
Rei masih di resort, Rei ada kegiatan sepulang kuliah mulai dari hari ini. Maka dari itu otak bisnis nan cerdas nya itu berpikir untuk lebih menghidupkan resort tersebut.
Ddrrtt.....ddrrtt.
Rei mendial nomer ponsel seseorang, ketika tersambung.
"Hei, tumben menelpon ku?"
"Apa kau seorang anak walikota begitu sibuk?"
"Tidak"
"Kemari lah!"
"Kemari kemana?"
"Ke Resort King A"
"Kenap kita kesana? apa kau butuh liburan?"
"Jangan banyak tanya cepat kesini saja!"
Sambungan ponsel itu di matikan secara sepihak.
"Rupa nya sudah bertaring"
Gumam Ravenda, jangan ditanya jika Ravenda tahu semua kegiatan Rei. Dia sangat ahli dalam IT, hingga pekerjaan itu hanya membutuhkan jari jemari lentik nya menari diatas keyboard saja.
"Bos mau kemana?"
Ravenda yang berjalan menuju tempat parkir mobil di rumah nya sejenak terhenti.
"Kenapa memang?"
"Aku ikut"
"Ayo, sekalian kita refreshing aja"
"Memang mau kemana?"
"Bawel kaya emak-emak penunggu tukang sayur"
Aryos terdiam diri nya dikatai emak-emak, harus nya bapak-bapak kan pikir nya.
1 jam mereka sampai di sebuah resort mewah.
"Wah mewah sekali bos"
"Tentu"
"Kita mau berlibur disini?"
"Itu"
Ravenda menunjuk Rei yang sudah duduk di loby resort itu.
"Rei, jadi Rei yang mengajak liburan kita"
Namun Ravenda malas meladeni sahabat sekaligus pendamping nya itu. Ravenda segera menghampiri Rei.
"Hai bro"
"Sudah datang? duduk lah, pesan makan dan minum saja sambil mengobrol"
"Aseeek, gratis pasti"
Rei tersenyum, lalu mengangguk.
Tak terhingga Aryos memesan beberapa menu dan minuman, Ravenda melirik dengan ngeri ke sebelah nya.
"Yakin sebanyak itu habis?"
"Tentu, kau jangan khawatir"
Ravenda dan Rei saling pandang lantas tertawa bersama. Sedangkan Ravenda hanya memesan kentang goreng dan jus mangga kesukaan nya.
"Jadi?"
Ravenda langsung bertanya ke inti masalah nya.
Dengan tenang Rei berbicara.
"Uhuukk...Uhuukk"
Bukan Ravenda karena lelaki itu sedang menganga, itu suara batuk Aryos yang memakan steak daging nya dan tertelan tiba-tiba, mana potongan nya besar pula. Ravenda menepuk punggung Aryos dan menyodorkan minuman milik Aryos sendiri.
"Jadi resort ini milik mu!"
Dengan cepat Ravenda membungkam mulut Aryos.
"Mulut mu seperti toa saja"
"Aku kaget bos"
Rei tersenyum.
"Aku memanggil kalian, karena rencana kita yang akan mendirikan usaha"
"Benar, lalu apa rencana mu?"
"Bagaimana kalau kita bangun cafe, resto, food court juga yang harga nya standar, serta aku akan meminta pendapat kakek untuk Sabtu dan Minggu resort di buka untuk umum pengunjung yang bukan akan menginap juga boleh berwisata disini"
"Wooaaahh"
Ravenda dan Aryos bertepuk tangan.
"Brilian sekali ide mu Rei"
Mereka sibuk berbincang di sore hari, sementara keluarga Alkatiri dan Dimitri sudah puas untuk bermain di resort itu. Mereka pulang berjalan bersama menuju parkiran. Riana melihat ketiga lelaki muda itu sedang berbincang di loby resort karena sepi.
'Mereka adalah sahabat, itu anak lelaki pewaris tuan Ardana, aku tidak mungkin salah'
Gumam nya.
Ketika hendak mencapai parkiran mobil, tiba-tiba sang mamah berhenti.
"Pah, mamah mau ke toilet dulu"
"Kami tunggu disini ya mah"
"Iya"
Mamah Cinta begitu terburu-buru, hingga tidak menyadari ada seseorang di depan nya.
BUUKK........
Raksa yang melihat sang mamah sampai terpelenting karena ditabrak seseorang, segera berlari. Aksara yang melihat anak nya berlari segera mengikuti nya.
"Nyonya anda tidak apa-apa?"
Rei berjongkok hendak menolong wanita paruh baya itu. Cinta belum sadar, dan dia segera mendongak.
Deg....deg....deg.
Cinta tidak bisa berkata apa pun mata nya melotot, pikiran nya seolah entah kemana. Bahkan tangan nya hendak menyentuh wajah anak lelaki itu, betapa tidak wajah itu hanya di miliki suami nya seorang.
BUKKK......
"Rei....!"
Ravenda dan Aryos berlari mendekati Rei yang terpelenting karena ditendang seseorang. Rei tidak kesakitan sama sekali, sedangkan yang menendang memandang Rei dengan aura dendam yang berapi-api.
Cinta tentu sangat terkejut dengan tindakan anak sulung nya, hendak protes namun suami nya sudah hampir sampai ditempat.
"Kau menyakiti mamah ku!"
Dengan suara lantang, Raksa mengayunkan tinju nya ke perut Rei yang baru saja bangkit.
"Raksa...!"
Aksara berteriak memanggil nama anak sulung nya.
"Pah, dia melukai mamah"
Aksara mendekat ke tengah-tengah Rei dan Raksa. Sekarang Riana sudah melihat dengan mata kepala nya sendiri, begitu pun sang mamah. Bahkan Cinta sampai meneteskan air mata dan menutup mulut nya. Teman-teman Rei pun terkejut, demikian dengan keluarga Haris Dimitri.
BERSAMBUNG.