TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.131


"Rei, biar paman yang berkendara"


"Baik"


Pria berjubah itu melihat lelaki kecil nya dengan tangan gemetar, itu sangat tidak baik.


CEKKITT


1 unit mobil lagi datang dari arah belakang Rei, mereka semua siap siaga karena Ravenda dan Aryos pun sudah berlari keluar ikut memapah Aksara.


"Hei, apa yang kau lakukan pada papah ku?"


Suara lantang milik Raksa menghentikan ke lima nya itu, mereka berhenti ketika dengan cepat Raksa berlari mengejar.


"Siapa kau?"


Ucap pria berjubah.


"Dan siapa kalian? dia adalah papah ku, apa yang kalian lakukan?"


"Diam dan kembali ke mobil!"


Ucap pria berjubah dengan tatapan menghunus dari balik topeng nya itu. Rei segera masuk ke jok belakang bersama Aryos, lalu pria berjubah segera menancapkan gas nya menuju rumah sakit.


"Rei, apa paman mu seorang pembalap?"


"Jangan tanyakan apa pun!"


Mobil milik Rei yang dikendarai Ravenda itu segera memimpin menuju rumah sakit, lalu mobil Aksara yang dikendarai pria berjubah setelah nya mobil milik Raksa. 30 menit kemudian mereka sampai, sementara Raksa menelpon orang rumah dan memberitahu keadaan Aksara selaku papah nya.


"Iya sayang, loh kok kalian cepat sekali sudah sampai di negara B?"


"Kita masih di negara Z mah"


"Kok bisa kak?"


Riana menyela yang kebetulan duduk di sisi sang mamah.


"Kami akan kembali ke rumah opa, kami mengambil jalan pintas tapi pas dijalan papah di papah oleh pemuda yang ada di resort dan teman-teman nya, papah terluka mah!"


PRANNGGG.....


Gelas yang sedang dipegang Cinta jatuh lalu air mata Cinta mengalir deras di pipi nya. Riana dengan cepat mengambil ponsel sang mamah.


"Di rumah sakit mana kak?"


"Di rumah sakit xxx, cepat kemari?"


"Baik"


Riana pun berlari dengan cepat mengambil jaket, membangunkan sang supir juga opa dan Oma, lagi dia mengambil mantel hangat untuk sang mamah.


"Ada apa ini?"


"Papah kecelakaan Oma, opa"


"Apa!"


"Kita harus ke rumah sakit sekarang"


"Ayo cepat"


Mereka bergegas keluar rumah, setelah menitipkan pesan pada penjaga untuk keluarga Dimitri. Mereka bergegas menuju rumah sakit yang ditunjukan Raksa menggunakan supir.


"Dokter tolong!"


Rei segera bergegas membopong tubuh Aksara yang terkena tembakan dibagi kiri nya. Aksara jelas masih agak sadar, dia tidak ingin memejamkan mata nya karena darah yang banyak terbuang keluar. Aksara memperhatikan semua struktur wajah Rei, sangat mirip tak ada celah apa pun.


Dokter pun datang mereka segera membawa Aksara ke ruang gawat darurat untuk operasi pengangkatan peluruh nya.


Mereka semua menunggu pria berjubah, Rei, Ravenda, Aryos, Raksa, Rieka, dan Indri. Mereka semua cemas, bahkan Rieka memeluk Indri menangis sesegukan. Dalam hal ini pria berjubah memandang kearah ketiga nya.


GGREEPP.......


Tiba-tiba Raksa menarik kerah baju Rei dengan kencang, memandang lelaki yang lebih muda dari nya itu.


"Apa ini karena diri mu, papah ku terluka parah hah!"


Wajah Raksa sudah merah padam dibuat nya.


"Kalau iya kenapa?"


Tinju seketika akan melayang ke wajah Rei.


PAAKK.


Namun tak sempat mendarat karena di tahan pria berjubah.


"Seorang Alkatiri tidak pernah gegabah seperti ini!"


Pria berjubah memandang dingin kearah Raksa.


"Ada apa ini!"


Tuan besar Ditya Alkatiri datang beserta rombongan nya, tak lama kemudian keluarga Dimitri juga Ardana datang secara bersamaan. Mereka melihat adegan itu dengan mata mereka langsung. Sementara Cinta menenangkan kedua anak perempuan nya, juga memeluk anak-anak nya agar tidak syok. Riana menenangkan Rieka dan Saluna menenangkan Indri.


"Raksa lepaskan cengkraman tangan mu itu"


Tuan besar Ditya berkata dengan ringan namun dengan penekanan akan kata kata nya. Diah melihat wajah anak muda yang dicengkeram cucu pertama nya itu, wajah Diah memucat dan refleks memegang lengan Ditya suami nya.


"Maaf opa, tapi karena mereka papah jadi terluka parah"


"Kita belum menyelidiki apa pun jangan berbuat gegabah, lepaskan!"


Raksa melepaskan cekalan tangan nya, dengan raut wajah tak senang nya juga kembali duduk. Cinta menatap kearah Rei yang hanya terdiam. Ditya mendekat pada Rei lalu duduk disebelah nya.


"Anak muda maafkan sikap cucu saya, dia selalu terbawa emosi"


"Tidak apa tuan besar Alkatiri"


Posisi Ditya sangat dekat dengan Rei bagaimana mungkin lelaki tua nan renta itu tidak melihat wajah anak muda ini.


'Aksara, wajah anak muda ini tak mungkin bukan cucu ku'


"Terimakasih sudah membawa anak ku ke rumah sakit"


Raksa yang sedang di tenangkan Damian nampak syok kala opa nya justru berterimakasih pada pemuda yang dia tuduh penyebab dari celaka nya sang papah.


"Sama-sama tuan"


"Siapa nama mu yang baik hati ini nak?"


Semua menatap kearah Rei satu keluarga lengkap Dimitri bahkan keluarga Ardana juga karena menemani putra nya yang ikut serta dengan Rei.


"Arei Rafiensah Aryandy, ini kartu nama saya tuan besar Alkatiri"


Ditya tersenyum kearah pemuda itu, sejenak mengelus kepala Rei. Entah perasaan apa namun sangat hangat elusan itu terasa. Ditya menerima kartu nama yang Rei sodorkan itu.


"Kalau begitu kami pamit dulu"


"Hati-hati di jalan"


"Baik tuan, kami akan menengok kembali nanti"


"Iya"


"Kami juga mohon diri dulu"


Ucap Wisnu Ardana seraya menggandeng istri nya.


"Baik, tuan Ardana"


Keluarga Ardana mengikuti Rei di belakang nya. Namun tuan Ardana kaget karena nyonya muda Alkatiri atau istri dari seorang Wicaksara mengejar pemuda yang tak lain teman akrab anak tunggal nya itu.


"Kau juga terluka nak, obati dulu luka mu setelah nya kau baru boleh pergi"


"Tidak usah nyonya aku tidak apa"


Rei melirik wanita paruh baya yang mencekal lengan nya yang tak terluka. Cinta tetap memegang lengan Rei.


"Maaf nyonya saya harus pulang"


Dengan berat hati Cinta melepaskan lengan Rei.


"Hati-hati di jalan"


Rei berlalu begitu saja, sementara Cinta menangis sesegukan karena di tolak anak itu untuk berobat. Entah mengapa dada Cinta seolah sakit namun rindu akan sosok pemuda itu.


"Mah, kenapa mamah mengejar lelaki itu?"


"Tidak apa"


Ditya bangun lantas menuju lorong sepi rumah sakit.


"Jaga papa kalian dulu, opa ada urusan ya"


Mereka semua mengangguk, dengan segera Ditya Alkatiri menghubungi seseorang.


"Datang lah kemari, ke rumah sakit xx lantai 5 VVIP"


"Baik tuan"


1 jam setelah nya datang pria berjas hitam dengan elegan menemui Ditya Alkatiri.


"Bagaimana tuan?"


"Pergi periksa, selidiki dan laporkan secara detail nya, ke bagian A untuk misi khusus"


"Baik tuan"


Pria berjas hitam itu segera berlalu dengan santai, sementara di balik tembok ada yang mendengarkan.


'Opa sedang melakukan apa?'


Gumam Riana di balik tembok, bukan opa nya tidak tahu melainkan membiarkan cucu nya yang sok cerdas itu.


'Gadis nakal'


Ucap Ditya sambil tersenyum smirk.


Di halaman rumah sakit semua berpisah untuk kembali ke rumah siang ini.


"Thank's Rav, kembali lah bersama keluarga mu maaf melibatkan diri mu"


"Santai bro"


"Kita selalu mendukung mu"


Ucap Aryos menyela.


"Memang nya apa dukungan mu itu?"


Ucap Ravenda setelah nya menoyor kepala Aryos.


Setelah kepulangan keluarga Ardana, Rei terdiam sampai mobil mereka menghilang.


"Obati luka ku dulu paman, supaya kakek dan nenek tidak curiga"


"Baik lah"


Rei menuju rumah sakit keluarga Aryandy, karena tidak jauh dari rumah sakit itu.


Setelah sampai di rumah sakit Rei diobati dengan segera.


"Aku belikan baju dan celana yang sama dulu untuk mu"


Ucap pria berjubah.


"Baik paman, terimakasih"


Pria berjubah segera pergi ke toko pakaian lelaki di sebelah rumah sakit.


BERSAMBUNG.