
Andra melihat ruang tamu sudah penuh, entah ada masalah apa dengan mereka. Andra hanya bergabung dengan mereka, dan duduk bersama di mana hanya Daddy lah keluarga Andra.
"Avin, kau sudah datang?"
Ucap sang Daddy yang baru turun dari kamar nya.
"Daddy, ada apa ini?"
Tanya Andra karena diri nya tidak tahu menahu.
"Mamah mu mendapat laporan dari Sisi dua hari lalu kau setuju untuk menikahi nya"
Ujar Daddy, lalu menyuruh Andra duduk di sebelah nya agar lebih mudah berkomunikasi. Aditya dan Camelia juga hadir disana karena mereka ingin ambil bagian untuk mendesak Andra.
Andra mengerutkan kening nya, lantas menatap wanita itu yang sering datang ke kantor nya Minggu terakhir ini. Sisi menundukkan kepala nya, dia merasa terintimidasi hanya dengan tatapan seorang Andra saja.
"Benar saat malam Minggu kau setuju untuk menikahi ku mas Arvin"
Ucap Sisi.
Andra tersentak, seingat nya dia tidak pernah berjanji pada siapa pun.
"Daddy tahu kau bukan remaja atau pun lelaki yang mau menginjak dewasa, Daddy tahu usia mu sudah matang nak"
Andra terdiam mendengarkan Daddy nya, sementara kedua orang tua Sisi berbisik juga yang lain nya menantikan keputusan yang menyenangkan dan mengangkat derajat mereka.
"Usia mu matang jadi Daddy tidak berhak mengarahkan mu lagi pula kedua kakak adopsi mu juga semua nya telah berkeluarga"
"Lalu?"
Andra terlihat masih bingung, dia tidak tahu kemana arah pembicaraan Daddy nya.
"Kau sudah pada tahap serius pada Sisi dengan keintiman kalian, jadi jangan mencari gadis lagi, nikahi Sisi"
"Kenapa mendadak dad? kita belum mengenal lebih dekat hanya pergi beberapa kali saja"
Ucap Andra setenang mungkin.
"Pergi beberapa kali! belum saling mengenal, lalu bagaimana dengan janin yang ada di dalam perut Sisi itu hah!"
Elian naik pitam, dia bangun dan berkata dengan lantang. Sementara Andra hanya menatap wanita itu. Roy hendak berkata dan membela tuan nya itu.
"Duduk kembali Roy, ingat posisi mu"
"Maaf tuan"
"Betul ajari lah anjing setia mu itu untuk tidak menggonggong sembarangan"
Ucap Elian.
"Cukup mah, kita disini membahas masalah bukan mendengarkan mu marah-marah, Roy itu asisten Arvin kedudukan nya sama dengan Aditya"
Deg.....
Mata semua orang terbelalak, jadi Roy sudah dianggap sama dengan Aditya anak tersayang adopsi milik Elian.
"Pah, tentu tidak sama, Aditya dan Camelia adalah anak adopsi kita"
Ucap Elian tidak ingin anak angkat nya memiliki derajat yang sama dengan budak setia milik Andra itu.
"Cukup!"
Semua nya terdiam.
"Mah sudah lah, memang benar apa kata papah, apa lah arti nya status kita kan kita satu keluarga"
Aditya menenangkan mamah adopsi nya, sementara Camelia mengelus lengan mamah tersayang nya itu.
"Jadi kita lanjutkan, bagaimana Avin tentang pendapat mu?"
"Siapkan saja prosesi nya, lagi pula kita tidak akan terburu-buru menikah, jadi bisa bertunangan dahulu"
Sisi hendak protes namun di cegah oleh papah nya.
"Baik nak Arvin kami sudah mendapatkan jawaban mu, kami sangat senang kami pamit undur diri dulu"
"Baik lah pak Braja, nanti untuk acara dan persiapan semua nya itu akan kita perhitungkan sambil jalan"
"Baik tuan Aryandy, selamat malam semua kami pamit dahulu"
Semua keluarga Braja pamit undur diri mereka segera bergegas pulang. Sisi nampak cemberut, karena dia ingin menikahi Andra secepat mungkin, bukan tanpa alasan karena kandungan nya sudah berusia dua bulan.
"Ada apa? kenapa kau cemberut?"
Mamah Sisi mengajukan pertanyaan pada putri nya itu.
"Kenapa papah menerima untuk bertunangan dahulu?"
Ucap sang papah.
"Papah kan tahu pah, bagaimana keadaan Sisi, kenapa harus memperlambat pernikahan"
Ucap Sisi berapi-api.
"Benar itu pah, kita paksa saja mereka langsung menikahi Sisi bila perlu malam ini"
Ucap sang mamah.
"Apa kau bodoh hah! mereka bisa lebih curiga, kita pihak wanita kau jangan lupa mah, pihak lelaki yang menentukan kalau kita terlalu memaksakan kehendak takut nya mereka akan berbuat sesuatu ingat latar belakang anak itu dan keluarga besar nya"
Ucap papah Sisi menjelaskan, memang otak anak gadis dan istri nya dangkal hanya fokus pada harta saja.
"Bener juga ya"
"Nah mikir, meski pun keadaan nya genting lihat situasi dahulu, kalau kita elegan mereka juga akan segan"
Lanjut sang papah memberi pengertian.
"Tapi pah........"
"Diam kau, setelah Arvin menikahi mu kau bisa mengugurkan anak lelaki sial itu, cari cara buat keguguran mengerti!"
"Iya pah"
Sisi hanya bisa pasrah, dia tak mengira jika malam 3 bulan lalu saat ke bar bersama pacar nya dia mabuk. Dia yang sudah mabuk berat tidak melihat orang sehingga mengira yang melakukan malam panas bersama nya itu adalah pacar nya. Dia hanya asal mengaku pada sang papah sehingga mencari lelaki itu dan menghajar nya hingga cacat.
"Kau harus merawat diri mu, agak tidak lusuh jangan menuruti hawa bayi"
"Iya mah"
Mereka sudah sampai di rumah dengan baik.
Sementara Andra sudah kembali ke rumah nya, dia sedang memandang bintang di langit.
"Tuan, anda belum tidur?"
Andra hanya melirik Roy.
"Apa tuan akan menikahi non Sisi?"
"Aku tidak menghamili nya, dia wanita liar, cari tahu kehidupan nya dari 6 bulan lalu"
"Baik tuan"
"Pergilah istirahat, sebentar lagi aku akan masuk"
"Baik tuan"
Andra masuk ke kamar nya setelah makan malam yang begitu telat. Sementara Rindi sedang memandangi nomor milik Andra. Dia kembali menyimpan nya.
Tok.....tok....tok.
"Non, turun dulu untuk makan malam"
"Baik bi"
Rindi sudah mandi, dia segera turun. Rindi lebih banyak tinggal bersama paman nya hanya saat hari libur Rindi akan pulang ke rumah ayah nya.
"Selamat malam paman"
"Selamat malam sayang"
Rindi memandang semua menu itu, semua yang tersaji di meja memang menu kesukaan nya namun Rindi tak punya selera.
"Duduk kenapa bengong? ayo kita makan malam"
Rindi mengangguk, dia menyeret kursi d dekat paman nya itu. Paman memperhatikan keponakan kecil nya, mata gadis itu masih sembab. Rindi terlihat mengaduk-aduk makanan nya saja tanpa.menyuapkan kedalam mulut nya.
"Apa makanan nya tidak enak? bisa ganti menu"
"Tidak kok, tapi Arin lagi malas makan paman"
"Kau harus menjaga kesehatan mu, jangan sampai sakit, jaga kebugaran, kalau bosan bisa ke restoran atau ikut paman ke kantor"
"Baik paman"
"Ya sudah lanjutkan makan mu, paman sudah selesai, paman ke kamar dulu ya"
"Iya"
Paman Rindi mengelus kepala keponakan cantik nya lantas segera memasuki ruang kerja nya guna mengecek pekerjaan nya.
BERSAMBUNG.