
Mamah Paramitha saat ini sedang berada dirumah anak sulung nya itu. Memasak makanan karena mereka terlihat tak ada yang sehat menurut sang mamah.
"Mah kok ada disini sih?"
Ucap Rista.
"Kenapa? apa mamah mu ini tidak boleh memasak untuk anak anaknya?"
Sang mamah yang sedang mengupas bawang menengok melihat Rista. Menentu perempuan mamah Paramitha tersenyum manis, jarak mereka begitu dekat sehingga mamah dapat melihat ke bagian perut sang menantu.
"Kamu gendutan ya sayang?"
Deg......
Rista yang semula tersenyum mendadak muka nya pucat, mamah Paramitha menjadi semakin yakin lalu mendekati menantunya itu. Memandang wajah cantik yang menunduk seketika, sementara acara memasak digantikan si bibik yang dibawah mamah Paramitha dari rumah utama.
"Mah, Rista mau lihat mas Haris dulu ya?"
Pinta nya, namun belum sempat Rista beranjak sang mamah menahan lengan menantunya.
"Hati hati, jangan sampai terjatuh"
Ucap mamah Paramitha.
Rista hanya mengangguk pelan, lantas berjalan ke lantai atas menemui sang suami.
"Mas sudah mandi belum?"
Rista celingukan dibuat nya mencari sang suami. Samar samar dibawah sana ada sepasang suara lelaki dan perempuan, Rista kenal betul suara lelaki itu. Dengan segera Rista turun kebawah melalui tangga darurat yang hanya tombolnya diketahui sang suami. Lantas Rista mengendap mengikuti arah suara itu, sekarang dengan jelas Rista melihat, sang suami. Tatapan Rista nanar di kegelapan, dia tertutup tanaman perdu yang cukup rindang.
Haris yang sedang berbaring mendapat telepon dari seberang.
"Iya kenapa Amira?"
"Mas tolong Ibran mas"
Suaranya dibuat sesedih mungkin lantas pura pura menarik ingusnya.
"Kenapa Ibran?"
"Ibran nampak panas mas"
"Kan bisa diberi obat, wajarkan dia baru saja imunisasi"
"Tapi itu sudah 2 hari lalu mas"
"Mungkin demam lanjutan kan"
Haris sudah menolak dengan berbagai alasan, namun bukan Amira jika tidak memiliki akal yang cerdik.
"Mas .....mas Ibran mas tolong mas"
Ada teriakan yang dibuat untuk meyakinkan Haris, lagi ada barang jatuh yang sengaja Amira buat hingga lelaki itu percaya dan turun kebawah untuk menemuinya melalui tangga darurat itu.
'Lelaki bodoh malam ini kau akan ku habiskan'
Ucap Amira.
Benar saja 5 menit kemudian hanya berselang 5 menit Haris turun dengan tergesa bahkan dia tidak mengganti piyama handuknya.
"Ada apa?"
"Mas....mas Haris"
Amira sengaja menahan Haris di dekat pagar pembatas rumah mereka karena dia melihat sekelebat bayangan. Meski Amira tak yakin namun dia tahu pasti jika bayangan itu milik istri lelaki yang ada dihadapannya. Amira tersenyum culas, segera mendekap manja lelaki dihadapannya.
' Setelah malam ini kau akan menjadi milik ku!'
Ucap Amira menduselkan wajahnya dileher Haris yang mengandung wangi mint khas lelaki dewasa. Seolah terlihat sedang berciuman di tambah lagi Haris menerima perlakuan itu, semakin menambah sakit seseorang dibalik semak itu.
'Masih belum mau pergi juga'
Ucap Amira semakin memanasinya.
'Kau tega mas, kau memang tidak pantas'
Gumam Rista didalam semak itu.
Sementara Haris, dibawa masuk oleh Amira entah apa yang mereka obrolkan didalam dengan lunglai lantas Rista kembali ke kamar melalui tangga itu kembali.
'Nyatanya papah mu tidak mencintai kita, dia lebih menginginkan orang lain untuk mengisi posisi kita nak, maafkan mamah mungkin setelah ini kita tidak akan lengkap tapi mamah janji akan memberikan semua yang kamu butuhkan dan inginkan bahkan lebih'
Ucap Rista.
Rista segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya kembali, mengganti baju tadi dengan warna yang mirip juga modelnya.
"Harus semangat"
Rista telah mengepak semua bajunya lantas menaruhnya di loker bawah dekat garasi mobil. Setelahnya dia menuju dapur, menghampiri kedua mertuanya juga adik iparnya.
"Selamat malam"
Semua orang menengok, memperhatikan Rista yang semakin cantik tubuhnya sedikit berisi dengan memakai dress yang lebih mengembang dibagian perut.
"Selamat malam kak Ris, tambah cantik dan berisi aja"
Rista hanya tersenyum manis yang menambah kecantikan dirinya.
"Ayo sayang duduk?"
Ajak mamah Paramitha, di meja sudah tersedia aneka hidangan terlihat menggoda.
"Wah masakan mamah lezat sekali"
Rista memuji sang mamah mertuanya itu.
Sang mamah melirik suaminya, lantas suaminya tersenyum.
"Ini hidangan kesukaan kami, kamu harus makan masakan mamah mu sesering mungkin"
Timpal sang papah, sementara Sheyla mengerutkan kening nya dengan ucapan sang papah. Kapan keluarga mereka menyukai hidangan yang asam manis lagi agak hambar itu.
Rista mengangguk dengan semangat, lantas menyendok makanan nya itu.
"Dimana suami mu?"
Sejenak Rista terhenti karena sang papah bertanya, Rista tersenyum manis.
"Tadi sewaktu Rista dandan masih kerja tapi sekarang mungkin sedang mandi"
Mereka mengangguk dengan ucapan Rista.
'Dia sedang bersenang senang dengan kekasih dan anak mereka'
Ucapnya dalam hati, namun tetap menyendokan makanan lezat itu kedalam mulutnya.
'Dimana anak kurang ajar itu'
Gumam sang papah, yang melihat ekspresi murung dari istri anaknya. Meski ekspresi itu hanya sebentar.
"Pah, mah mungkin mas Haris sibuk karena kan dari pagi dia sakit jadi kerjaannya banyak"
"Iya"
"Nanti Rista antarkan saja makanan nya kedalam kamar"
"Baik lah, kami permisi nak"
Ucap sang mamah, mereka semua pamit pulang untuk beristirahat di malam hari.
Rista tak berpikir apa pun, dia segera tidur. Tepat jam 3 pagi Haris pulang lantas mandi lalu berbaring. Haris juga melihat makanan diatas nakas yang sudah dingin dan hampir basi. Tapi Haris tidak perduli, dia segera naik ke ranjang mengecup kening istrinya.
"Maaf aku tidak ijin dulu pada mu, besok pagi pasti aku jelaskan, selamat tidur"
Haris berbaring, sementara Rista membuka matanya namun tak bergerak sedikit pun. Setelah 1 jam Rista beranjak menuju balkon memesan aplikasi hijau, lantas mencuci muka, menyikat gigi lalu berganti dengan baju olahraga yang tebal juga tak lupa mengenakan baju luaran yang tebal karena masih sangat dingin. Jam menunjukan pukul 4 pagi, lantas Rista turun ke bawah membawa kopernya. Berhenti sejenak di taman untuk memandang rumah yang sudah lebih setahun ini dia tempati dengan rasa sakit yang dibawa sang suami untuk dirinya.
'Terimakasih mas, maaf aku tidak pamit, semoga kau bahagia'
Ucap Rista dalam hati.
Rista melangkah keluar rumah mewah itu, dia sudah memesan tiket kereta api yang akn sampai ditempat tujuan. Menaiki roda empat yang dengan lancar tergelincir dijalankan yang masih gelap gulita hanya pedagang yang baru membuka kedai kedai mereka. Setelah setengah jam Rista sampai di stasiun, tak berapa lama kereta yang akan ditumpangi Rista datang membawa ibu hamil muda itu ke tempat tujuan.
'Semoga kita tak bertemu lagi mas'
Rista membuang cincin nikahnya di stasiun itu, dia ingin memulai hidup baru hanya bersama anaknya.
BERSAMBUNG.