
2 tahun kemudian.
Perusahaan gabungan dari keluarga yang Rei pimpin sudah menjelma menjadi perusahaan terbesar di negara Z ini. Selama 2 tahun ini Rei menjadi seorang pria pecinta pekerjaan, hampir seluruh waktu dihabiskan pada pekerjaan.
"Tuan, nyonya meminta bertemu"
Entah berapa kali Cinta meminta waktu anak bungsu nya untuk pulang meski hanya sebentar. Dia tahu jika sang anak berduka, namun dia tidak pernah tahu kemelut rumah tangga sang anak.
"Suruh masuk saja"
Tak berapa lama wanita yang sudah paruh baya itu datang menemui sang anak yang sedang bergelut dengan beberapa pekerjaan.
"Rei......"
"Iya mah......"
Setelah menunggu satu jam Rei tetap sibuk, karena Rei mengembangkan beberapa perusahaan cabang sekaligus dan yang lebih parah dia menangani sendiri cabang itu hingga menyita waktu nya.
Meski Rei menjawab namun mata nya tetap fokus dengan layar kaca di depan nya seolah tidak ada yang menarik perhatian lelaki itu selain layar itu.
"Mamah sudah menunggu selama 2 tahun, tepati janji mu nak"
Rei mendongak sebentar, lantas dia mengangguk.
"Tentukan saja pilihan dan pengaturan mamah, Rei pasti datang mah"
Sang mamah hanya menghela nafas nya, entah sudah ke berapa ribu kali berbicara dengan sang anak ini.
"Baik lah, Minggu depan kamu menikahi Elian"
Sang mamah ingin melihat reaksi anak bungsu nya ini.
"Baik mah"
Ini lah reaksi yang tak mamah Cinta inginkan.
"Baik lah, mamah pulang dulu"
"Hati-hati di jalan mah"
Pintu ruangan Rei tertutup sang mamah sudah pergi, tak seperti biasa nya sang mamah mengomel panjang lebar. Namun sekarang dia hanya diam saja dan dengan cepat mengutarakan niat nya itu lantas pergi.
Rei menutup berkas, membuka kaca mata pelindung mata nya ketika berada di depan laptop. Mungkin sang mamah lelah dengan penolakan nya juga sikap acuh nya.
Dia ingat 2 tahun enam bulan lalu jika sang kakak memilih pindah ke negara M. Sang mamah sangat sedih, karena harus ditinggalkan salah satu anak nya. Alasan itu sudah cukup jelas, Herdan kakak dari Jasmin istri nya begitu membenci nya. Herdan pindah ke negara M, dia juga membawa mertua dari Rei yaitu mamah dari Min. Sang mamah sudah paham semua kondisi nya, namun beliau tidak berkata apa pun pada Rei. Sekedar mengucapkan kata benci pun tidak. Wanita yang seumuran sang mamah itu hanya diam dengan tatapan mata yang begitu sendu.
Rei duduk sambil melihat langit senja ini, dia masih memasang foto almarhum istri nya itu yang tersenyum ceria. Rei seolah buta dengan waktu dia tak sadar jika waktu acara pernikahan nya sudah akan digelar besok.
"Tuan"
"Iya"
"Anda tidak istirahat?"
"Untuk apa? toh aku tidak sakit"
"Memang, tapi besok malam adalah waktu pernikahan sekaligus resepsi anda"
Rei melihat Aryos yang tegap berdiri di samping nya.
"Bagaimana pengaturan dari mamah?"
"Mereka sudah mengatur semua nya dan lagi mereka sudah menetapkan tempat tinggal di rumah besar milik tuan Alkatiri"
"Baik lah"
"Oh ya tuan, nyonya Riana juga akan datang dengan anak kembar mereka dan mamah mertua nya"
Rei menghentikan tangan nya yang sedang mengancing jas nya. Mertua nya kakak nya juga mertua nya itu berarti dia akan menikah disaksikan mantan mertua nya.
"Beri pelayanan yang spesial buat mamah mertua kak Riana"
"Baik tuan, ada lagi"
"Tidak"
"Apa masih mau ke kantor hari ini?"
"Tentu, bagaimana dengan undangan nya?"
"Semua sudah diberikan ke seluruh pegawai"
"Bagus"
Aryos segera keluar dari kamar milik Rei di villa itu. Sejak Min pergi hingga saat ini Rei tidak pernah pindah ke rumah milik keluarga nya. Rei menghela nafas nya, entah apa yang dia tunggu disini.
"Tuan"
Rei menengok ternyata James sudah diambang pintu kamar nya yang terbuka.
"Masuk lah"
"Ini stelan jas pengantin anda"
"Letakkan saja disana"
"Baik tuan"
Rei melirik ada 5 setel jas untuk pernikahan berikut resepsi nya. Dia hanya berpesan pada sang mamah agar tidak menyita waktu kerja nya saja. Dan benar saja semua sang mamah kerjakan sesuai permintaan nya.
"Tuan tidak cuti"
"Aku banyak pekerjaan"
"Baik tuan"
"Setelah resepsi ku selesai, kalian segera berkemas kembali ke rumah besar"
"Baik tuan"
Rei segera bergegas menuju halaman, disana Aryos sudah menunggu dengan mobil nya. Mereka segera berangkat menuju perusahaan.
"Ada jadwal apa Yos?"
"Besok siang kita ada proyek di cabang D, lalu menemui investor ke luar negeri"
"Oh, baik lah setelah acara resepsi selesai kita bergegas kesana"
"Tapi anda baru saja jadi mempelai?"
"Memang apa hubungan nya?"
"Pihak di cabang mengusulkan untuk dijadwal ulang saja tuan"
"Apa mereka sanggup menanggung kerugian dari proyek yang akan kita tangani?"
Aryos langsung terdiam.
"Aku hanya menikah beberapa jam, memang kenapa jadi jadwal pekerjaan yang penting yang harus ditunda"
"Baik tuan, saya akan konfirmasi"
"Bagus"
Rei tidak istirahat meskipun para karyawan diliburkan selama 3 hari kedepan untuk menyambut resepsi pernikahan pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan itu.
Menjelang malam, langit masih berwarna jingga di ufuk barat, Rei sudah selesai dengan pekerjaan nya. Dia memanggil tukang spa ke kantor rekomendasi sang mamah. Ibarat nya Rei hanya tahu beres dan setor badan saja.
"Yos ayo sekalian spa nya"
"Baik tuan"
Hidup Rei seolah sepi sejak Min meninggalkan nya, namun Rei merasa wanita belia itu masih hidup di suatu tempat.
Para spa profesional itu melakukan tugas nya pada lelaki dewasa yang tergila-gila pada pekerjaan itu. Mereka melakukan perawatan saat ini saja itu pun dipaksa sang mamah jadi kedua nya menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat.
"Tuan"
"Hem"
"Bagaimana jika anda sudah menikah, lantas nyonya Jasmin masih hidup?"
"Tentu dia juga istri ku"
"Bukan kah anda sudah bercerai dengan nyonya?"
"Aku tidak mengajukan nya ke pengadilan"
"Oh"
"Kenapa?"
"Bagaimana jika aku menikah?"
"Tinggal nikah saja memang apa susah nya?"
"Anda setuju?"
"Siapa yang pernah melarang mu menikahi seorang wanita, Rave saja sudah memiliki anak"
"Benar juga sih tuan, baik lah"
"Apa kau ingin bonus?"
"Tidak tabungan ku sudah banyak"
"Sombong, nanti aku akan beri hadiah pernikahan saja untuk mu"
"Aku tidak memberikan anda hadiah pernikahan selama menikahi nyonya Jasmin tuan"
Rei terdiam tanpa menjawab.
"Maaf tuan"
"Tidak, kau tidak salah"
"Selamat tuan akan menikah kedua kali nya"
"Ya, semoga kau juga mendapatkan jodoh mu segera, agar aku bisa berbelanja untuk hadiah pernikahan mu"
"Baik lah, aku akan semangat mencari wanita"
"Wanita itu banyak, kau saja yang gengsian"
Mereka tertawa bersama sebelum akhir nya pergi ke pernikahan Rei.
BERSAMBUNG.