
Cinta dibawa Aksara kembali ke ruang rawat nya, agar segera beristirahat. Meski kandungan nya baru beranjak ke bulan ketiga tapi perut nya sudah menonjol karena di perkirakan mengandung beberapa bayi.
"Aku masih bisa menemani mommy"
"Aku tahu sayang, tapi kamu jangan lupa kamu juga perlu menjaga mereka"
Cinta dengan segera mengangguk sambil membeli perut nya yang agak membuncit dan tersenyum dengan cantik. Aksara tahu jika istri nya sedikit tidak memikirkan beban itu dan itu yang membuat Aksara juga sedikit lega.
"Berbaring lah, biar aku selimuti kamu sayang"
Aksara duduk disebelah ranjang istri nya.
Drrttt ......drrtt.
"Aku angkat telepon dulu ya"
Cinta hanya mengangguk, seraya memperhatikan sang suami yang sibuk dengan ponsel nya.
Klik.
"Iya katakan?"
"Mommy apa benar dia.....?"
Suara lelaki muda disebrang sana tercekat meski tak terdengar namun Aksara yakin jika sepupu nya itu menangis. Lelaki cengeng itu pasti sudah menumpahkan air mata nya.
"Benar, boleh minta tolong pada mu?"
"Katakan kak?"
Ya telpon itu dari Haris yang berada di benua sebrang sedang menemani istrinya Rista menjalani pengobatan.
"Aku akan mengirim mommy pada mu, setelah semua selesai kalian semua akan ku jemput"
Ucap Aksara dengan tegas langsung ke inti masalah nya.
"Baik kak, kau segera selesaikan masalah mu, Rista disini juga sudah mulai menunjukan sisi normal nya"
"Baik lah, aku akan segera mengirim mereka menggunakan jet pribadi"
"Baik"
"Akan ada beberapa pengawal, pekerja, juga penjaga yang ikut"
"Baik kau atur saja semua nya"
"Baik lah, berhati-hati lah disana"
Tut.
Ponsel dimatikan sambungan terputus Aksara benar-benar sudah memikirkan kesehatan kedua orang tua nya.
Tok.....tok.
"Masuk"
Nampak ketiga orang suster masuk ke ruang perawatan untuk memeriksa pasien.
"Ada apa perawat?"
"Kami akan memeriksa nyonya"
"Kalian pergi lah, jika butuh ku panggil"
"Tapi ini jadwal periksa nyonya tuan"
"Ini masih kurang 15 menit, dan kenapa muka kalian ditutupi!"
Ketiga perawat itu langsung mundur perlahan.
"Tuan kami perawat ini sesuai prosedur"
"Baik lah silahkan maju"
Mereka ketiga nya saling pandang lantas siap untuk maju.
"Cepat panggil dokter yang asli disini ada perawat gadungan"
"Tuan kau sudah menolak petugas kesehatan"
"Aku menolak kematian bukan menolak pemeriksa kesehatan"
5 menit kemudian beberapa dokter datang, juga beberapa perawat. Pengawal Aksara segera meringkus ketiga perawat tadi.
"Serahkan mereka ke polisi"
"Baik bos"
Ucap dokter juga perawat yang secara serentak membungkukkan badan mereka.
"Tidak apa, aku hapal kontrol perawat itu selalu jam segitu"
"Terimakasih tuan anda sudah lebih waspada"
"Ya cepat periksa istri ku, karena dia akan beranjak istirahat"
"Baik"
Cek kesehatan rutin dilakukan beberapa perawat juga dokter yang memantau.
"Melki"
"Saya tuan"
"Dimana Dino?"
"Di ruangan tuan dan nyonya besar tuan"
"Baik lah, masuk lah dan jaga istri ku sebentar aku harus ke ruangan orang tua ku"
"Baik tuan"
Aksara segera keluar ruang rawat istri nya, setelah menengok wanita nya sudah terbuai ke alam mimpi.
Klek.
Daddy Ditya juga Dino yang berdiri disampingnya itu menengok.
"Kau sudah kembali"
"Dad"
Aksara sungguh sangat sedih melihat Daddy nya lelaki panutan nya selama ini begitu rapuh.
"Dino pergi ke ruang rawat istri ku"
"Baik bos"
Dengan segera Dino pergi ke ruang rawat nyonya muda nya, karena tuan muda nya sedang berada di ruang rawat tuan dan nyonya besar nya. Setelah kepergian Dino, Aksara segera mendekati Daddy nya. Dia sejenak memandang sang Daddy seraya menepuk bahu lebar lelaki paruh baya itu dan mengajak nya berbincang di sofa tunggal yang tak jauh dari brankar sang mommy yang terbaring koma itu.
"Dad, bisa kita bicara sebentar?"
Daddy Ditya mengangguk, mengikuti langkah putra tunggal nya. Merek duduk bersisian, Aksara bisa merasakan raut kesedihan yang terdapat pada Daddy Ditya itu.
"Dad, maaf sebelum nya"
Aksara menundukan kepala nya di samping sang Daddy, Daddy Ditya hanya terdiam mendengarkan saja.
"Katakan"
"Aksara berencana mengirim mommy dan Daddy ke benua dimana Haris dan Rista sedang berobat"
Daddy Ditya mengangguk.
"Yang kedua, ini karena musuh itu kemungkinan sama, Aksa tidak bisa menjaga kalian secara bersamaan dad"
"Daddy mengerti, istri mu sedang hamil dia tidak bisa pergi dengan penerbangan udara beresiko dengan keguguran apalagi cucu kami tidak hanya satu"
"Benar jadi Aksa bermaksud mengirim Daddy menemani mommy untuk berobat"
"Daddy mengerti, kapan akan mengirim kami kesana, lagi pula mungkin Daddy butuh suasana liburan ketika mommy mu sembuh Daddy akan ajak dia liburan hitung-hitung menikmati hari tua berdua"
"Benar"
Mereka berdua saling berpelukan dengan erat, ayah dan anak itu sungguh akrab.
"Setelah ini, jagalah dengan baik istri mu, berhati-hati lah nak"
Aksara hanya bisa mengangguk, seumur hidup baru akan pergi jauh ditinggalkan kedua orang tua nya.
"Maaf dad"
"Ini sudah benar, ini untuk kebaikan kita semua"
"Lusa sore kalian berangkat dari sini, nanti ada beberapa pengawal, pekerja, juga penjaga bahkan beberapa dokter juga akan menemani kalian"
"Daddy mengerti, sekarang istirahat lah, kau temani istri mu"
"Iya dad"
Aksara segera kembali ke ruang rawat istri nya setelah memanggil Dino untuk kembali berjaga.
BERSAMBUNG.