
Aksara menuju kantornya, terlihat dari auranya yang terpancar bahagia. Aksa terus tersenyum, mengingat semua kejadian 3 hari ini. Semua orang merasa aneh bahkan Melki si asisten nya sendiri.
'Ini bos keselek apa? kok senyum terus sih'
Ujar Melki saat didalam mobil tadi.
Aksa tidak memperdulikan itu baginya saat ini hanya ingin membahagiakan sang istri.
"Dia pulang jam berapa ya?"
"Kenapa tidak di telpon saja bos"
Bukan Melki tapi Dino si asisten yang satunya lagi.
"Bener juga ya"
Aksara mendongak, ternyata asistennya disana sudah tersenyum.
"Dasar brengsek, kapan kau kesini?"
"Baru saja"
"Aku tidak memanggil mu!"
"Setidaknya aku bisa kasih solusi untuk mu"
"Pergilah kalian kerjakan yang lain, mungkin aku akan pulang cepat"
"Tumben?"
"Kenapa memang nya? ini perusahaan ku, terserah aku lah mau pulang kapan?"
"Sok bossy"
"Emang"
Blammm.........
Dino menutup pintu dengan sekencang mungkin, dan Aksa tidak peduli.
"Separah itu jadi status suami, berasa ngeri ya Mel?"
"Gua bukan Amel, kenapa Lo panggil Mel?"
Melki melirik tajam, membuat Dino terkejut saja.
Drrtt.....ddrrttttt.
"Angkat Ta? itu ponsel mu berdering"
Sahut teman yang duduk di bangku seberang.
"Hallo"
"Yang kapan pulang?"
Cinta mendengarkan dengan seksama.
'Ini si om, kenapa juga pake telpon segala?'
"Yang kok diem? orang tanya tuh dijawab"
"Iya"
"Kapan pulang?"
"1 jam lagi kenapa?"
Dengan malas Cinta bertanya.
"Langsung ke kantor ku ya, jangan kemana pun"
Tut........
Cinta mengerutkan kening nya, sementara si dosen memperhatikan tingkah Cinta karena dosennya Karenina. Namun rupanya dosen itu sekarang lebih hati hati membuat rencana.
Benar saja 1 jam kemudian Cinta selesai dengan mata kuliahnya. Dia segera berjalan ditrotoar dengan senang nya.
BRAAKKKK.
Sebuah sepeda motor menyenggol kakinya, dengan kecepatan tinggi motor itu melaju tanpa peduli Cinta terjatuh ke aspal trotoar. Telapak tangannya agak perih lagi kakinya mungkin memar didalam celana jeans.
"Aww, sakit sekali"
Cinta segera meluruskan kakinya, lantas perlahan untuk berdiri.
"Jangan sampai ketahuan om"
Cinta berpegangan pada besi setinggi lututnya sebagai pembatas trotoar dan jalan untuk bangkit. Dengan tertatih Cinta sedikit sedikit berjalan untuk sampai ke perusahaan si suami nya. Cinta tersentak kaget ketika suaminya sudah berdiri di depan lobi kantor. Dengan segera Cinta mendekat juga memberikan senyum tercantik lagi manis.
"Ekhhem, ayo"
Si suaminya mengulurkan tangan besarnya untuk meraih tangan mungilnya. Mereka berpegangan tangan memasuki kantor. Mereka memasuki lift menuju lantai teratas.
"Kenapa jalan saja lambat?"
Aksa menengok kesamping, dilihatnya wanita muda dengan tinggi yang hanya mencapai dadanya saja.
"Maaf"
"Apa jalannya sambil makan?"
Cinta hanya terdiam.
Grepp...
Cinta hampir terpekik kaget, ketika lelaki jangkung itu memeluknya. Bahkan sedikit mengangkatnya pula.
"Om"
"Bukan kah aku tampan?"
"Ihh si om narsis"
Aksara tertawa, lalu mencium pipi kiri istrinya.
"I love you"
Cinta hanya tersipu malu, menundukkan kepalanya. Namun sebelum menunduk bibir nya sudah ditempeli bibir suaminya itu, dilumat juga sedikit dihisapnya.
Tling....
Tepat saat itu juga pintu lift terbuka, sehingga banyak yang menyaksikan adegan mereka berciuman. Cinta yang membuka matanya terlebih dahulu dengan cepat turun dari pelukan Aksara, sementara Aksa sendiri hanya berjalan keluar lift dengan santainya. Semua staf hanya terdiam seolah tidak melihat apa pun.
Aksa tersenyum lalu duduk di kursi kebesarannya, tersenyum geli ketika mereka sedang berciuman lalu ketahuan oleh staf karyawan nya sendiri.
"Kenapa masih berdiri? duduk lah"
Kaki Cinta agak sedikit linu sebenarnya mungkin karena diserempet pemotor tadi. Namun Cinta memilih segera duduk dihadapan Aksara.
"Duduk sini"
Aksara memanggil agar Cinta duduk didekat pria itu. Dengan segera Cinta mendekat, tanpa memperhatikan Cinta menyenggol gelas kopi milik Aksara.
Braakk......
"Sayang"
Aksa segera meraih tubuh istrinya, hingga mereka berpelukan dengan erat.
"Apa yang sakit, ada yang sakit?"
Cinta menggeleng, namun gelas kopi yang berisi air kopi yang mulai menghangat itu menyiram luka yang ditimbulkan pemotor tadi. Tanpa aba aba Aksa menggendong nya menuju sebuah pintu. Ketika dibuka maka terpampang lah ruangan tidur besar lagi seperti kamar tidur mereka yang ada di apartment mereka.
Aksa mendudukkan istrinya diranjang.
"Mana yang sakit?"
Cinta menggeleng namun Aksa melihat noda kopi dicelana yang dikenakan istrinya.
"Apa disini ada baju ganti?"
"Ada di lemari, jika mau mandi ada kamar mandi disebelah, mandi lah dulu"
Cinta segera mengangguk lantas berjalan, Aksa memperhatikan istrinya dengan gaya berjalannya itu. Setelah istrinya menutup pintu kamar mandi, Aksa segera mendial nomor seseorang di ponselnya.
"Cari tahu hari ini semua kegiatan istri ku"
1 jam kemudian Aksa menerima laporan dari seseorang serta bukti CCTV nya.
"Brengsek"
Aksa meninju tembok didekatnya.
"Dino, kemari"
Yang dipanggil dengan segera menghadap.
"Selidiki yang ada di foto itu, dan tunggu instruksi selanjutnya"
"Baik"
Dino segera keluar dari ruangan bos nya.
Klek.
Aksa melihat kesamping pintu, wangi semerbak menguat bergelayut manja di hidung bangir Aksa. Kini istrinya sudah berdiri dengan rok setengah paha yang tidak ketat juga sedikit lebar dan bergelombang juga atasan yang sedikit kebesaran. Aksara mengamati dari ujung rambut hingga ke betis wanitanya memang memar di bagian tengah paha namun tersamarkan dengan bedak dasar yang tidak luntur. Aksa menepuk pahanya, dengan segera istrinya mendekat dan naik ke pangkuannya.
"Menurut sekali"
Aksa berkata sambil menduselkan kepalanya pada dada istrinya, geli Cinta rasakan namun dia diam saja. Aksara mengecupi leher istrinya, menjilat bahkan sedikit hisapan itu dia lakukan. Aksa tersenyum lantas segera mengecup bibir istrinya lama. Tak henti sampai disana lelaki itu meraba paha istrinya, Cinta langsung menahan gerakan tangan Aksa karena selain sakit lelaki itu akan melunturkan bedaknya.
"Kenapa?"
"Ini kantor om, nanti saja dirumah"
Ucap Cinta, Aksa tersenyum.
Tak dihiraukan ucapan istrinya Aksa meraba dan terus mengelusnya juga mencengkeramnya.
"Apakah sakit?"
Cinta menggelengkan kepalanya.
"Lalu ini apa?"
Cinta diam kali ini lantas menunduk.
"Tidak mau bilang?"
"Aku tidak melakukan apa apa!"
"Iya tapi jelaskan?"
"Tadi sewaktu kesini aku diserempet motor, pada hal kan aku jalan di trotoar, motor itu cepat jadi tidak tahu siapa lagian kan sepi orang saat itu"
Dengan segera Aksa memeluk istrinya.
"Jangan nangis ya, maaf"
Cinta sudah meneteskan air matanya tadi.
"Ayo sayang om obati luka mu"
BERSAMBUNG.