TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.162


Herdan segera mandi agar tidak membuat curiga istri nya, dia juga menelpon seketika malam. Karena Herdan tak menginginkan Riana khawatir akan pertanyaan nya yang tiba-tiba, dia tahu jika Riana itu cerdas mampu menebak isi pikiran Herdan.


"Ada apa?"


Herdan hanya tersenyum manis di layar kaca itu.


"Apa kangen?"


Riana berbicara sambil sesekali melihat ke layar laptop.


"Sudah makan belum?"


"Tadi makan camilan saja"


"Jaga kesehatan sayang"


"Baik bos"


"Sayang Rei kemana?"


"Kenapa jadi merindukan Rei?"


"Heran saja dia tidak menghubungi mu akhir-akhir ini"


"Dia memang sibuk saat ini, jangan heran karena penyatuan dua perusahaan kakek dan papah"


"Begitu kah?"


"Tentu saja, selain itu perusahaan membutuhkan bahan baku jadi Rei mendirikan perusahan baru di bawah pimpinan pak Arto"


"Siapa pak Arto?"


"Cerita nya itu pak Arto adalah salah satu pekerja setia milik kakek Ukas Aryandy, 2 tahun lalu pak Arto minta pensiun dengan berat hati Rei mengantarkan sendiri pak Arto ke desa xx tapi disana ada tanah sengketa jadi singkat kata Rei membeli tanah itu lalu di bangun perusahaan sebagai penyetok bahan baku"


"Oh, kok aku tidak tahu sayang?"


"Kan sudah pernah dibicarakan tapi kan kamu sibuk sayang"


"Benar juga ya, ya sudah ini sudah malam selamat tidur ya"


Riana mengangguk lalu tersenyum dengan manis.


Herdan segera mengakhiri panggilan nya pada sang istri agar dia bisa beristirahat setelah seharian memimpin kantor sendirian tanpa Herdan temani di kota besar itu.


Herdan segera memanggil orang kepercayaan nya meminta data detail tentang keluarga nya itu.


"Bagaimana penyelidikan mu?"


"Hari ini nona tidak pergi kemana pun hanya menjaga nyonya besar, tuan"


"Apa adik ku bekerja?"


"Saya akan periksa ke perusahaan sekitar tuan"


"Baik tuan"


Sedangkan Rei sedang memeriksa dokumen-dokumen penting untuk disimpan dan dikirimkan ke bank penyimpanan supaya aman.


Tok....tok....tok.


"Masuk"


Aryos sudah berdiri tegak di hadapan Rei.


"Katakan?"


"Herdan Sanunjaya sudah berada di kota ini"


"Lalu?"


"Dia mencari seluruh detail keadaan dari nona Jasmin, tuan"


"Biarkan saja, toh kita sudah memiliki apa yang kita mau"


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Awasi setiap pergerakan setiap pihak saja"


"Baik"


Rei menelpon seseorang, dan dia segera bergegas ke tempat tersebut. Di jalan Rei melihat Herdan keluar dari sebuah hotel, Rei tersenyum smirk. Dia segera memacu kendaraan milik nya kesebuah rumah sederhana.


"Selamat sore"


Rei mengetuk pintu, tak lam pintu terbuka menampakan gadis cantik.


"Silahkan masuk tuan"


Rei mengangguk, lalu memasuki rumah sederhana itu, mungkin kehidupan mereka sangat miris namun itu semua bukan salah nya atau salah Rei. Salahkan tua Bangka Sanunjaya itu yang bisa memunculkan gadis cantik sebagai pengganti dendam nya.


"Bagaimana keadaan mamah mu?"


"Saya baik nak Rei, loh kok repot-repot bawa buah segala, Tante di tengok saja sudah beruntung"


"Tante bisa saja, ini hanya buah tangan yang tak seberapa"


"Ayo masuk, sebentar lagi malam kita makan malam bersama"


"Baik Tante"


Semua masakan sederhana sudah terhidang di meja, bau nya harum lagi menggugah selera dan membuat perut makin meronta untuk diisi.


Malam ini merek makan bertiga dengan lahap meski hidangan di meja makan sangat ala kadar nya namun terasa nikmat. Apa lagi sang mamah yang harus selalu menjaga pola makan sehabis pasca operasi.


BERSAMBUNG.