
"Bagaimana?"
"Nyonya bertemu dengan tuan Herdan"
"Baik lah, kembalilah menjaga Elian dia sangat tidak profesional"
"Baik tuan"
Aryos kembali ke perusahaan, sementara Rei mencoba untuk lembur. Jujur dia juga tidak ingin menghadapi Min, memang rencana awal nya menjebak gadis itu. Nun ketika Rei ingin memberitahukan yang sebenar nya pada Min atau berdamai dengan masa lalu Elian keburu datang. Parah nya lagi gadis itu mengucapkan rahasia yang seharus nya di simpan rapat.
Min sudah sampai di villa, meski hujan tak lebat namun membuat pakaian nya basah.
"Nyonya, anda kehujanan"
Paman James menyambut nyonya rumah nya.
"Tidak apa paman, aku tidak enak badan jadi minta curi pulang, tidak tahu nya tidak ada kendaraan yang mau naik jadi terpaksa jalan kaki"
"Apa perlu saya panggilkan dokter nyonya"
"Tidak usah paman James"
"Tapi anda pucat sekali nyonya"
"Ini hanya masuk angin biasa saja paman, aku naik keatas dulu"
"Baik lah, nyonya"
Paman James memperhatikan sang nyonya, pucat juga kelihatan lelah sekali.
"Ada apa James"
"Kau mengageti ku saja, Annete"
"Kau nampak bengong seperti lelaki madesu saja"
"Apa itu madesu?"
"Masa depan suram"
Paman James pun berdecih karena tingkah Annete seperti anak ABG saja.
telepon villa milik Rei berdering, paman James mengangkat nya.
"Iya tuan"
"Apa nyonya sudah di tiba di villa?"
"Benar, beliau baru saja naik, tapi tadi baju nya basah kuyup, dia bilang tidak apa-apa pada hal wajah nya pucat"
"Baik lah, jaga dia, aku ada urusan malam ini"
"Baik tuan"
Sambungan di matikan.
"Annete masak lah sup penghangat tubuh"
"Baik lah James"
Sementara Min kini sudah berendam dengan air hangat sesuai yang dia ingin kan, bahkan Min hanya menambahkan sedikit saja air dingin. Entah mengapa akhir-akhir ini tubuh nya merasa lelah juga kebanyakn tidak mood. Dulu Min tidak pernah memilih makanan, namun sekarang di sangat pemilih bahkan cenderung suka asam juga pedas.
"Segar sekali, sebaik nya aku memakai minyak aroma terapi untuk menghangatkan badan"
Min baru saja membeli nya di apotek terdekat, Min selesai mengoleskan lalu memakai pakaian sedikit tebal membuka jendela. Dia juga tidak menyalakan AC hanya filter ruangan dari bakteri saja.
Tak berapa lama Min sudah tertidur dengan pulas, tak terasa hingga jam 7 malam Min belum juga bangun.
Klek.
"Tuan sudah pulang?"
"Benar, apa nyonya sudah makan malam?"
"Dari pulang tadi sore jam 3 sore, lalu naik ke kamar dan belum turun sama sekali"
Rei menengok melihat wajah James lelaki yang sudah berumur itu menunduk.
"Mungkin dia lelah, aku naik sebentar nanti kamu siapkan makan malam nya"
"Baik tuan"
Rei beranjak menuju kamar nya, kamar pun terlihat gelap bahkan lampu tidur tak di nyalakan, jendela masih terbuka.Tapi filter ruangan menyala, Rei mendekat.
"Gadis bodoh ini, aku sudah memakan bekal ku sendiri tanpa mu, sekarang dia dengan pulas tertidur"
Rei mengelus wajah istri belia nya itu, lantas segera pergi ke kamar mandi.
1 jam Rei berendam, hingga pukul 8 malam. Min tiba-tiba terbangun, perlahan membuka mata dan merasa silau karena lampu semua nya menyala.
"Silau sekali"
Min teringat dia membuka jendela, karena masih sore maka tidak menyalakan lampu. Sekarang lampu begitu terang, bahkan jendela sudah tertutup rapat. Min juga mendengar gemerisik air dari kamar mandi mereka.
"Seperti nya si om sudah pulang"
Tak lama Min berucap demikian, Rei keluar dari kamar mandi.
"Sudah bangun? lihat sudah jam berapa?"
"Kalau merasa tidak enak badan habis mandi itu makan lalu baru istirahat"
Rei menuju lemari pakaian nya, mengambil satu setel pakaian lengkap.
"Jangan membuat orang lain khawatir"
Rei memandang Min, mata mereka bersirobok. Min segera menundukkan kepala nya, dia tidak mampu menatap suami gamang nya itu.
"Ayo turun, untuk makan malam"
"Baik"
Rei berjalan lebih dulu, sedangkan Min mengekori lelaki itu. Sampai dimeja makan Min mengisi piring Rei dengan nasi putih.
"Mau lauk apa?"
"Ambilkan daging bumbu, sayur tumis bayam, lalu brokoli kukus"
Min segera mengambilkan permintaan Rei.
"Mau sup tidak?"
"Sup bening"
Lalu setelah mengambilkan sup, Min juga menuangkan air putih. Min mengisi piring nya sendiri, kali ini menu makanan dimeja nampak tidak ada yang menggugah selera.
"Kenapa mengambil sedikit? apa tidak enak badan?"
"Nanti kalau mau makan juga aku akan nambah"
Rei melihat Min yang makan sambil menunduk itu.
'Gadis bodoh ini, apakah begitu hebat menyembunyikan kesedihan nya?'
Gumam Rei dalam hati karena Min bersikap tidak seperti biasa nya.
"Masalah yang dikatakan Elian tidak usah diambil serius"
Min mendongak.
"Baik"
Lirih nya dengan senyum manis seperti biasa nya.
"Wanita itu dalam keadaan emosi, jadi perkataan nya hanya emosi sesaat"
"Iya, aku mengerti om"
"Makan lah dengan tenang, aku sudah mengajarkan tata krama pada gadis itu, mungkin aku salah mendidik nya dengan menyekolahkan nya di luar negeri lagi pula aku terlalu memanjakan dia sehingga kurang disiplin"
"Min mengerti om, Min masuk ke kamar dulu"
"Mau di buatkan camilan apa, minta saja ke paman James"
"Iya"
Mereka sudah selesai makan, Rei dengan cepat bergegas mengambil jaket dan menyetir mobil keluar dari villa. Sebelum berangkat Rei berpesan agar James menjaga Min. Rei mengendarai si hitam milik nya, melambangkan sang raja dari dunia yang pernah di miliki sang opa nya.
"Tuan"
"Bagaimana dia?"
"Sudah di interogasi dan sudah mengaku"
"Begitu mudah nya, apa motivasi nya berbuat demikian?"
"Dia hanya ingin kebebasan, dia bersedia menghilang dari hadapan tuan"
"Begitu kah?"
"Benar"
Aryos membawa Rei ke sel tahanan milik nya sendiri. Rei memperhatikan dari kaca dua arah, kaca itu terlihat sebagai hiasan dari sisi Elian berada, namun dari sisi Rei dapat memantau pergerakan nya.
"Baik, buang dia ke hutan belantara diseberang gunung"
"Siap laksanakan tuan"
Aryos memerintahkan beberapa anak buah nya mengendarai jip khusus. Mereka menuju ke hutan yang di maksud, sementara kepala Elian di tutup dengan karung.
"Aku mau kalian bawa kemana?"
"Kau tenang saja nona, tuan sudah menyuruh kami mengantarkan mu ke jalanan agar kau bisa segera terbebas"
"Benar kah?"
Elian begitu bahagia, sementara Aryos tersenyum devil di buat nya.
'Wanita bodoh, bahkan peliharaan pun tidak akan tuan kawal sebanyak ini untuk melepaskan nya, harus nya kau sudah menebak kalau kau akan binasa di hutan itu'
Gumam Aryos dalam hati, jijik ketika wanita yang harus nya mendampingin tuan nya malah ingin menjadi ratu dari tuan nya itu.
'Sudah untung tidak diberikan pada kesayangan tuan, dan dilepaskan ke hutan itu, jika masih meminta lebih mungkin lebih mengenaskan sisa hidup nya itu'
Lanjut Aryos sudah muak dengan ekspresi wanita yang kepalanya di tutup karung itu.
BERSAMBUNG.