
Herdan di buat bingung sendiri oleh pemikiran nya, ada beberapa spekulasi mungkin itu hanya pemikiran diri nya namun dia juga punya ketakutan. Sebuah ketakutan karena melalaikan tanggung jawab sebagai seorang kakak lelaki, anak lelaki, juga tulang punggung keluarga. Selama 10 tahun ini meski Herdan tak memiliki apa pun selepas sang papah tidak ada kabar berita nya, namun Herdan berusaha sekuat tenaga dan pikiran nya itu. Herdan berusaha mendirikan perusahaan, mencari sang papah meski buron, mencari mamah tiri dan adik tiri nya. Bagi Herdan mereka adalah keluarga, tanpa keluarga tak mungkin dia dapat berjuang. Jatuh bangun seorang Herdan demi menggapai kejayaan nya sendiri, bukan demi gengsi sebagai Sanunjaya namun demi kelayakan hidup keluarga nya terutama adik kecil cantik nya harus mendapat kehidupan yang manis saat mereka bertemu.
"Bos kita sudah sampai di hotel"
Ucap orang kepercayaan nya, menarik lamunan Herdan yang berkelana kemana-mana.
"Tunggu sebentar"
"Baik"
Herdan menutup mata nya, dia bingung, kalut akan pikiran tak menentu. Takut tidak bisa diterima oleh keluarga kecil yang baru dia temukan.
"Bos, apa boleh saya kasih saran"
"Katakan lah"
"Temui keluarga bos dulu, jangan sampai bos kehilangan mereka lagi, masalah mereka mau menerima bos atau marah pada bos itu belakangan yang penting bos punya itikad baik untuk mengunjungi mereka"
Herdan diam, lama lelaki itu berpikir. Ada benar nya, dia sudah berkepala empat, adik nya sudah lebih dari 18 tahun. Herdan menghela nafas, mengapa dia lupa poin ini, mereka telah dewasa seiring perjalanan waktu.
"Kau benar sekali, aku membuang waktu ku semalaman disini, aku naik keatas untuk mandi lalu kita temui mereka"
Dengan cepat Herdan bergegas untuk mandi, mengganti pakaian lalu kembali turun dan menuju rumah sederhana itu.
"Masih terlalu pagi"
"Apa kita akan menunggu lagi, bos"
Herdan terdiam lagi.
Sementara dari dalam rumah, Min yang tidak sengaja melihat dari jendela dapur ada mobil di depan rumah nya berhenti sangat penasaran.
"Kenapa?"
"Itu mobil kemaren sore mah!"
"Memang kenapa?"
"Kok kayak nya mengawasi rumah kita ya"
"Mungkin tamu rumah lain nak, jangan berburuk sangka"
"Oh"
Min kembali melanjutkan memasak nasi goreng, ikan, sayur juga memasak semangkuk bubur untuk sang mamah.
Tok.....tok......tok.
Nampak pintu rumah diketuk beberapa lama. Min hendak membukakan nya, namun mamah Laula mencegah nya hingga gadis itu kembali mengurungkan niat nya.
"Biar mamah yang buka saja"
"Baik mah"
Mamah Laula bergegas menuju pintu, melihat tamu yang mengetuk pintu rumah mereka.
"Sebentar......."
Klek.
Pintu rumah terbuka, mamah Laula nampak kaget dengan pemandangan di hadapan nya. Seorang lelaki meski tak semuda 15 tahun lalu namun nampak dari stelan jas nya lelaki itu sangat sukses.
Min mendekat melihat sang mamah yang hanya bengong bercampur kaget. Min melihat lelaki di hadapan mereka, sementara lelaki yang mereka tatap menundukkan kepala nya. Dia hanya berdiri seperti patung, tanpa bisa berkata apa pun.
BRRUKK........
Herdan bersimpuh di hadapan mamah Laula, air mata mamah Laula sudah membanjiri pipi renta nya.
"Mah..........."
Hanya kata itu saja yang terucap dari bibir Herdan tak ada kata lain, bibir nya seolah kelu.
"Herdan, kau kah itu?"
Begitu juga mamah Laula yang begitu terkejut bibir wanita paruh baya itu hanya sanggup berucap beberapa kata. Min hanya terdiam memperhatikan interaksi mereka.
"Mah........"
Min menepuk bahu sang mamah untuk bisa menyadarkan mereka.
"Mah ajak dia masuk dulu"
Sang mamah menengok ke sebelah lantas mengangguk dan membangunkan Herdan yang masih bersimpuh.
"Min buatkan teh hangat ya?"
Herdan mengangguk lalu tersenyum, menatap punggung gadis kecil yang dulu hanya setinggi paha nya. Gadis kecil cantik yang kadang mengelilingi diri nya hanya untuk dibelikan sebiji lollipop. Gadis kecil yang seperti boneka hidup, kini setelah 15 tahun menjadi gadis yang beranjak dewasa dengan kecantikan yang semakin bertambah meskipun di balut dengan penampilan sederhana nya.
"Bagaimana keadaan mu?"
Mamah Laula mengelus lengan Herdan karena anak suami nya itu memandang sendu kearah putri tunggal nya.
"Seharusnya Herdan yang bertanya begitu mah?"
Mamah Laula tersenyum tulus.
"Maaf, kalian sudah susah selama 15 tahun lama nya, maaf mah Herdan tidak bisa diandalkan"
Mamah Laula menggelengkan kepala nya.
"Kau tidak salah, kita semua tidak salah, ini semua takdir"
Min datang membawa teh hangat dan camilan untuk tamu dan sang mamah.
"Silahkan di minum"
Herdan mengangguk lalu menyeruput sedikit teh hangat nya.
"Min apa kau ingat siapa dia?"
Mamah Laula memberi pertanyaan pada putri nya itu. Min sengaja menggelengkan kepala nya.
"Dia kakak mu, kak Herdan"
Min menatap Herdan dengan lekat, memang wajah lelaki di hadapan nya ini tak asing namun dia tak mengingat nya dengan jelas.
"Min lupa ya, dulu Min sangat ingin bermain dengan kak Herdan, dia kakak lelaki mu satu-satu nya"
Min menoleh menatap sang mamah, dan mamah Laula mengangguk. Herdan akhir nya bisa berbincang dengan adik perempuan satu-satu nya itu. Mereka nampak akrab saat berbincang meski baru bertemu, menceritakan sedikit nya peristiwa-peristiwa yang mereka alami saat tidak bersama. Bahkan Herdan tertawa lepas ketika mendengarkan mamah Laula bercerita tentang adik gadis nya ketika masuk sekolah di hari pertama.
BERSAMBUNG.