
"Ayo masuk, kamu duduk disini dulu ya, mamah mau ke penata rias nya"
"Hem"
Hanya deheman yang Rindi berikan sebagai jawaban, sementara sang mamah sudah memberikan kode pada penata rias. Salon ini harga nya cukup terjangkau, tapi tatanan nya lumayan untuk kalangan rata-rata.
"Hei suruh siapa kau tidur hah?"
"Eh nyonya sudah balik, mana si non?"
"Sudah jangan bawel kita ke toko langganan ku"
"Siap bos"
Ujang segera menancap gas untuk mengantar sang nyonya menuju toko langganan yang dia sebutkan.
"Nah kau baru boleh istirahat"
Rindi masih sibuk dengan gadget nya.
"Non tolong ganti baju baju ya!"
"Saya tidak ingin perawatan loh mba"
"Tapi nyonya besar sudah memesan paket untuk kalian, beliau ada di ruang sebelah loh"
"Begitukah?"
"Benar, kalau tidak ingin couple nanti biaya nya dua kali lipat non"
"Ya sudah deh"
Setelah berganti pakaian Rindi segera di berikan spa, treatment kulit, dan pijat. Rindi disuruh mandi dengan berbagai treatment pula, setelah nya Rindi kemudian di make up. Rindi tak sadar karena dia tertidur, sedikit mengantuk karena treatment yang membuat relaks.
Setelah hampir 4 jam Melina segera pergi ke tempat salon tadi.
"Bagaimana?"
"Sudah semua hanya tinggal ganti baju saja"
"Bagus, saya sudah beli gaun buat dia"
Tak berapa lama Rindi bangun, dia melihat sang mamah sudah glamour dengan serentetan perhiasan mahal nan berkilau.
"Sudah, mah"
"Iya, ini kamu pakai gaun mu dulu"
"Kok aku pakai gaun"
"Papah mu tadi telepon ada jamuan keluarga dengan klien nya, kita harus hadir, jadi sekalian saja suruh mereka make up kamu"
Rindi melihat kaca besar yang ada di depan nya.
"Ahhh........"
"Jangan berteriak lagi, papah mu sudah menunggu, ayo cepat ganti baju"
Dengan malas Rindi pergi ke kamar ganti, semua sudah dibelikan oleh mamah nya. Baik gaun malam yang lembut dengan warna Salem, semua daleman yang harus dia pakai juga sesuai dengan ukuran nya.
"Nah begitu dong, nurut"
Mereka langsung menuju mobil setelah sang mamah membayar upah ke salon itu.
"Bagus juga nih, dandanan mereka"
Melina melirik anak perempuan nya itu, memang sedikit dewasa, kalem, ada sedikit rasa agresif juga.
"Kamu pasti cocok nih sama Bayu Braja"
"Apa!"
"Ini jamuan bisnis milik klien papah mu, semua pembisnis pasti hadir lah"
Si Ujang sudah ketar-ketir ini pasti nyonya tua ini mempermainkan nona polos keluarga Mukti lagi.
'Gak takut apa sama karma, sudah tua selalu buat gara-gara'
Gumam Ujang.
Mereka sudah sampai di sebuah bar yang mewah di tengah kota.
"Mah, gak salah disini?"
"Iya ini alamat yang papah mu kirimkan, ayo turun"
Bar terlihat masih sepi karena masih jam 7 malam.
"Ayo lewat sini!"
Melina menarik Rindi menuju ruang VVIP milik bar itu, lantas membuka pintu ruangan nya. Memang semua sudah hadir disana, baik semua anggota keluarga Braja dan Mukti.
"Nah para tamu sudah datang semua ini"
Rindi menyalami semua para orang tua, ada Afar Mukti ayah nya, Lisa Ayunia Mukti kakak kandung nya, Indra Braja, Helen Braja dan anak tunggal mereka Bayu Braja.
"Aduh cantik sekali, pantas Bayu ingin cepat-cepat di resmikan"
Mamah Bayu, Helen memuji kecantikan Rindi. Rindi memang terlahir lebih segala nya dari sang kakak. Dia berkulit putih bercahaya, bibir mungil, rambut hitam lebat dan semampai berisi.
"Ayo nak duduk disini"
Indra Braja menunjukkan sofa yang sudah di duduki oleh putra tunggal nya itu. Bayi tersenyum devil, dia sudah lama mendambakan tubuh sexy milik Rindi, si bunga sekolah saat gadis itu masih SMA.
"Sini, duduk sama mas biar lebih dekat hubungan kita"
Ucap Bayu dengan penuh keramah lemah lembutan, Rindi pasti lah gadis yang suka pria yang lemah lembut. Namun di mata dan telinga Rindi ucapan itu sangat menjijikan seperti sampah got.
Rindi gadis yang tidak peduli usia, strata atau latar belakang seseorang tapi Rindi tidak suka lelaki di samping nya ini. Dia bukan hanya lelaki buaya darat tapi bermuka dua yang bengis dan kejam.
"Terimakasih mas"
Rindi bukan tidak tahu latar belakang keluarga Braja, keluarga yang selalu bermain licik dalam segala bidang termasuk lelaki yang bernama Bayu ini. Saat Rindi duduk bangku kelas dua menengah, dia mendapati teman satu komplek nya itu mengaborsi karena di hamil lelaki ini.
Begitu juga saat di awal tahun ke tiga nya Rindi melihat teman nya ada yang gantung diri karena di hamil oleh lelaki ini juga.
Saat ini entah karena pemikiran dari mana kedua orang tua nya menginginkan diri nya bertunangan dengan lelaki bejad ini.
"Arin, kakak mau ajak mamah ketemu klien di restoran sebelah ya, kamu sama papah saja dulu ya"
Lisa berkata demikian pada anak bungsu nya itu.
"Iya"
Mereka pun mengobrol, tiba-tiba pintu terbuka kenalan dari orang tuan Bayu datang. Mereka diajak ke ruang sebelah untuk makan bersama klien kelas kakap.
"Ayo pah pesan makanan lagi, minum juga harus nambah"
Ujar Bayu pada Afar.
"Benar ya, baik lah papah pesan ya"
Afar tak tanggung-tanggung pesan banyak makanan. Bayu hanya tersenyum kecut melirik nya.
'Rakus amat, hanya segini mah Cemen, harga gadis kalian'
Gumam Bayu dalam hati.
"Wah nak Bayu kebayang sekali ini papah, papah mau ke toilet dulu ya"
"Silahkan, pah"
Ucap Bayu dengan senang.
"Kok Arin di tinggalin lah"
"Papah ke toilet sebentar Rin, kamu kaya bocah 5 tahun saja, takut nyasar"
Rindi menghitung kepergian sang papah yang tak kunjung datang.
"Kok papah lama ya?"
"Mungkin kebelet kan papah mu makan porsi banyak tuh!"
Rindi mulai resah, dia tidak pernah ke bar apa lagi dengan seorang pria.
Krekk.....
Pintu bar dibuka dengan perlahan.
"Pah, kok......."
Ternyata yang datang bukan lah papah Rindi, melainkan teman-teman segeng Bayu.
"Wah kok lama bro?"
"Menunggu konfirmasi dari om Mukti"
Rindi terbelalak, apa mungkin dia salah dengar mereka menyebut papah nya sebagai pengkonfirmasi. Mereka terlihat anak muda yang kaya lagi cassanova. Rindi sedikit menciut nyali nya.
"Wah virgin nih?"
Ucap yang berjas hitam.
"Yoi bro, daging seger"
"Halah kita mah biasa nya bekas"
Ucap yang berjas navy.
"Hai cantik"
Ketiga teman Bayu menyapa nya, Rindi hanya melambaikan tangan nya.
"Jangan takut, santai aja, awal-awal ngeri tapi nanti juga ketagihan manis"
Ucap yang berjas merah, mereka semua tertawa entah menertawakan apa.
"Aku mau ke toilet sebentar ya"
"Hei"
Yang berjas merah menarik lengan Rindi.
"Jangan kasar bro!"
Ucap Bayu.
"Mangsa kita mau kabur loh!"
Ucap yang berjas navy.
"Biarkan bebasin dia, karena kebebasan nya hanya beberapa menit"
Bayu menjelaskan.
"Oke"
Rindi akhir nya bisa melepaskan diri dari para bajingan itu, untung dia tidak memakai hills tapi memakai sepatu yang nyaman dan dress nya terbelah dengan belahan sepaha.
Rindi segera pergi dari toilet dengan memanjat jendela karena langsing jadi muat. Meskipun berada di lantai dua Rindi tetap bisa dengan hati-hati memanjat nya.
"Wah cekatan juga gadis mu ini!"
Bayu melihat dari cctv monitor itu, segera menghubungi algojo nya untuk mengejar. Tenaga Rindi dan lelaki terlatih milik Bayu tak sebanding baru 10 menit berlari sudah terkejar.
Saat itu tepat jam 23.35 malam, sudah mau tengah malam, jadi Rindi berpikir tidak akan ada kendaraan yang berlalu lalang.
Hingga BRRRUUKKK......
BERSAMBUNG.