TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.311


Andra tertidur dengan pulas di mension mewah milik mommy nya saat ini, dia begitu kelelahan karena perjalanan yang mereka tempuh cukup lama di dalam pesawat. Dia lupa belum mengabari istri nya dari kemarin hingga hampir malam lagi untuk hari ini.


Rindi hanya berfikir positif mungkin suami nya kelelahan karena dia tahu perjalanan mereka sampai 18 jam lam nya.


"Ngelamun saja"


Paman Rindi datang ke ruangan keponakan nya itu.


"Paman sejak kapan disini?"


"Baru saja, ini proyek yang kita garap Minggu ini paman sudah tanda tangan"


"Maaf paman"


"Kau merindukan suami mu?"


"Tidak juga, aku hanya menunggu kabar nya setelah sampai di negara A mungkin dia lelah dan sedang istirahat saja sekarang"


"Benar, mungkin disana masih malam"


"Iya"


Rindi mengambil dan segera melihat berkas itu sekali lagi.


"Baik lah, paman mau ke ruangan paman, jika lelah istirahat saja dahulu"


"Iya paman"


Rindi kembali melihat ponsel, dia segera bekerja karena takut pekerjaan terbengkalai kala dia selalu memikirkan lelaki yang menjadi suami nya.


Jam pulang, Rindi mengendarai mobil nya itu lantas segera menuju untuk pulang ke rumah suami nya, dengan di supiri oleh Anita. Terkadang gadis itu bertelepon meski agak berbisik, tapi Rindi tak curiga karena dia merupakan pengawal handal yang dipilih suami nya untuk berada di sisi nya.


"Mau pulang nyonya?"


"Iya, aku cape sekali An"


Mobil di kendarai Anita dengan lihai membelah jalanan hingga berhenti di kediaman megah milik Andra itu.


"Sudah sampai nyonya?"


"Baik lah, nanti untuk makan kita pesan delivery saja ya"


"Baik"


Anita mengangguk saja, tak berapa lama Rindi sudah masuk kedalam kamar. Dia mandi dan segera menuju belakang rumah, rumah tak sepi karena Andra mempekerjakan 20 tenaga handal seperti tukang bebersih rumah, tukang kebun, sekuriti, koki, dan pelayan yang hanya melayani mereka makan saja. Namun kadang Rindi bosan dengan masakan rumah terkadang beli online saja.


"Nona makan malam sudah datang?"


"Ajak yang lain makan"


"Baik nona"


Semua pekerja sekitar 20 orang itu sudah hadir tentu saja mereka sudah mandi dengan bersih dan wangi tanpa ada nya drama bau badan atau minyak wangi yang menyengat.


"Ayo semua nya duduk, ambil makanan sepuas kalian ya"


Benar sekali, namun merek mengantri setelah sang nyonya mengambil jatah makanan nya.


"Baik nyonya"


Serentak mereka menjawab.


Semua baris dengan teratur dari pelayan penyajian, koki, sekuriti, tukang bebersih rumah, supir hingga tukang kebun.


Mereka makan di meja makan dengan sang nyonya dengan khidmat tak ada acara makan rakus apa lagi acara makan mamang tukang atau warung kaki lima yang kaki nya naik ke kursi. Meski mereka pekerja namun terseleksi harus bisa menggunakan etika dalam makan sebelum bekerja di rumah megah milik Andra itu.


Benar saja di negara A, hingga siang semua orang terlelap dalam mimpi untung saja sudah pertengahan musim semi jadi cuaca tidak ekstrem atau pun dingin ketika musim dingin.


Andra melenguh, dia masih belum.mengumpulkan separuh nyawa nya. Dia mengelus samping tempat tidur yang sudah dingin.


"Yang!"


Tak ada sahutan, Andra memanggil istri nya meski mata nya masih tertutup.


"Ay, kamu sudah bangun?"


Kali ini Andra sudah duduk, terpaksa dia membuka mata nya karena lagi tak ada sahutan. Andra memandang sekeliling kamar, dia mengamati. Tak berapa lama dia membuang nafas kasar, rupanya baru ingat dimana diri nya sekarang ini.


"Kenapa tiba-tiba jadi bodoh sih"


Dia juga ingat dia belum mencharger ponsel pintar nya, sehari semalam pasti istri nya di negara Z khawatir karena sudah terbilang sehari dua malam tak mengabari wanita cantik milik nya itu.


Andra segera meletakkan ponsel di charger nya, sementara dia mandi agar tubuh nya relaks tak kaku.


KLEAK...


Dia keluar dari kamar mandi setelah mengenakan boxer dan mengeringkan rambut nya dengan handuk. Dia menekan nomor ponsel istri cantik nya itu, jujur rindu akan paras ayu dan manja nya apa lagi ******* nya.


"Halo"


"Ayang"


Terlihat wajah Rindi di layar besar milik nya yang berukuran 6 inci lebih tersebut.


"Sedang apa?"


"Sedang menanti kabar?"


Andra tersenyum, dia merebahkan tubuh nya. Karena hanya memakai boxer tentu saja tubuh sixpack nya terpampang.


"Habis mandi mas?"


"Iya yang, mau cium gak?"


"Gak ah, ntar cium layar loh"


Andra tertawa dengan ucapan istri nya itu.


"Maaf baru menghubungi mu yang"


"Iya"


"Aku baru bangun tidur dari jam 5 pagi tadi tadi tidur nya"


"Ya sudah mas makan dulu disana sudah waktu jam makan siang kan?"


"Kok ngusir yang"


"Tidak loh, kan mas perlu makan, jaga kesehatan ya"


"Pasti sayang ku"


"Ya sudah makan dulu sana terus jangan lupa tengok mommy ya"


"Pasti yang nanti ayah Andreas juga jemput kita akan berangkat bersama"


Setelah Andra berkata demikian, ada sedikit mendung yang terbit di wajah Rindi.


"Maaf, sayang"


Rindi kembali tersenyum meski baru menikah sebulan ini namun suami nya sudah peka dan hafal akan sifat nya. Lelaki yang 5 tahun lalu itu sangat dingin dan arogan kini menjadi lebih peka, hangat dan penuh kasih sayang pada diri nya.


"Ya sudah mas mau makan kok kamu malah melamun"


Rindi nyengir saja, karena masih ada di depan layar ponsel bersama suami nya.


"Maaf mas"


"Selamat malam sayang nya mas"


Mereka sama-sama mematikan sambungan ponsel itu, Andra sudah berada di meja makan sebelum selesai bertelpon ria dengan sang istri.


Andra baru melihat sekeliling, dia menggaruk kepala nya yang tak gatal karena ada Daddy Rei, ayah Andreas dan asisten nya, Roy serta om Aryos. Mereka semua menghela nafas berat karena tingkah absurd suami muda satu itu.


"Cepat makan, kita harus menengok mommy jangan sampai kesorean"


"Iya dad"


Acara makan siang yang agak telat karena menunggu Andra berjalan dengan khidmat, sendok dan garpu beradu di ruang makan itu dari keenam pria yang semua nya berbeda generasi.


Setelah menyantap santap siang nya, mereka bergegas menggunakan 2 mobil menuju ke rumah sakit terbesar di negara A itu. Selama 2 jam mereka menaiki roda empat hingga sampai lah di halaman luas sebuah rumah sakit mewah nan Mega dengan pemandangan indah dari awal masuk adalah taman bunga tulip khas negara kincir angin itu.


"Sudah musim semi ternyata"


"Benar tuan"


Roy hanya menanggapi ucapan tuan nya itu, dia duduk di kursi kemudi sedangkan bos muda itu sedang menikmati keindahan taman yang ada di depan rumah sakit dan menghirup bau harum bunga yang terbawa semilir angin di sore hari.


BERSAMBUNG.