aku akan lakukan apa pun asal Daddy jangan menghilangkan nya Daddy, aku mohon!"


Carmen bersujud di depan Daddy nya itu.


"Ingat Daddy tak suka ini, bagaimana cara nya pun kau harus mendapatkan William kembali!"


"Baik Daddy, apa pun akan aku lakukan"


"Bagus!"


BERSAMBUNG.