
Semula suasana sangat asik namun dengan kedua muda-mudi yang bersalaman agak lama itu jadi canggung.
"Arindi biasa di panggil Arin atau Rindi juga bisa tapi nama asli nya dulu mengikuti papah nya Arindi Meysarah Mukti tapi setelah bertemu dengan ku paman kandung nya dia ku alihkan ke Arindi Amelya Adidharma, sekaligus dia yang akan mewarisi semua kekayaan keluarga ku"
Paman menjelaskan itu agar tidak ada kesalahpahaman. Tapi itu justru sudah membuat salah paham jadi lebih nyata lagi. Paman menyelesaikan kalimat nya dengan melirik kearah Andra.
Andra memegang gelas anggur nya, memainkan nya dengan seksi dan sedikit meminum nya. Rei melihat itu, memang elegan tapi dia takut jika sahabat nya berprasangka buruk. Sementara Rindi hanya diam sesekali melihat kearah Andra, lelaki idaman nya sepanjang hidup, lelaki tampan yang selalu bertahta di hati nya hingga detik ini.
'Kenapa secepat ini bertemu lagi dengan nya, hanya 3 bulan kembali kesini sudah bertemu lagi'
Gumam Rindi resah, entah apa yang dia resahkan. Tapi jelas terlihat gurat gelisah di wajah Rindi, dia terus memilih gaun nya hingga sedikit kusut.
Meski Andra acuh, cenderung diam setelah Rei perhatikan namun diam nya anak nya sedang memendam keinginan.
Mereka tidak ada yang melihat bahwasan nya ada pelayan yang mendekat dengan beberapa gelas anggur berwarna aneh mendekat kearah meja mereka.
BYYUURR......
BUUKKK......
Secara reflek Andra menarik tubuh Rindi untuk naik ke pangkuan nya. Sementara semua anggur dalam baki yang di bawa pelayan tadi tumpah ke kursi yang Rindi duduki hingga melepuh. Rindi melihat itu membekap mulut nya. Andra bangkit mendudukkan Rindi ke atas kursi milik nya itu.
SREET......
PLAAKK......
Sebuah tamparan keras, hingga pelayan itu jatuh tersungkur dan Andra menginjak bahu pelayan lelaki itu.
"Kau hanya debu di sepatu ku, tapi berani melukai orang didekat ku!"
Andra menendang beberapa kali tubuh kurus pelayan lelaki itu.
GREEPP.....
Rindi mencekal lengan Andra, sontak Andra melihat kesini nya.
"Sudah jangan pukul lagi, aku tidak apa"
Dengan lirih Rindi berkata.
"Kau membela dia, orang yang mencelakai mu?"
Rindi menggelengkan kepala nya.
Suara Andra sontak membuat semua orang menoleh, Roy dan para pengawal datang meringkus pelayan lelaki itu yang meringis kesakitan.
"Bereskan dia"
Rindi melihat itu, dia menundukkan kepala nya.
"Maaf"
Rindi melepaskan cekalan tangan nya. Seorang penanggung jawab perjamuan datang membawa kursi baru untuk Andra. Mereka duduk kembali dengan tenang seolah tidak ada yang terjadi.
"Paman, om, Arin mau ke toilet dulu"
Meski Andra diam, dia mendengar itu dengan jelas. Memandang pundak gadis itu hingga menghilang dari ruang jamuan. Rei juga paman Rindi memperhatikan gelagat mereka.
"Paman, Daddy, Andra mau ke toilet juga sebentar ya"
Mereka berdua mengangguk.
"Apa kita melakukan kesalahan?"
"Tidak"
"Kenapa kau tidak bilang jika membawa gadis mu?"
"Kau juga tidak bilang akan membawa jagoan tunggal mu itu"
Mereka sama-sama terdiam.
Di toilet Rindi sedang menetralkan perasaan nya, dia membasuh wajah dan cuci tangan. Rindi memoles lagi make up nya. Rindi keluar dari dalam toilet ketika berbalik, dia berjengkit kaget karena lelaki itu ada disana.
Andra bersandar di sisi toilet lelaki dan wanita, dia memang sengaja menunggu wanita itu.
"Permisi"
"Silahkan"
"Aku mau lewat"
"Boleh"
Saking pegal nya Rindi terdiam di tempat nya. Setelah Rindi dirasa diam, Andra segera mendekat merangkul pinggang gadis cantik itu. Jantung Rindi berdebar tidak karuan, sedetik kemudian wajah Andra sudah dihadapan wajah nya.
Bahkan tak terasa benda kenyal sudah menempel di bibir Rindi. Mata Rindi terbelalak, wajah nya bersemu ketika bibir Andra bergerak lembut di bibir nya. Tubuh Rindi di dorong ke tembok, tubuh mereka seolah menjadi satu. Andra menjilati bibir manis milik Rindi, menyesap dengan perlahan. Bahkan kini lidah nya merangsek meminta masuk ke dalam mulut gadis itu.
Rindi berusaha mendorong dada bidang berbalut jas putih milik Andra. Namun tak berhasil seolah Andra terus ingin bersatu dengan tubuh nya. Ciuman mereka yang semula sudah terlepas kini bibir Andra justru sudah mengeksplor mulut nya. Rindi tidak sadar dia membuka mulut nya memberikan lidah Andra untuk masuk.
Tentu saja Rindu menikmati, ciuman yang lembut tidak terangsang birahi namun sarat akan kerinduan mereka. Andra membopong tubuh Rindi menuju ke mobil sambil berciuman.
Sementara kedua lelaki paruh baya hanya menghela nafas melihat adegan itu dari lantai atas. Adegan Andra yang membopong Rindi sambil berciuman masuk kedalam mobil.
"Aku gagal memperkenalkan pewaris ku"
Ucap paman Adidharma.
"Mau bagaimana lagi, apa kau mau mengejar mereka yang sedang intim itu"
"Ck, anak mu sangat agresif sekali"
"Kau tahu kan anak ku sudah matang"
"Kenapa harus keponakan ku yang cari gara-gara dengan anak mu?"
"Karena anak ku bibit unggul"
Paman melihat remeh pada Rei.
"Sudah lah kita akan menjadi besan"
Rei merangkul sahabat nya itu lantas masuk menghadiri jamuan kembali tanpa muda-mudi itu.
"Hhhmm......"
Beberapa kali Rindi mendesah karena lumayan bibir Andra yang lembut di dalam mobil itu. Andra sudah berada diatas tubuh nya, beberapa kali mereka mengambil nafas.
Andra melepaskan ciuman nya, membelai rambut gadis itu yang mulai berantakan menyelipkan nya ke telinga. Andra membenamkan kepala nya ke ceruk leher gadis nya yang sangat dia rindukan selama 5 tahun ini.
"I love you"
Andra berkata sambil memeluk tubuh gadis yang berada di bawah nya. Rindi memeluk nya erat, jujur dia sangat bahagia, hati nya di penuhi oleh bunga yang mekar di musim semi.
"Paman ku masih didalam"
"Aku sudah mengabari Daddy jika membawa mu pergi"
Ucap Andra lembut, memandang wajah cantik gadis nya itu. Kini Andra bangkit, dia duduk disebelah Rindi. Gadis itu gaun nya sudah kusut karena diri nya yang agresif.
"Roy, masuk"
Lewat telepon Andra memanggil lantas segera Roy mendatangi mobil tuan nya.
"Tuan"
Begitu juga Novan dan Anita yang masuk di jok kedua. Rindi menunduk malu, perbuatan mereka barusan pasti sudah ketahuan.
"Ayo jalan"
Andra mendekat dan memeluk gadis nya.
"Mereka tidak tahu, jangan malu lagi"
Bisik lelaki tampan yang selalu Rini cinta hingga saat ini.
Mereka meluncur ke sebuah tempat.
"Kita mau kemana?"
"Nanti juga kau akan tahu"
Ketika mereka sampai mata Rindi membola kaget karena mereka menuju tempat ini.
BERSAMBUNG.