
"Ayo cepat anak-anak"
Ucap Aksara.
"Kita kan sudah besar pah"
Ucap Raksa menimpali.
"Tapi aku akan selalu jadi putri kecil menggemaskan milik papah"
Ucap Riana bergelayut manja pada Aksara.
"Sudah jangan bertengkar, ayo kita pergi ke pantai"
Ucap mamah Cinta menengahi perdebatan anak-anak nya.
Mereka membawa dua mobil untuk keluarga, mobil di depan untuk para orang tua yang beraksi Aksara, Haris, Cinta dan Rista. Sedangkan mobil lain nya berisi 7 orang anak dari 2 keluarga kecil aksara dan Haris.
Setelah 30 menit mereka tiba di resort yang mereka inginkan.
"Pah kok resort nya sepi?"
"Sudah papah booking supaya kalian puas"
"Berarti papah juga menyiapkan rencana ini kan?"
"Iya, niat nya mau menginap disini 2 malam sebelum kembali ke negara B"
"Kita atau hanya papah sama mamah?"
"Tentu saja papah sama mamah saja"
"Papah pelit"
Meski manyun Riana berjalan masuk juga.
"Di negara ini ada resort sebagus ini ya pah?"
"Benar, ini adalah resort terbaik dan termahal"
"Kok kita tidak punya pah?"
"Bukan bisnis kita"
Raksa pun berhenti bergaya ketika melihat pantai berpasir putih yang sejuk.
"Ini sungguh indah ya pah"
Indri pun ikut memuji, gadis manis berkaca mata itu sangat gembira rupa nya.
Para wanita bersantai begitu pun anak-anak mereka bersuka cita.
"Bukan kah ini resort milik kelurga Aryandy?"
"Benar"
"Siapa yang mengelola resort ini?"
"Entah lah, keluarga Aryandy tidak ada keturunan selain Karenina"
"Benar juga, entah siapa pengelolah nya saat ini"
Aksara pun masuk ke sebuah gazebo yang terdekat dengan pantai, udara terbuka yang sejuk meski saat ini sedang terik.
"Silahkan tuan"
Pelayan Resort menyediakan makan siang yang mereka letakan di gazebo indah itu.
"Apa mau disiapkan seafood tuan"
"Baik, hubungi kami jika membutuhkan sesuatu"
Para pelayan resort itu segera undur diri, karena hari ini mereka hanya melayani satu keluarga besar yang kaya raya itu.
Cinta bersama Rista mengobrol santai, sedangkan Raksa, Damian, Rieka, Saluna, dan Indri sedang melakukan sesi pemotretan ala mereka. Riana agak bosan jadi dia berjalan keluar melihat kebun bunga bahkan buah yang seminggu lagi siap panen.
"Sangat indah"
Diseberang jalan nampak sebuah gerobak rujak buah yang amat segar untuk Riana cicipi, gadis 18 tahun itu tak sabar untuk pergi kesana. Riana berlari menyebrang jalan dengan santai gadis itu sangat ceria sekali.
"Mang beli rujak buah nya ya"
Gadis itu berucap tanpa melihat ke kiri atau kanan.
Ada sepasang mata yang memperhatikan gadis cantik nan imut itu, tepat nya sepasang mata lelaki yang sedang menjilat bibir nya sendiri karena melihat gadis itu.
"Heh, gadis cantik yang semalam tidak jadi beradu dengan kursi ya?"
Suara itu sontak membuat Riana menolehkan kepalanya, meneliti dengan seksama juga mengingat kejadian semalam.
'Kadal perusuh rupa nya'
Gumam Riana dalam hati.
"Jaim banget si gadis cantik"
Herdan mencolek hidung Riana, siapa lagi lelaki kurang kerjaan selain dari keluarga Sanunjaya itu.
"Jangan mencolek ku!"
Ucap Riana, namun lelaki itu malah tersenyum jahil. Dia baru melihat gadis yang cantik namun ada ketertarikan Herdan pada gadis itu.
Herdan mendekat pada Riana karena dia sangat penasaran dengan gadis itu, lagi pula tak ada salah nya dia ingin berkenalan.
"Jangan mendekat!"
Herdan tersenyum belum juga bersisian gadis itu malah lari sambil meninggalkan kaca mata hitam nya. Herdan mengejar sampai masuk ke dalam resort.
BUUKKK.......
Riana menabrak seseorang dengan cepat Riana mendongak menatap orang yang dia tabrak.
"Hai, kau ada disini?"
"Sedang apa lari-larian?"
Yang Riana tabrak tak lain adalah Rei.
"Aku dikejar manusia itu"
Tunjuk Riana pada Herdan yang sudah berada tak jauh dari nya.
"Hei gadis aku ada urusan dengan mu?"
"Ada apa ini?"
Jawab Rei.
"Minggir aku tidak punya urusan dengan mu!"
"Kau yang harus minggir jangan mengganggu para tamu"
Mereka hendak adu jotos.
"Kenapa ini!"
BERSAMBUNG.