TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.310


Andra bersama Daddy Rei menuju negara A.


"Bagaimana dengan istri mu Arvin?"


"Dia tidak ikut dengan kita karena pekerjaan di perusahaan paman nya sangat banyak"


"Oh ya, kasihan sekali musim dingin tambah dingin"


Andra hanya mendelik kesal pada sang Daddy yang baru saja menyindir nya.


Pramugari atau pelayan di pesawat pribadi sang Daddy datang menanyakan acara makan siang apa mau di siapkan atau nanti.


"Permisi tuan, bagaimana makan siang nya, apa kau dihidangkan sekarang?"


"Ya hidangkan sekarang saja"


"Untuk menu nya?"


"Steak, jus jeruk"


Pramugari itu sebentar-sebentar melirik pada Andra, lantas menoleh ketika akan menanyakan pesanan lelaki muda yang tampan di bawa oleh tuan besar Rei. Mungkin mengira adalah rekan bisnis eksklusif.


"Samakan saja"


Lanjut Daddy Rei karena pramugari itu masih setia menunggu. Kemudian pramugari cantik dan sexy itu hendak berlalu.


"Tunggu......!"


Pramugari itu berhenti, kembali menoleh dan mendekat ke kursi yang mereka duduki.


"Dia putra tunggal ku, semua milik ku adalah milik nya, jaga mata mu, dan selanjut nya jangan pernah muncul di hadapan kami, tarik gaji terakhir mu"


Pramugari tersebut tersentak kaget.


"Maaf tuan, tolong jangan pecat saya....."


"Tidak ada bantahan"


Pramugari cantik itu segera menunduk, lantas bergegas pergi ke kabin dapur yang berada di ujung pesawat.


Andra seolah tak mendengarkan percakapan sang Daddy, dia hanya membaca koran saja. Daddy Rei mengerti akan ketidak nyamanan sang anak pada pelayanan yang kurang ajar. Sebelum Andra melempar pramugari tadi, Daddy Rei segera antisipasi.


"Tuan makan siang sudah siap"


Kali ini pramugari lelaki yang berbicara dengan setelan jas yang elegant dan rapi.


"Baik lah"


Mereka segera menuju ke ruang makan karena perjalanan baru di mulai 4 jam lama nya masih tersisa sekitar 14 jam lagi.


Makanan sudah disiapkan mereka hanya berempat saja, Andra, Daddy Rei, Roy, dan Aryos. Mereka ayah dan anak di dampingi asisten kepercayaan masing-masing.


"Bagaimana kabar terbaru dari ayah Andreas, dad?"


"Ya begitu lah, belum ada yang signifikan juga, sama seperti 4 hari lalu baru jari saja yang ada pergerakan"


"Hem, mungkin karena waktu yang terlalu lama juga ya dad?"


"Mungkin, maka dari itu ayah mu mengusulkan Daddy agar berkunjung dengan mengajak diri mu"


"Semoga mommy masih ingat dengan Arvin ya dad"


"Semoga saja"


Sedangkan Aryos dan Roy hanya mendengarkan percakapan antara kedua ayah dan anak itu saja.


Mereka selesai melahap santap siang di pesawat pribadi itu mengobrol sebentar lantas Daddy Rei pamit untuk istirahat. Daddy Rei juga memiliki kamar sendiri di pesawat itu karena ada beberapa kamar, tempat duduk juga ruang makan. Selama 18 jam mereka mengudara akhir nya juga sampai di bandara negara A itu.


Keadaan masih gelap karena sampai pada waktu dini hari, udara sangat dingin meski sudah musim semi.


"Tuan Andreas menjemput di lobi bandara tuan"


Ucap Aryos.


"Baik lah"


Mereka turun lantas Aryos dan Roy membawa tas bos nya masing-masing. Seorang pria paruh baya yang tak lain asisten milik Andreas menghampiri keempat lelaki berbeda generasi itu.


"Selamat pagi tuan?"


"Pagi"


"Masi tuan, tuan Andreas menunggu anda semua di restoran"


Mereka berempat mengikuti pria paruh baya itu serta para bodyguard yang berjalan setelah nya. Nampak bandara lengang karena masih dini hari, hanya beberapa pesawat yang mendarat diantara nya pesawat pribadi milik Rei.


Mereka memasuki restoran mewah yang buka selama 24 jam penuh dengan pelayanan yang eksklusif tentu nya karena harga nya tentu saja tak diragukan dapat merogoh ratusan juta.


"Selamat pagi, kalian sudah tiba?"


Rei mengangguk, langsung menjabat tangan Andreas.


"Pagi"


"Ayah"


Andra langsung menyambut tubuh baya Andreas yang memang tinggi nya lebih rendah dari diri nya. Berpuluh tahun silam nyata nya lelaki ini lah yang menggendong nya, dia ingat betul bahwa restoran ini adalah restoran kesukaan nya.


Andreas tersenyum melihat anak kecil yang dulu manja masih mengingat makanan yang di sukai nya sudah dia pesan.


"Terimakasih ayah"


Tak ada rasa cemburu dalam benak Rei, karena hubungan mereka memang dekat dulu.


"Bagaimana perjalanan kalian?"


"Selamat semua yah?"


"Kau ini"


Meski kenal sejak kecil dengan Andra namun Andreas seolah masih sungkan, Andra hanya tersenyum saja melihat lelaki yang hidup nya adalah untuk diri nya seumur hidup.


"Ayo kita makan dulu, kau pasti sudah lapar kan?"


Sambil meninju bocah yang kini sudah duduk itu.


"Tentu, karena kau sengaja kau menghidangkan makanan kesukaan ku"


Andra berbicara dengan gaya biasa saja, tanpa memandang siapa pun. Sedangkan Andreas melirik Rei takut pria itu tersinggung karena bagaimana pun Rei adalah ayah kandung dari bocah tengil itu.


"Dia itu bocah kurang ajar yang kurang kerjaan kau tahu?"


Andreas mengangguk lantas tersenyum pada mereka yang ada disana.


Mereka semua makan dengan lahap karena memang di pesawat sudah makan dari 6 jam lalu. Apa lagi di restoran ini semua menu yang Andreas pesan sangat menggugah selera.


Setelah mereka melahap santapan dini hari itu mereka segera bergegas menaiki mobil yang ada 3 unit yang sudah terparkir di lobi bandara itu.


"Kita langsung ke rumah apa ke rumah sakit yah?"


"Ke rumah dulu, kalian istirahat dulu baru nanti siang kita ke rumah sakit, dokter juga selalu memantau perkembangan mommy mu"


Andra mengangguk dengan pasti lantas mobil melaju dengan kecepatan sedang karena angin nya juga cukup kencang meski sudah musim semi di negara A.


Hanya 1 jam perjalanan mereka kini telah sampai di mension megah milik keluarga Mid yang sering kali Andra tinggali yaitu rumah nenek dan kakek nya dari garis sang mommy.


"Kita bermalam disini Roy"


"Ini rumah siapa tuan?"


"Tentu rumah nenek dan kakek ku yang dari garis mommy"


Roy mengangguk saja, dia tak banyak bicara lagi.


"Kau istirahat lah, nanti siang kita akan ke rumah sakit tempat mommy ku di rawat"


"Baik tuan, selamat istirahat"


Andra menuju ke lantai 3 mension keluarga Mid, meski kosong sejak lama namun sangat bersih karena Andreas selalu mempekerjakan semua yang masih mau bekerja di mension ini.


"Baik lah kalian istirahat saja dulu, ananti siang kami menjemput untuk pergi bersama ke rumah sakit"


"Baik lah, selamat istirahat"


Andreas mengangguk setelah dia bergegas pergi meninggalkan mension keluarga Mid itu karena tuan sesungguh nya sudah kembali meski tidak lama.


"Kita pulang tuan?"


"Ya"


Tak ada pembicaraan lagi Andreas segera melajukan mobil nya ke rumah megah milik nya sendiri.


BERSAMBUNG.


"