
Lisa sudah sampai di cafe bersama teman segeng nya. Lisa merasa teman segeng nya mulai membosankan.
Drrt...drrtt.
Ponsel nya menyala ada tanda panggilan, layar memperlihatkan Bayu.
"Iya"
"Ke puncak yuk?"
"Ada apa di puncak?"
"Lihat villa baru ku"
"Oke aku ada di cafe xx"
"15 menit lagi aku jemput"
Sambungan ponsel mereka terputus.
"Mau kemana Lis?"
"Biasa teman ngajak jalan ke puncak lihat villa yang dia bangun"
"Cewek apa cowok nih"
"Cowok lah, masa sudah dewasa main nya sama cewek aneh saja"
Lisa keluar cafe setelah menaruh dua lembar uang berwarna merah. Lalu pergi ke puncak bersama Bayu dengan mobil mewah nya. Sejam perjalanan mereka sudah sampai.
"Ayo turun!"
Bayu tak sabar menarik Lisa untuk turun.
"Kata nya ingin melihat pembangunan villa di puncak, kok sudah jadi?"
"Pembangunan apa? aku menyewa nya untuk destinasi karyawan Minggu depan"
Lisa sudah paham maksud Bayu, dia melangkah masuk ke villa tanpa ragu.
Mereka beberapa jam menikmati villa itu dengan bercinta secara intim tanpa ragu dan tidak memikirkan akibat nya untuk hari esok.
Sementara Rindi memperhatikan wajah tampan Andra, ketika lelaki berusia 32 tahun itu bekerja maka akan semakin tampan saja.
Andra tahu jika gadis itu memandang nya terus-menerus. Andra seorang lelaki yang tidak pernah berdekatan dengan wanita, tentu pandangan itu mempengaruhi kinerja otak nya.
Buka hanya memandang nya tapi juga gadis itu sibuk berkhayal dan tersenyum-senyum sendiri. Andra menjalankan kursi roda nya, dia mendekati gadis itu tanpa suara.
"Sedang lihat apa?"
Rindi kaget karena Andra sedang berada dekat diri nya.
"Bikin kaget saja! kok tidak ada suara kursi roda nya?"
"Melamunkan apa memang?"
"Aku kan sedang memandang mu"
Andra hanya tersenyum saja.
"Aku mau pulang dulu ya, besok aku datang lagi"
"Hati-hati di jalan"
Rindi mengangguk, sebelum keluar dia memandang Andra sejenak. Lalu gadis remaja itu bergegas keluar.
Tak berapa lama kemudian Roy masuk.
"Tuan ini proyek di titik E"
"Letakkan saja, nanti aku periksa"
"Apa tuan tidak ingin mengantar non Rindi?"
"Biarkan dia pulang sendiri, aku tidak ingin dia memiliki harapan yang besar pada ku"
"Tapi....jika dia serius?"
"Dia masih 18 tahun, tentu nya dia hanya remaja, itu wajar dia suka pada lelaki atau mengagumi lelaki, dia baru beranjak dewasa"
Roy mengangguk, dia segera keluar.
"Apa ini nomer nya Rindi?"
"Benar, ponsel yang saya belikan tempo hari karena tidak tuan pakai jadi buat non Rindi"
"Baik lah"
Rindi sudah di beri nilai 40 hanya tersisa 60 wajar ini usaha pengejaran pertama nya. Rindi tidak ingin buru-buru, dia ingin Andra menyukai nya perlahan. Rindi tak akan egois untuk masalah perasaan itu.
Rindi tidak langsung pulang, dia pergi ke restoran milik paman nya yaitu adik dari ibu kandung nya, namun paman itu hanya menyebutkan jika dia paman nya Rindi.
Dengan senang hati Rindi datang ke pusat kuliner itu, restoran mewah dan megah.
"Selamat sore paman?"
"Arin, kapan datang kenapa tidak mengabari paman terlebih dahulu"
"Arin sengaja"
"Bagaimana sekolah mu?"
"Arin sudah menerima kelulusan paman"
"Mau kuliah dimana?"
"Arin mau tidak melanjutkan ke kuliah?"
"Tapi kalau ketahuan papah pasti papah marah paman"
"Paman akan bicara ke papah mu, jika kamu bekerja di rumah paman bagaimana?"
"Apa papah akan percaya?"
"Tentu saja"
"Baik lah, Arin juga mau bekerja di restoran paman jika senggang boleh tidak?"
"Tentu boleh"
"Nanti apa Arin juga boleh ambil satu atau dua menu buat Arin, dan ijin juga kapan pun?"
"Kamu sudah besar dan cerewet juga ya"
Rindi tersenyum, paman sangat ramah dan baik selama ini. Tapi Rindi tidak tahu identitas paman ini selain paman nya.
"Ayo makan malam dulu nanti baru pulang?"
"Baik paman"
Sementara Andra sedang makan malam di sebuah resto di dekat mall. Dia melihat beberapa sahabat dari kakak angkat nya Alesa, mereka sudah jauh lebih tuan 5 tahun dan menjadi tante-tante geng sosialita di kota ini.
"Roy"
"Iya tuan"
"Selidiki tante-tante sosialita yang sedang berbelanja di butik di mall itu"
"Baik tuan"
Andra ingat ada beberapa teman Alesa saat kecil mereka juga menetap di desa yang sama, namun mungkin mereka bersuami atau ayah mereka membuka usaha di kota.
Tak berapa lama, Roy langsung kembali dengan segudang informasi.
"Ada 3 orang wanita itu dari desa xxx tuan, lalu mereka ada yang membuka usaha sendiri, ada yang orang tua nya punya perusahaan kecil di kota dan ada yang menikahi orang kaya yang tinggal di kota dan memiliki kontrak kerja sama dengan perusahaan kita"
"Bagus, dekati dari yang dekat dulu, pancing informasi nya"
"Baik tuan"
Tak ada alasan untuk membenci sang Daddy sekarang menurut Andra, jika masalah kedua orang tua nya itu masalah takdir. Saat ini yang harus Andra kupas adalah mengenai kematian kakak angkat nya Saputri Alesa.
"Tuan saya ke toilet sebentar"
"Pergi lah"
Sepeninggal Roy, Andra terlihat sendirian di resto itu sedang menghabiskan makan malam nya dengan santai.
Lisa yang melihat Andra sedang makan sendirian langsung duduk di depan lelaki itu.
"Selamat malam pak Andra?"
Andra mendongak mendengar sapaan dari seorang wanita yang suara nya saja Andra jijik.
"Kamu.....!"
"Maaf saya duduk tanpa permisi, oh ya pak apa bisa di pertimbangkan lagi proyek nya"
Andra terdiam.
"Maaf saya sedang makan dan sibuk nanti jika ada waktu akan saya periksa"
"Apa bisa mentraktir saya minum jus?"
Lisa mengelus pergelangan tangan Andra yang kokoh. Seketika makanan yang Andra telan ingin keluar lagi. Andra segera memanggil pelayan untuk menyediakan pesanan yang Lisa minta.
"Saya pulang dulu, maaf lain kali saja mengobrol nya saya sibuk"
Andra berlalu menjalankan kursi roda nya menuju lobi resto itu.
Roy segera datang dari toilet, dan membawa mobil. Andra segera melaju menuju rumah nya untuk beristirahat setelah selesai makan malam. Pada saat yang sama Rindi juga pulang naik bus kota, dia melihat mobil lelaki itu melaju bersebelahan dengan bus yang dia tumpangi itu.
Sampai di rumah sekitar pukul 9 malam. Rumah keluarga Mukti nampak sudah sepi.
"Dari mana saja, sudah malam baru pulang?"
Ucap Afar yang sedang mengerjakan laporan pemasukan bulan perusahaan untuk bulan ini.
"Main ke rumah teman sekalian cari kerja"
Jawab Rindi.
"Alesan saja main ke rumah teman pada hal kelayaban"
"Memang tidak boleh ya?"
"Awas nanti keenakan main Sam lelaki hidung belang"
Ucap Lisa sambil pergi ke kamar nya.
Rindi melihat kakak nya masuk ke kamar tidur nya dengan memperhatikan gaya berjalan nya itu.
"Selamat malam pah"
Afar melihat putri bungsu nya itu, dia nampak lelah. Mungkin benar Rindi mencari kerja, maka Afar biarkan saja karena Rindi tak ada nilai nya saat ini.
BERSAMBUNG.