
"Maaf"
Lirih Lisa kembali mengulang permintaan maaf nya itu. Karena tak ada respon apa pun pada lelaki tampan yang sudah menjadi suami nya itu.
Lisa semakin mengeratkan pelukan nya meski dari belakang, mengecupi punggung kekar suami, meski Lisa hanya setinggi dada nya saja.
Sedangkan William, yang tadi mengira Lisa akan cuek ketika dir nya pulang atau acuh saja seperti biasa nya merasa sangat kaget. Will kaget karena istri nya yang memeluk nya sendiri, istri nya meminta maaf bahkan kini menciumi punggung telanjang nya itu.
William menarik sudut bibir nya menjadi senyum dan sebentar kemudian William membalik tubuh nya hingga berhadapan dengan istri cantik nya itu.
Lisa menundukkan kepala nya, William mengelus wajah Lisa mendongakkan nya agar Lisa memandang nya.
"Aku merindukan mu, kau tahu meski banyak sekali hiburan di negara S, tapi dada ku sesak karena meninggalkan mu"
Ucap Will, Lisa terdiam menatap suami nya itu, ada gurat kesedihan yang mendalam. Mata yang bercahaya itu hilang, senyum jahil juga lenyap dari wajah William.
"Maaf, aku sudah menyakiti mu"
"Aku bisa bersabar jika kau belum mencintai ku, tapi jika kau membuang ku, aku sungguh sakit hati"
Air mata Lisa mengalir, William segera mengusap nya dengan lembut.
"Aku setengah mati, hanya untuk fokus saja pada pameran di negara S, aku tidak bisa, ingin sekali menghubungi mu, kau tahu itu"
Lisa mengangguk, Lisa mengelus lembut wajah Will yang tampan. Lisa segera memeluk suami nya itu, menangis di pundak William.
"Aku sudah menyakiti mu, maaf, aku takut, takut sekali, akan banyak orang tersakiti karena aku memiliki mu"
Mereka berpelukan erat, kini William tahu jika istri nya melepaskan diri nya bukan karena tidak ada nya cinta namun karena ancaman orang lain yang akan mengakibatkan bahaya yang akan menimpa keluarga nya.
"Aku mencintai mu"
Lirih Lisa, William melepaskan pelukan nya pada istri nya itu. Memandang nya dengan intens.
"Katakan?"
Wajah mereka berdua sangat dekat, hingga hembusan nafas Will menerpa wajah Lisa ketika Will menyamakan tinggi nya itu.
Lisa menunduk, malu sekali rasa nya menyatakan cinta pada suami nya.
"Aku mencintai mu"
"Aku juga sangat mencintai mu istri ku"
Ucap Will, sambil ******* bibir Lisa, menjilati nya dengan perlahan dan menyesap nya.
Mulut Lisa terbuka lebar, lantas Will memasukkan lidah nya guna menyesap manis nya, membelikan lidah satu sama lain, bahkan gigi mereka saling terantuk.
Will membimbing Lisa berjalan menuju ranjang setelah mengunci pintu kamar mereka tanpa melepaskan ciuman panas mereka.
William melepaskan pagutan panas nya pada istri nya yang sudah ngos-ngosan. Melihat wanita yang sudah di kungkung nya. Lisa masih mengalungkan tangan nya di leher Will yang tersenyum pada nya, kini Will bisa melihat cinta dari mata indah istri nya.
"Kau hanya milik ku"
Setelah berucap demikian William kembali mendaratkan ciuman panas nya pada istri nya itu. William juga membuka semua pakaian nya dan juga istri nya dalam sekejap saja mereka sudah sama-sama telanjang bulat.
William sudah merindukan tubuh istri nya yang lembut dan hangat, tangan Will sudah meremas dada Lisa dengan gemas nya membuat Lisa mengerang. William segera melepaskan pagutan nya beralih pada dada istri nya, menyedot nya seperti bayi.
Sementara tangan Will sudah mengelus perut mulus Lisa yang putih, turun ke bagian bawah dan mengelus lembut paha istri nya menarik nya hingga kaki Lisa menekuk dan melebarkan nya.
Tangan Will sudah berada di dada sementara dibawah sana tubuh nya sudah memasuki tubuh istri nya dengan sempurna. Tak henti nya dari pagi itu mereka memadu kasih dengan durasi yang panjang dan menyenangkan untuk kedua nya.
"Cape?"
Lisa mengangguk, tapi Will enggan turun dari tubuh istri nya. Mata Lisa terpejam, Will berguling kesamping Lisa setelah mencabut milik nya.
'Pada hal belum puas'
Gumam nya, tapi sudah 3 jam belum puas juga Will menghajar istri nya dengan kenikmatan surgawi.
Will tersenyum sendiri, ketika bersama Lisa seakan tak pernah bosan, tapi dengan Carmen dia tidak pernah melakukan nya.
"Kemana semua orang?"
Ucap Andra di meja makan, dia akan sarapan dengan sang istri.
"Tuan besar dan nyonya sedang terapi ke rumah sakit tuan"
Andra mengangguk.
"Kak Lisa kemana? panggilkan bik"
Ucap Rindi.
"Non Lisa dikamar nya dengan tuan William"
Rindi yang sedang mengoles roti nya kaget.
"Tadi pagi William pasti sudah pulang"
"Kamu ngintip?"
"Tidak lah"
"Yang bener"
"Kenapa harus mengintip, aku juga bisa seperti mereka kok"
Andra melirik istri nya.
"Mana ada?"
"Apa nya?"
"Mereka tahan lama loh, sudah 3 jam masuk kamar"
"Emang kenapa?"
"Kamu mah 1 jam aja ngajak udahan"
Rindi mengikuti perut suami nya yang datar itu.
"Awww......Yang mau makan kok disikut sih"
"Tidak mungkin berasa"
"Berasa ngilu loh"
Rindi melihat suami nya meringis, lalu dengan segera mengelus perut suami nya itu.
"Beneran sakit kah?"
Andra mengangguk, Rindi mengusap nya dengan lembut. Andra tersenyum, ada ide jahil yang muncul di kepala nya itu.
"Aduh yang sakit banget"
"Ya udah kita ke kamar aja, sarapan nya disana"
"Ayok, nyeri nih"
Rindi memapah tubuh suami nya itu menuju lantai atas.
"Non, tuan kenapa?"
"Perut nya sakit bik, jadi bawakan sarapan ke kamar ya"
"Iya non"
Bibik membawakan sarapan majikan muda nya ke kamar mereka dengan lengkap.
"Ini non"
"letakkan di meja ya bik"
Bibik mengangguk lantas segera meletakkan di meja kamar mereka, Andra yang tangan nya bebas mengunci kamar mereka.
"Mas duduk dulu ya, aku cari p3k dulu"
Andra mengangguk, namun belum jauh Rindi melangkah Andra sudah memeluk istri nya.
"Mas.......emmmmm"
Bukan hanya di peluk tapi juga mulut nya sudah bekap oleh mulut suami nya. Andra mengangkat tubuh istri nya lantas membanting nya di atas kasur dan dengan gerakan cepat menindih tubuh langsing Rindi.
"Mas......."
Rindi mendorong dada suami nya yang keras, Rindi merutuki diri nya sendiri, suami nya kan selalu nge-gym mana mungkin disikut wanita saja kerasa.
Andra tersenyum melihat wajah cemberut istri nya.
"Baru sadar, ha....ha"
Ada saja tipuan Andra untuk mengerjai nya di atas ranjang dengan pergulatan panas mereka.
"Masa kita di kamar terus yang?"
Ucap Rindi mengerucutkan bibir nya tapi tidak menolak pompaan suami nya itu.
"Kan kita disini sedang honeymoon"
"Iya deh"
Rindi sudah pasrah lagi pula diri nya juga menikmati nya.
BERSAMBUNG