
Hampir 45 menit Rindi di toilet, dia mencuci wajah nya dengan air dingin lantas keluar dengan muka yang segar.
Klek....
Rindi masuk ke kantor paman nya, sang paman pura-pura gak melihat jika keponakan kecil nya itu patah hati.
"Sudah selesai?"
"Aku gak jadi bantu, perut aku sakit ini dari toilet"
"Oh, maka nya jangan sok punya tenaga buat bantuin, cape kerja di restoran tuh"
Rindi langsung duduk di sofa menyalakan televisi di ruang kerja paman nya lantas mengambil camilan dan minuman.
Sudah jam tiga sore, paman Rindi segera bangkit dari kursi kerja nya.
"Mau ikut paman atau pulang ke rumah papah mu?"
"Ikut paman pulang, Rindi mau berenang"
"Ayo"
Rindi melihat jika mereka telah pergi dari restoran paman nya.
"Ada apa?"
Rindi menggeleng.
"Kok sedih"
"Perut Rindi mules paman"
"Oh mau ke dokter?"
Kembali Rindi menggelengkan kepala nya.
"Ya sudah nanti berenang ditemani bibi ya"
"Gak usah kan cuma disamping"
"Baik lah, kamu berenang lah paman mau istirahat, jangan kelamaan berenang nya"
"Iya"
Sementara Andra satu jam lalu sudah pergi dari restoran itu.
"Anterin aku belanja yuk?"
"Oke"
Andra membawa Sisi pergi ke mall besar di kota itu, mereka berkeliling membeli tas, sepatu, baju dan beberapa perhiasan juga.
"Ah, lelah sekali"
Ucap Sisi ketika mereka hendak kembali di perjalanan.
"Dimana rumah mu?"
"Di gang depan itu"
Roy mengemudi perlahan karena tujuan mereka sudah dekat.
"Apa disini?"
"Iya itu rumah ku, ayo kita masuk dulu"
"Tidak usah, lain waktu saja, aku sedang sibuk"
"Hem, baik lah, kalian hati-hati"
Setelah Sisi masuk ke dalam rumah, Roy segera memutar mobil nya melaju kearah sebalik nya.
"Ke kantor atau pulang tuan"
"Kantor"
"Baik"
"Non Sisi cantik ya tuan, dia wanita dewasa, elegan dan ceria"
"Apa menurut mu, dia cocok untuk ku?"
"Benar"
Lantas tak ada lagi perbincangan diantara kedua nya.
Roy mempercepat laju nya hingga hanya 45 menit sudah sampai di kantor. Para pekerja yang lain sudah pulang tinggal beberapa diantara nya yang tersisa.
"Kerja kan urusan mu sendiri"
Mereka berpisah di depan ruang kantor Andra, Andra masuk ke ruang kantor nya sendiri.
Kreekk.....
Andra masuk lalu kembali menutup pintu ruangan nya, disana dia melihat 3 box makan siang. Dia melihat box itu, dia merasa tidak memesan nya.
"Jadi dia datang kesini?"
"Roy"
Roy datang dengan segera.
"Iya tuan"
"Panggil satpam yang berjaga tadi pagi dan siang!"
"Baik tuan"
Roy bergegas memanggil satpam agar menghadap.
Tok....tok....tok.
"Masuk"
"Tuan memanggil kami?"
"Siapa yang mengantar kotak makan siang ini"
Mereka berdua saling pandang.
"Nona yang setiap hari datang sebelum jam makan siang tuan"
"Kenapa tidak dibilang kalau saya tidak di ruangan"
"Maaf tuan, saya kira tuan akan kembali sebelum makan siang!"
"Kapan dia pulang?"
"Selesai jam makan siang selesai"
"Apa ada pesan untuk ku?"
"Tidak tuan, nona itu hanya pergi naik bus setelah menyapa kami"
"Baik lah, kembali bekerja"
"Baik tuan"
Andra terdiam, gadis itu selalu datang ketika akan jam makan siang. Ini sudah hampir sebulan gadis itu selalu mencari perhatian jika ada kesempatan. Andra hanya bisa menghela nafas dengan berat.
Satu jam lebih paman dan Rindi berkendara, akhir nya sampai di rumah paman Rindi itu. Mereka turun Rindi bergegas mengambil baju renang nya dan mulai berenang.
Rindi mengambil ponsel nya mengetik pesan pada papah nya, karena dia menginap di rumah paman. Rindi beralasan dia banyak pekerjaan di restoran jadi tidak sempat pulang.
"Sudah minta ijin ke papah mu?"
"Sudah paman"
"Bi"
"Iya tuan"
"Baik tuan"
Paman hanya melihat keponakan kecil nya, dia segera naik untuk istirahat. Dia percaya keponakan nya tidak akan macam-macam hanya karena lelaki.
Rindi dengan santai berenang bolak-balik lantas mengapung dengan badan telentang. Dia melihat langit sore sudah gelap bintang mulai berkelip, semoga dia bisa menenangkan hati nya.
'Apa aku salah jika cemburu, dia bukan siapa-siapa ku'
Nyali Rindi menciut.
'Lagi pula aku gadis yang tak punya apa pun, apa yang bisa ku janjikan pada nya cinta saja tak akan cukup, lagi pula dia menolong ku dua kali, aku masuk dalam hidup nya jika aku merusak keindahan perasaan nya apa aku tidak keterlaluan, harus kah aku mundur, mungkin perasaan ku hanya lah sebuah kekaguman pada nya'
Rindi merintih dalam hati nya.
'Tapi kenapa rasa nya sakit?'
Ucap nya lagi.
"Non sudah jam 9 malam!"
Rindi melirik bibi paruh baya itu, dia tersenyum.
"Sebentar lagi bi"
Ucap Rindi.
Bibi sampai terkantuk-kantuk menemani Rindi yang berenang.
"Bi, masuk yuk kedalam!"
"Non sudah selesai berenang?"
"Sudah"
Rindi mengajak pengasih dari mamah nya itu masuk ke dalam rumah, sementara diri nya naik ke lantai atas dimana kamar mamah nya berada.
Rindi masuk ke kamar mandi lantas memilih piyama tidur, dia berdiri di balkon menikmati angin dingin dan gelap nya malam. Lampu jalan nampak menerangi jalanan, jalan mulai sepi hanya pada muda-mudi yang berkendara.
'Sebaik nya aku memikirkan masa depan, tidak main-main, lagi pula memang benar aku masih remaja tidak pantas menganggu Andra yang usia nya sudah matang'
Gumam nya.
'Sebaik nya aku mundur, mungkin perasaan ku hanya kagum saja'
Lanjut nya.
Rindi masuk untuk segera tidur, besok dia akan fokus belajar menempa diri dan mencoba kekuatan yang sudah dia pelajari sampai dimana.
Pagi sekali Rindi sudah bangun, dia jogging sekeliling rumah paman nya.
"Tuan"
Paman nya melihat gadis itu mengolah tubuh nya.
"Nona biasa nya malas"
"Biarkan saja yang penting dia suka"
Rindi ingin memajukan waktu belajar hingga lebih lama dan meminta praktek pada tutor nya. Jam istirahat siang seperti biasa bibi membuat masakan untuk nona dan menu yang akan nona nya bungkus.
"Non ini bekal nya sudah jadi"
"Makasih bi"
Rindi segera berlalu pergi ke perusahaan Andra. Di kantor Andra sangat sibuk dengan dokumen yang harus dia lihat.
Rindi sudah sampai di depan perusahaan milik Andra, dia terdiam ingin masuk namun sekuat tenaga dia tahan. Akhir nya dia menyambangi pos satpam.
"Selamat siang pak?"
"Eh selamat siang non, ada perlu apa non?"
"Tolong berikan pada pak Arviandra ya pak, ini buat bapak nya"
"Ada pesan non?"
"Tidak pak"
Lalu Rindi bergegas pergi tanpa sepatah kata pun.
Andra beberapa kali melihat jam dinding, 15 menit lagi akan jam makan siang. Namun yang di tunggu oleh Andra tak kunjung datang.
'Kok belum datang?'
Ucap nya dalam hati.
Tok....tok....tok.
Pintu di ketuk tiba-tiba, Andra tersenyum.
"Masuk"
Seorang satpam yang masuk, senyum Andra seketika luntur.
"Ada apa?"
Andra memasang wajah dingin nya.
"Nona yang biasa mengantar makan siang untuk anda menitipkan ini tuan"
"Taruh disitu saja, kau boleh pergi"
"Baik tuan"
"Tunggu"
Satpam segera berbalik menghadap kembali.
"Apa ada pesan?"
"Tidak tuan, dia hanya menitipkan box makan siang ini pada kami lalu bergegas pergi kata nya dia sibuk"
"Baik lah"
Andra menatap kotak makan yang diberikan gadis itu, lantas membuka nya. Ini memang masakan rumahan, bukan masakan restoran.
Tling.....
Pesan masuk ke ponsel Andra, Andra langsung sigap membaca nya.
'Selamat makan siang, maaf aku sibuk jadi menitipkan ke pos satpam jangan marah ya'
Pesan itu disertai emot senyum yang manis. Andra terdiam, dia memakan masakan itu hingga habis. Ada yang janggal dengan gadis itu, kalau sibuk dia hanya akan mengirim pesan bukan menitipkan nya ke pos satpam.
"Roy"
Roy segera masuk ruangan kantor bos nya itu.
"Iya tuan"
"Periksa tempat kerja nya Rindi"
"Ada lagi tuan?"
Andra menggelengkan kepala nya.
"Tuan apa saya boleh berkata sesuatu?"
Andra mendongak lalu mengangguk.
"Saat di restoran anda makan dengan nona Sisi itu saya seperti melihat Nona Rindi disana, tapi dia saat itu sudah masuk ke dapur jadi tidak melihat muka nya"
"Baik lah"
Andra menghela nafas, entah mengapa makanan itu tidak enak jika di makan tanpa memandang gadis nya.
BERSAMBUNG.