
Meski Rei memejamkan mata nya, namun otak nya tak pernah tertidur. Terlintas bayangan sang nenek yang sejak kecil menyuapi nya, menemani nya bermain bahkan mengajarkan huruf untuk membaca juga berhitung. Air mata Rei mengalir, tangan nya mengepal kuat, dia bersumpah atas pembunuh nenek, Queena juga kakek nya yang sedang sekarat saat ini.
"Tuan muda"
"Iya paman"
"Kakek ingin bertemu"
Rei segera bangkit berlari menuju ruang rawat kakek nya, disana dia melihat jasad sang supir telah di tutup kain kafan. Rei berhenti menatapi jasad itu lantas masuk ke ruangan untuk bertemu sang kakek.
"Kakek"
Lirih Rei, sang kakek nampak tersenyum dengan susah payah karena mulut nya di selang. Tak berapa lama Cinta datang dengan terburu-buru, air mata Cinta sudah bercucuran.
Kakek mengulurkan tangan nya yang langsung di sambut Rei. Namun tangan kanan nya menunjuk pada Cinta.
"Papah"
Lirih Cinta, Aksara pun ikut masuk.
Kakek Aryandy membuka selang nya.
"Pah, jangan di buka"
Kakek Aryandy menggelengkan kepala nya.
"Terimakasih Rayz, kau memang menantu terbaik kami, terimakasih sudah menitipkan dan memberi kesempatan mengasuh putra mu....."
Kakek Aryandy menarik nafas nya sebentar.
"Sekarang aku serahkan dia untuk kau jaga"
Kakek Aryandy melihat sebentar pada cucu kesayangan nya itu, lalu memberikan liontin keluarga Aryandy kepada lelaki muda yang berdiri tegap di samping kiri nya.
"Untuk mu sebagai kado yang terakhir dari kakek, maaf tidak bisa menemani mu lagi, tubuh kakek sudah hampir hancur Rei"
"Kakek"
"Kakek tidak menghalangi mu untuk balas dendam tapi setelah kau menjadi kuat"
"Nak, papah dan mamah sangat mencintai mu sangat"
"Papah...!!"
Cinta berteriak histeris setelah kakek Aryandy menarik nafas untuk yang terakhir kali nya. Cinta kembali pingsan, lalu beberapa orang membawa Cinta ke kamar. Sementara jasad Rieka masuk, jasad itu membiru karena 24 jam terendam air, lalu di masukan ke dalam ruang pendingin.
Rei masih memegang tangan kakek nya, memandang jasad kakak perempuan nya yang belum sempat bertemu secara pribadi, apa lagi sampai mengenal nya.
"Dia kakak perempuan mu, dia juga kembaran Raksa"
Lirih Aksara.
"Istirahat lah setelah puas berbicara pada jasad papah"
Aksara sendiri tak punya tenaga dengan kejadian ini.
"Besok setelah meeting, aku akan ketempat kejadian"
"Kita pergi bersama, papah sudah lapor polisi"
Hanya berselang 3 jam, dalam 3 jam Rei sudah memahami semua pengalihan perusahaan ke nama nya. Semua perusahaan sudah Rei ketahui, ada resort, perusahaan di bidang bahan pokok, furnitur, makanan siap saji, juga pemasok bahan pangan di pasaran.
Pagi sekali Rei sudah berpakaian rapih, dia telah menghubungi Ravenda juga Aryos untuk ikut bersama ke meeting.
"Rei"
Rei menengok kearah seorang gadis, disana berdiri Riana, Indri juga Saluna.
"Kau mau kerja, sarapan lah dulu"
Ucap Riana.
"Baik lah"
"Ini porsi nasi goreng mu"
Rei makan dengan lahap, bahkan dia menambahkan porsi nya dua kali lipat. Riana hanya tersenyum karena nasi goreng nya begitu di sukai oleh Rei.
"Terimakasih kak"
Riana mengangguk.
"Hati-hati"
Rei tersenyum tipis.
'Aku tahu kau sangat terluka, tak mungkin orang terdekat mu di bunuh dan kau baik-baik saja'
Gumam Riana dalam pikiran nya.
Rei pergi ke perusahaan pusat milik kakek Aryandy, dia di sambut di loby oleh seluruh karyawan.
"Pak Arto, cepat siapkan semua keperluan meeting hari ini dan jumpa pers setelah nya"
Rei lebih baik mengumumkan jati diri nya dari pada menutupi nya dari para pembunuh sang kakek dan nenek nya.
Meeting sangat lancar, mereka menerima semua keputusan Rei karena mereka tahu bahwa sejak kakek Aryandy mengumumkan itu semua milik cucu nya sejak kecil maka merek menerima bos kecil itu.
Para wartawan pun hadir dari seluruh saluran televisi untuk menayangkan jumpa pers itu. Mengumumkan jika perusahaan Aryandy di pimpin oleh Rei, sekaligus mengumumkan kematian kedua kakek dan nenek Rei karena kecelakaan kebakaran itu.
Semua heboh bahkan semua nya gempar mendengar penuturan pewaris tunggal kekayaan kakek Aryandy.
Setelah nya Rei bergegas pergi begitu saja, dengan kaca mata hitam yang selalu melekat di mata nya. Rei segera menuju kediaman Aryandy yang terbakar semalam.
"Periksa semua nya"
Perintah Rei mutlak.
Dino memperhatikan perubahan Rei dalam semalam. Sungguh tragis hanya dalam semalam bocah lelaki yang ceria kini bak gunung es, sifat kejam nya sudah muncul.
"Jangan ada yang terlewat sedikit pun"
tambah Rei lagi.
BERSAMBUNG