TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.148


1 Minggu setelah acara makan siang itu dua keluarga besar itu mengadakan acara resmi secara besar-besaran. Acara pertunangan yang megah untuk kedua pasang pengantin. Semua klien di undang, Aksara melakukan itu agar sedikit nya mereka ada kesibukan berbeda dan berharap sedikit nya mereka lupa akan masa pahit 3 bulan lalu.


Acara pun usai, Rei nampak menyantap makan malam nya sepiring nasi dengan daging berbumbu pekat dan pedas. Bahkan ini mungkin piring kedua yang hendak dihabiskan nya.


"Tuan jangan terlalu banyak memakan sesuatu"


Ucap Dino.


"Aku selalu lapar, paman"


Sahut Rei masih lahap memakan makanan nya.


Sejak kakek dan nenek Aryandy meninggal, selera makan Rei kembali seperti semula. Dulu saat kecil selera makan bocah ini selalu tinggi, meski ketika ditanya rasanya tak pernah dia jawab.


"Paman istirahat lah duluan"


"Baik lah tuan muda"


Dino segera pamit undur diri, setelah nya Rei hanya tinggal sendiri. Rei segera berlari ke wastafel karena setelah makan banyak pasti perut nya akan mual. Entah itu penyakit atau kah hanya sindrom saja. Rei kembali duduk di ruang makan, ada tangan seorang gadis yang menyodorkan jus mangga pada nya. Rei mendongak untuk melihat wajah wanita itu.


"Minum lah"


"Terimakasih kak Salun"


Saluna mengangguk dengan pasti lantas tersenyum tipis melihat lelaki muda yang dia taksir meneguk habis jus mangga buatan nya.


"Belum tidur?"


"Belum mengantuk"


"Oh"


Mereka sama-sama diam, lantas hanyut dalam pikiran masing-masing tanpa tahu dari lantai 2 kediaman Alkatiri sepasang mata memperhatikan. Hati nya begitu sakit, karena nyata nya calon istri yang di sodorkan sang papah memiliki lelaki idola nya sendiri. Dia adalah Raksa, lelaki yang sempat tersesat ke jalan hitam, Raksa segera masuk kembali ke kamar nya.


"Rei"


"Hem"


"Aku ingin mengatakan sesuatu?"


"Katakan saja"


"Sebenar nya aku menyukai mu"


Rei terdiam karena dia sendiri agak kaget dengan pernyataan cinta dari calon kakak ipar kakak pertama nya, atau sepupu anak dari paman nya ini.


"Lalu?"


Saluna mendongak menatap wajah tampan milik Rei.


"Hanya ingin mengatakan nya saja"


"Kak Saluna adalah calon kakak ipar ku, maaf kak kita adalah saudara juga"


"Aku mengerti, aku mengatakan ini hanya........"


"Selamat malam"


Rei meninggalkan calon kakak ipar nya, lantas naik ke tangga menuju kamar nya.


Tak ada yang istimewa bagi kehidupan Rei, dia masih terus mencari keberadaan Mike Sanunjaya.


Sementara Riana selalu dapat gombalan di hari-hari nya. Namun gadis itu sadar jika cinta itu tak akan pernah sampai ke tepian.


"Apa kau akan hadir ke pernikahan kedua kakak ku?"


"Tentu tidak, aku tahu diri dan juga aku tahu tak pantas diri ku ini menabur garam diatas luka keluarga mu Riana"


"Apa kau tak ingin menjelaskan pada mereka posisi mu?"


"Tidak, aku tidak punya banyak nyawa untuk menghadapi tuan Aksara dan adik mu"


"Apa kau tahu kemana papah mu?"


"Aku tidak pernah tahu kabar dari orang tua itu, semua perusahaan dan uang nya bahkan sudah lenyap, aku hanya mengandalkan usaha ku sendiri Riana"


"Lalu kenapa kau dikirim ke luar negeri?"


"Entah lah, karena aku sudah 4 bulan menetap disini, bahkan dia sudah menjadikan ku warga negara B"


"Wah papah mu sangat kompeten ya?"


"Mungkin"


"Dia melindungi anak nya dengan sangat baik"


"Bukan anak nya tapi anak-anak nya"


"Memang nya kau punya adik?"


"Punya seorang adik perempuan berumur 3 tahun dari istri pertama nya"


"Kau memiliki berapa ibu?"


"Istri ayah ku ada 3 Riana!"


"Wah ayah mu hebat juga"


"Jangan memuji ke brengsekan nya"


Tok....tok.


"Iya sebentar!"


Klek.


"Kak, coba gaun buat acara nikahan dua pengantin dulu"


Rei segera meninggalkan kamar Riana setelah di melirik nama pemanggil di ponsel sang kakak.


"Aku turun dulu ya"


"Baik lah sampai jumpa"


Riana segera turun untuk mencoba beberapa seragam keluarga yang akan mereka kenakan bersama di hari kedua mempelai berada diatas panggung pernikahan.


"Mah banyak sekali?"


"Iya 1 orang 5 set pakaian ya"


"Oh, baik lah"


Riana nampak mencoba satu demi satu pakaian nya. Setelah selesai dia berniat naik kembali ke kamar, namun di taman bunga dia melihat adik nya sedang duduk di ayunan.


"Wah senang sekali ya duduk disini?"


Tanya Riana pada adik lelaki nya.


"Sudah selesai baju nya?"


"Sudah"


"Tidak naik ke kamar lagi? bukan kah masih ada yang menunggu panggilan ponsel mu?"


"Hanya teman"


"Benar kah?"


Riana terdiam sebentar.


"Kau menyukai anak lelaki dari lelaki tua yang sudah membunuh kakek, nenek kandung dari ibu mu juga kakak perempuan mu?"


Mata Riana membelalak, dia baru mendengar bahwa rumor itu benar jika kak Rieka nya di bunuh juga oleh ayah dari lelaki yang dia sukai.


Rei tersenyum sinis.


"Mak lihat lah dengan jelas, jangan hanya cinta di mata mu tapi kau juga harus memastikan dia menyukai mu atau sekedar bualan semata kakak ku tersayang"


Riana menunduk, Riana meneteskan air mata nya dengan deras setelah kepergian Rei. Riana masuk ke dalam kamar, benar Herdan telah menghubungi nya puluhan kali.


"Iya"


"Kau menangis?"


"Tidak"


"Hei nona jangan bohong?"


"Tidak"


"Lalu kenapa?"


"Jangan hubungi aku lagi"


"Kenapa?"


Tut....


Riana mematikan sambungan nya seenak hati nya sendiri. Sementara lelaki muda di seberang benua lain nampak gelisah juga resah karena tiba-tiba saja sang pujaan hati nya meminta berhenti berhubungan.


1 Minggu kemudian acara pernikahan Akbar kedua mempelai itu di laksanakan dengan megah. Semua orang di undang, tanpa terkecuali. Herdan yang frustasi menyelinap masuk ke tempat acara resepsi megah itu, dia menyamar menjadi pramusaji hotel yang menjadi tempat acara tersebut.


Di pertengahan acara, Riana pergi ke toilet. Herdan mengikuti gadis itu, badan nya yang tinggi jelas menarik perhatian Rei jika itu bukan pegawai hotel biasa.


"Riana"


Riana kaget dengan suara familiar itu, dia menoleh melihat lelaki tinggi nan tegap menghampiri nya.


"Kenapa kau ada disini?"


Herdan langsung mendekap pujaan hati nya itu. Rei bergegas kembali ke pelaminan, lalu berbisik pada sang papah.


Aksara segera berdiri dari tempat duduk nya.


"Ada apa pah?"


"Papah mau cari Riana sebentar"


"Baik lah"


Aksara segera menggeledah semua tempat, lalu pasukan nya menemukan Riana di toilet sedang berbicara dengan seseorang.


"Riana!"


Riana segera melepaskan pelukan nya pada Herdan.


"Papah"


Gadis Aksara itu menunduk di hadapan nya dan di belakang nya seorang pegawai hotel yang mereka sewa.


"Buka lah topi mu anak muda!"


Herdan segera melepaskan topi penyamaran nya.


"Maaf tuan Alkatiri, saya sudah lancang"


"Ikut aku, Riana dan Rei juga"


Herdan langsung di sidang hari itu juga, dia memang di restui namun karena kesalahan sang papah nya atas kejadian 3 bulan lalu maka Aksara pun meminta bukti keseriusan dari Herdan Sanunjaya.


BERSAMBUNG.