TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.326


Ya memang benar ucapan paman nya semenjak Rindi di vonis hamil oleh dokter dia di karang bekerja oleh sang paman, bahkan kamar nya berpindah di lantai dasar di kamar tamu utama.


Semua kasur, ranjang, lemari bahkan jendela pun di ganti paman nya. Tak tanggung-tanggung bahkan paman membuat kebun bunga supaya perasaan bumil itu selalu bahagia setiap saat.


"Paman ini?"


"Tadi paman menyuruh pelayan dan semua pekerja di rumah ini untuk merombak kamar utama tamu untuk kamar nya sementara"


"Terimakasih paman"


Paman hanya tersenyum saja menanggapi ibu hamil muda itu.


"Apa kau sudah mengabari keluarga dari suami mu?"


"Belum paman"


"Kenapa? Jangan yang aneh-aneh ya"


"Nanti saja buat kejutan kalau perut Arin sudah membuncit"


"Itu butuh 5 bulan loh Rin"


"Oh ya, emang gak bisa langsung besar"


Tanya Rindi polos.


"Tentu tidak bisa non, apa lagi anak pertama pasti kelihatan nya nanti setelah 7 bulan"


"Emang apa beda nya bik?"


"Beda lah non karena perut nya masih kencang belum terlalu melar, hamil memang tak ada pantangan tapi tak harus memakan semua nya agar ibu dan bayi sehat"


Rindi tampak mengangguk dengan tenang.


"Nanti bimbing Arin buat jadi ibu hamil siaga"


Si bibik tersenyum melihat tingkah ibu hamil muda yang manja itu lantas mengangguk.


"Ya sudah pilih saja pengasuh mana yang kamu suka nanti paman meminta nya buat mengurus mu dengan telaten"


"Iya tuan si non seperti nya manja sekali, jangan-jangan si kecil ini gadis cantik ya"


Tutur sang bibik yang tersenyum, paman mengelus kepala keponakan tersayang nya yang sudah akan menjadi seorang ibu muda.


Ada rasa khawatir yang terlalu tersirat di mata tua sang paman, seperti masih basah ketika sang adik melahirkan keponakan perempuan yang lucu dan cantik namun belum seminggu bayi merah itu ada di dunia namun lihat lah adik kesayangan nya sudah tak bernyawa.


"Paman, ada apa?"


Karena disaat Rindi tersenyum sang paman malah melamun meski ada di tempat sang sama dengan diri nya.


Paman terlihat enggan berbicara, Rindi meminta, bibik dan Anita segera berpamitan kepada paman dan keponakan agar mereka bisa leluasa untuk berbicara.


"Ada paman?"


Rindi menjadi tidak enak dengan paman nya karena lelaki baya itu nampak murung, apakah lelaki yang menjadi sandaran hidup Rindi melebihi sang papah itu tidak menginginkan buah hati yang sedang tumbuh di rahim nya.


"Tidak apa nak"


Paman mengelus rambut legam milik Rindi dengan sayang, seutas senyum dia berikan pada keponakan nya itu.


"Apa paman sedang berbohong pada ku?"


Paman menggelengkan kepala nya.


"Tentu tidak"


"Apa paman tidak menyukai kehamilan ku ini?"


Lirih Rindi.


"Tentu tidak mungkin sekali, paman juga sangat bahagia, sangat berharap penerus keluarga kita lahir dari rahim mu"


Rindi tersenyum sejenak karena ucapan sang paman namun tidak dapat memungkiri jika itu hanya ucapan belajar karena gurat wajah sang paman nampak kecewa.


"Paman aku sangat bahagia saat ini, meski aku akan susah tapi dia juga keluarga ku"


Paman mengangguk membenarkan ucapan keponakan nya itu.


"Dia akan menjadi kesayangan paman tentu nya"


"Benar kah?"


Paman menganggukkan kepala nya, tanda setuju.


"Aku akan memiliki keluarga baru paman, aku sungguh mencintai nya"


Ucap Rindi manja.


"Jaga kesehatan mu, hati-hati dan jangan stres atau pun banyak pikiran mengerti?'


"Siap paman, kau akan jadi kakek"


Ucap Rindi, paman tersenyum. Bocah gadis cilik itu yang menggemaskan kini akan menjadi seorang ibu.


'Lihat lah, kebahagiaan sudah menghampiri putri kecil mu dek'


Ucap paman mengingat tentang sang adik yang tentu nya sudah berada di surga sana.


"Nanti aku akan mengunjungi rumah mamah, paman!"


Rindi mengangguk saja.


"Sekarang perbanyak istirahat, nanti bibik akan menemani mu dan Anita, banyak minum vitamin ya"


"Iya paman"


Paman segera bergegas menuju keluar dari kamar nya.


"Apa aku rela Arin mengandung anak nya, aku sangat khawatir sekali, apa lagi suami nya belum pulang dan berada jauh dari sini"


Ucap paman sendu.


Sementara di seberang sana, pemulihan dari mommy Jasmin sangat cepat sekali, Andra menemani setiap proses karena ingin mensupport mommy nya dengan sepenuh hati.


"Apa kau tidak lelah?"


Tanya Daddy Rei.


Andra menggelengkan kepal nya, dia tersenyum melihat mommy kesayangan nya itu mulai berjalan perlahan.


"Aku sangat bahagia sekali dad"


"Apa penyebab nya?"


"Tidak ada hanya merasa sangat bahagia sekali"


Daddy Rei mengangguk, tersenyum pada anak semata wayang nya.


"Jangan lupa kabari bidadari mu"


Daddy menepuk pundak sang anak.


"Setiap malam malah"


Daddy Rei tersenyum, ada rindu yang menumpuk di pelupuk mata anak lelaki nya itu.


"Ada yang kangen berat nih seperti nya?"


Andra mengkerutkan kening nya, sontak membuat Daddy Rei tertawa. Mommy Jasmin melihat aneh kepada ayah dan anak itu, dan hanya menggelengkan kepal nya saja.


"Aneh sekali"


Mereka berdua melambaikan tangan nya tertuju untuk sang mommy tersayang.


"Mereka begitu kompak"


Sahut Andreas.


"Benar, mereka juga mirip"


"Karena mereka ayah dan anak"


Jasmin tersenyum melihat Andreas yang juga menunggui nya di dalam ruangan sementara ayah dan anak itu terlihat berdebat.


"Cepat sekali ya penyembuhan nya?"


Ibu Amelia menyembulkan kepala nya, karena dia juga melakukan perawatan pada saraf nya. Dia selalu melatih pikiran nya agar jernih di rumah sakit, dia tidak ingin merepotkan orang lain lagi meski itu Andra anak angkat nya.


"Kakak kapan tiba?"


"Baru saja, untung masih sempat ya"


"Iya terapi ku lama nih"


"Sama saja, terapi ku juga lama"


Andreas keluar terlibat dengan percakapan ayah dan anak itu.


"Ayah juga disini?'


"Iya disana juga ada ibu Amelia juga"


Andreas menunjuk pada ruangan yang ada ibu angkat dan mommy nya.


"Kok ibu ada disini?"


"Mungkin sedang terapi juga"


Sahut Daddy Rei.


"Bagaimana dengan pasien yang lain ayah?"


"Papah mertua mu sudah mulai pemulihan karena 3 hari lalu baru di lakukan operasi oleh dokter, jadi jangan cemas ya"


Andra mengangguk dan tersenyum pada ayah Andreas.


"Terimakasih ayah selalu menolong orang yang aku sayangi"


"Karena ayah juga menyayangi orang yang kau sayang Avin, kita ini sama Vin jadi jangan sungkan, lagi pula ada Daddy mu yang siap dengan dana nya"


Andra mengangguk, Daddy Rei menepuk bahu anak nya dengan pelan seolah memberi semangat pada anak semata wayang nya.


"Jangan melow lah, masa kok jadi hello Kitty"


Ujar Daddy Rei kemudian ketiga nya tertawa terbahak-bahak.


BERSAMBUNG.