
Karenina tertidur di ranjang empuk nya dengan tenang serta bermimpi indah malam ini.
"Satu rintangan ku sudah ku singkirkan, kedepannya hanya perlu mengurus wanita ****** itu"
Dan hampir 4 jam, saat Daddy Ditya bangun di dini hari mencari istri kesayangan nya.
"Mom"
Daddy mencari nya, di kira sang istri sedang ke toilet.
"Tidak ada, kemana si mommy ini"
Daddy Ditya melihat air minum di atas nakas tidak ada. Maka dari itu dia segera turun ke lantai dasar untuk memanggil sang istri. Saat menuruni tangga ke tiga Daddy Ditya melihat samar-samar tubuh seseorang oleh karena itu dia menghidupkan saklar. Betapa terkejut nya Daddy Ditya, ternyata tubuh yang tergeletak bersimbah darah itu istri tercinta nya.
"Mommy......!"
Teriakan itu menggaung tepat di jam 3 pagi, Daddy Ditya memencet alarm agar para pekerja rumah semua nya siaga. Tak berapa lama kepala pelayan, supir, juga beberapa pelayan berlarian.
"Tuan besar ada apa?"
Melihat tuan nya menjadi kacau lagi piaya itu tercecer darah yang sudah mengental.
"Cepat siapkan mobil kita ke rumah sakit, SEKARANG!"
Sungguh raut muka itu lebih seram dari siapa pun. Mereka bergegas menyiapkan mobil membawa nyonya besar mereka untuk pergi ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi pada mu mom?"
Lirih Daddy Ditya dengan pilu, tampilan nya sudah kacau bagaimana tidak wanita yang sangat dia cintai tergolek tak berdaya tanpa seorang pun tahu.
"Kenapa bisa terjadi demikian, mom?"
Racaun Daddy Ditya.
"Bangun lah mom, demi Daddy, Rayz juga cucu-cucu kita"
Daddy Ditya melelehkan air mata nya.
"Tuan besar, sudah sampai"
Sekitar 20 menit, mereka sudah sampai di rumah sakit dimana Cinta dirawat juga.
Para dokter sudah stand by untuk menangani nyonya besar Alkatiri.
Begitu tubuh mommy Diah masuk ke UGD tak berapa lama Alan Dimitri dan keluarga nya datang menyusul.
"Kak"
Mamah Paramitha memeluk kakak lelaki satu-satu nya yang terlihat kacau.
"Aku sungguh tidak tahu dia sudah terjatuh dari tangga, Mitha"
"Sudah kak......sudah sebaik nya kita berdoa saja untuk kelancaran pengobatan kakak ipar"
Mamah Paramitha mengelus pundak lebar sang kakak. Sedangkan papah Alan dan Sheyla hanya terdiam sedih melihat keadaan yang mendadak itu.
Sedangkan Aksara baru akan kembali ke ruang rawat sang istri, dia melihat kepala pelayan ada di loby dan terlihat buru-buru.
"Ada apa kepala pelayan disini?"
"Tidak ada kabar bos"
"Ikuti dia"
"Baik bos"
Dino mengikuti kepala pelayan, hingga ke ruangan yang di tuju.
"Semua keluarga bos ada disini"
Dino mendengarkan beberapa percakapan dari seluruh keluarga bos nya.
Drrtt....ddrrtttt.
Dino segera menghubungi bos nya, Aksara yang baru akan mencapai handle pintu segera berhenti untuk mengangkat telpon tersebut.
"Iya"
"Nyonya besar kecelakaan bos"
Deg.....
"Dimana?"
"Di UGD bos"
"Tunggu aku segera kesana, kau berjaga di ruang rawat istri ku, telpon Melki segera"
"Baik bos"
Aksara berlari segera hanya turun 2 lantai UGD itu sudah ada beberapa orang keluarga juga pengawal dan para pekerja rumah.
"Daddy!"
Daddy Ditya menengok kearah suara, dilihat nya Aksara putra tunggal nya terlihat sehabis berlari.
Perkataan sang Daddy tak bisa diteruskan karena tubuh paruh baya itu tumbang.
"Kak.....!"
Mamah Paramitha menjerit melihat sang kakak sudah tumbang.
"Panggil dokter, tempatkan disebelah ruangan istri ku"
"Baik tuan"
Dokter mendorong brankar menuju 2 lantai lebih tinggi.
"Mamah dan Sheyla tolong temani Daddy, aku akan mengurus semua beserta papah Alan"
Kedua wanita berbeda usia itu menuruti perkataan Aksara mereka segera ikut dengan dokter yang membawa sang Daddy.
"Pah titip mommy sebentar aku akan menemui dokter dulu"
"Pergi lah"
Aksara berbicara di ruangan dokter jika kamar dilantai 8 itu harus dikosongkan hanya ada keluarga nya saja. Dengan cepat dokter menyetujui nya, dan menyiapkan semua keperluan mereka.
Jam 9 pagi operasi baru selesai dilakukan, dengan segera mommy Diah di pindahkan ke ruang rawat dimana Daddy Ditya juga dirawat. Aksara sudah mengatur pengawal dan penjagaan yang langsung di tangani Dino, sementara Melki kadang menggantikan Aksara di ruang rawat istri nya meskipun pengawal berjaga ketat dan lantai 8 di blok.
Klek.
Aksara kembali ke ruang rawat inap istri nya dengan keletihan, sementara Cinta sedang memakan sarapan bergizi nya.
"Sudah kembali?"
"Aku akan mandi dulu, sayang"
Cinta mengangguk.
Lantas Aksara masuk ke kamar mandi, untuk membersihan diri nya dan merilekskan pikiran nya agar dapat berpikir jernih. 1 jam berada di kamar mandi rumah sakit itu, Aksara dengan bugar dan berpakaian rumahan keluar dari kamar mandi.
'Dia bertambah tampan sekali'
Ucap Cinta, namun terdengar oleh telinga Aksara dengan lirih.
"Aku lelah sekali sayang, boleh ya rebahan di paha mu?"
Cinta mengangguk, Aksara segera merebahkan kepala nya di paha Cinta. Dengan refleks Cinta membelai rambut tebal suaminya, Aksara merasa sangat nyaman dia memposisikan memeluk pinggang Cinta hingga dapat menciumi perut nya.
"Geli....."
"Oh ya ......!"
Cinta menarik hidung mancung suami nya.
"Kenapa gemas kah?"
"Tidak....."
Kemudian Aksara menciumi perut istri nya bertubi-tubi.
"Aku ingin istirahat sebentar, setelah itu kita tengok mommy"
"Tengok mommy! memang mommy kenapa?"
"Tidur dulu nanti kita sama-sama kesana"
"Baik lah"
Untung Cinta penurut, jika tidak Aksara akan selalu khawatir dengan wanita tercinta nya.
2 jam Aksara terlelap dipangkuan istri nya itu, dia lantas terbangun melihat wanita cantik nya tertidur sambil duduk.
"Sayang...."
Aksara menggoyangkan tangan istri nya perlahan.
"Hemm....."
"Bangun yuk, kita tengok mommy"
"Lemas sekali byy"
Deg.......deg.....
Panggilan itu sudah Aksara rindukan selama 28 bulan ini, saat ini dan di detik ini dia mendengar nya lagi.
"Kamu panggil apa barusan?"
Aksara mendekatkan muka nya ke wajah sang istri.
"Hem......"
Cinta malas bangun tapi bagi Aksara itu terlihat tingkah manja yang sangat imut sekali.
BERSAMBUNG.