
"Tuan, jangan......."
Min terisak, air mata nya sudah bercucuran. Rei tersenyum devil sambil memandang wajah yang yang sedang menghindari tatapan nya.
"Tahu begini aku tidak usah susah-susah mendatangkan dokter tumor paling hebat, cukup beberapa kantong darah saja"
Ucap Rei, Min hanya menundukkan wajah nya. Jelas dia yang memohon pada lelaki itu, tapi dia sendiri yang mengingkari ucapan nya.
"Maaf"
"Aku rasa aku tidak butuh maaf mu"
Rei duduk di sofa, menyalakan pematik untuk membakar rokok yang akan dia hisap. 5 tahun setelah kepergian orang tercinta nya, Rei begitu akrab dengan benda-benda tak berguna seperti rokok, alkohol bahkan obat-obatan terlarang.
"Kemari lah"
Min mendekatkan diri nya lantas berhenti tak jauh dari Rei.
"Buka lemari itu ambilkan botol paling atas yang berwarna kuning"
Min segera membuka lemari kaca yang agak buram, mata Min melotot melihat begitu banyak nya minuman beralkohol. Min segera menutup nya dan mengunci nya lalu mendekat pada Rei kembali. Rei mendongak menatap istri gadis nya itu.
"Tuangkan!"
"Tuan itu sudah habis"
Rei mengerutkan kening nya, Rei bangkit dari duduk nya lalu segera melangkah kearah lemari milik nya.
KREEK.....KREEKK.
Tak bisa terbuka, karena kunci lemari hias nya tidak ada.
"Dimana kunci nya?"
Rei berbicara sendiri.
"James!"
Dengan segera seorang lelaki paruh baya datang menghampiri.
"Mana kunci lemari itu?"
James mendongak, lalu segera mencari kesegala arah.
"Kunci lemari milik tuan yang itu selalu tergantung disana tak pernah tersentuh"
"Oh, jadi kau menuduh ku melenyapkan barang milik ku sendiri?"
Rei sudah mengambil sabuk nya yang ada di meja dekat sofa di kamar itu.
"Tidak berani tuan"
Jepraaatttt.....
Sabuk milik Rei sudah menempel dengan paksa pada James.
"Tunggu ........."
Min memegang tangan milik Rei yang sedang memegang sabuk ketika akan diayunkan yang ke dua kali nya. Rei melirik kearah samping nya, melihat istri nya itu.
"Keluar!"
James segera keluar tanpa menunggu lama lagi.
"Katakan"
"Kunci itu ada pada ku, aku ......."
"Katakan yang jelas atau sabuk ku ini yang akan berbicara!"
"Aku akan buatkan jus, jangan minum yang beralkohol tidak baik untuk kesehatan"
"Kau berani mengatur ku!"
Rei menarik Min hingga gadis itu terjatuh di pangkuan nya.
"Aku tidak bisa relaks, tanpa bantuan alkohol"
Rei mengelus wajah istri nya itu, terlihat sedikit tegang. Namun Rei sangat suka memainkan mainan baru nya itu. Min mencoba agar dia tidak takut dengan sentuhan dari Rei.
"A....aku buatkan jus ya?"
"Baik lah, buat kan dalam 10 menit"
Min segera bangkit menuju dapur untuk membuatkan jus.
"Nyonya ada apa datang ke dapur?"
"Aku butuh bantuan kalian kupas dan ambil biji buah anggur merah, juga jeruk yang berair tapi agak asam"
"Baik"
Hanya 10 menit, jus buatan Min sudah jadi tanpa gula. Min segera pergi ke kamar milik Rei dengan membawa segelas jus yang sudah disaring dan hanya diambil air nya saja.
"Tuan"
Rei masih bertelanjang dada menikmati waktu sore hari, terlihat warna jingga yang pekat di ufuk barat. Sementara burung-burung di langit yang biru sebiru lautan itu terbang kembali ke sarang nya. Angin bertiup sejuk lagi menyapa daun hingga bergoyang bak penari latar.
"Tuan ini jus nya"
Min menuangkan pada gelas whisky dengan sedikit es, tampilan nya memang seperti minuman beralkohol dengan kepekatan alkohol yang Rei suka. Rei menerima nya, sedikit meneguk nya lantas tersenyum.
"Bau dan rasa tidak buruk tapi ini tidak bisa membuat nyaman"
"Bukan kah alkohol tidak baik untuk tubuh?"
"Siapa yang peduli, aku sudah 10 tahun bersama nya, bahkan tidak beristri"
Min menunduk diam, Min melihat wajah Rei yang di terpa sinar jingga di sore hari. Rambut lurus lelaki itu di sapu angin sepoy-sepoy, sangat tampan meski umur nya lebih tua 15 tahun dari Min.
"Bawa ini, aku sudah tidak ingin meminum nya"
"Tapi tuan"
Rei kembali menarik Min, memeluk tubuh gadis itu, lalu kembali mendaratkan ciuman yang lembut. Di terpa angin sore semakin membakar gairah lelaki Rei, atau kah hanya karena dia memang sudah butuh wanita untuk memuaskan hasrat nya. Mata Min membola ketika dia sudah sadar bibir nya sedang di mainkan lelaki yang menjadi bos nya itu. Min mendorong tubuh Rei hingga tautan bibir mereka terlepas.
"Manis, satu teguk satu ciuman bagaimana?"
Min terdiam dengan semua itu.
"Jangan menantang ku jika kau tidak punya keberanian"
Rei berbisik pada Min, lantas beranjak ke sofa. Dia duduk di sofa sambil merentangkan tangan nya, dia sudah gila karena selalu berciuman dengan bibir gadis yang belum 19 tahun.
"Malam ini ada tamu spesial, Jang keluar dari kamar apa kau mengerti!"
"Baik tuan"
"Semua kebutuhan mu akan diantar kemari"
"Iya"
Rei segera mandi, lalu memakai pakaian casual tidak seperti biasa nya yang memakai pakaian kantor mengkilap dengan semua outfit branded nya. Bahkan rambut klimis berpomed tidak seperti sekarang rambut nya disugar jadi berantakan. Sehingga usia nya seperti lelaki 20 tahunan, tampan dengan aura berkharisma.
Tepat jam 9 malam, tamu yang dikatakan spesial itu datang. Dengan penampilan anggun nan cantik, Riana berkunjung ke villa sang adik.
"Selamat malam, sayang"
"Malam"
Riana memaksa cipika-cipiki pada adik nya, dia juga mengedarkan pandangan pada villa pribadi yang bak istana. Adik nya sudah seperti penguasa bisnis saja.
"Kekayaan mu makin berlimpah, mau menghidupi siapa?"
"Kau bisa saja, ayo ke taman belakang, kita makan malam disana"
"Baik lah, tapi kenapa tidak di meja makan"
"Kau akan merasa bosan"
10 menit mereka berjalan sudah sampai di taman belakang, taman yang luas dengan hamparan bunga di terangi lampu taman. Wangi bunga yang tertiup semilir angin membuat pikiran jadi relaks, itu sangat nyaman untuk Riana. Mereka makan dengan tertib, tak ada suara hanya peralatan makan yang beradu.
Riana menikmati buah segar yang di suguhkan, sambil menikmati dan mengawasi.
"Kau suka tinggal disini?"
"Sekedar melepas lelah saja ketika penat bekerja"
Riana mengawasi adik lelaki nya, selama ini Riana tahu jika adik nya nakal namun masalah wanita lelaki kecil ini tidak pernah bermain bersama mereka. Hanya mungkin obat-obatan terlarang saja atau alkohol.
"Apa kau merasa gemukan sekarang?"
"Tadi sore masih 70 kilo, ideal kok"
"Oh ya, kapan kau menimbang badan mu?"
"Tadi sore"
"Benarkah?"
Riana mendesak Rei, seperti menaruh kecurigaan pada diri nya.
"Aku masih perjaka kak, kau tenang saja"
"Apa benar begitu?"
Rei mengangguk sambil meneguk wine di tangan nya.
"Minuman mu buruk sekali?"
"Stok nya pada habis karena seminggu di desa"
"Memang proyek apa?"
"Bahan baku mentah perusahaan pusat, disana mendirikan perusahaan cabang yang cukup potensial juga"
"Ohh begitu, kau tahu Herdan menemukan keluarga nya di desa yang sama, yang arti nya keluarga Sanunjaya masih ada lagi"
"Lalu?"
Riana memandang sang adik sebentar, ekspresi nya datar dan dingin.
BERSAMBUNG.