
Andra masih asik di kamar nya, bukan nya bersyukur anak mereka tiada tapi karena dokter memvonis istri nya akan susah mengandung dalam jarak dekat tentu nya.
Andra selalu memanjakan istri nya agar bisa melupakan kisah sedih ini, kisah pilu kehilangan calon makhluk mungil itu. Bahkan sehari semalam ini Andra habiskan dengan bercumbu dan bercinta dengan mesra dengan Rindi.
Semua Andra sengaja mengerjai istri nya habis-habisan agar tidak bersedih dan hanya memikirkan diri nya saja. Andra tersenyum geli kala mengingat tingkah absurd nya itu.
Mata Rindi mulai bergerak, benar saja sedetik kemudian dia membuka mata nya, wanita muda itu memicingkan mata nya.
"Sudah bangun yang?"
Rindi mengerjapkan mata nya lantas mencari suara tanpa rupa itu. Dimana gerangan suami nya itu berkata tapi tidak ada di sekitar nya.
Tak lama ada sesuatu yang menggigit nya di dalam selimut.
"Awww........"
Rindi meringis kaget dan sakit tentu nya di bagian dada itu dia rasakan. Rindi membuka selimut yang membungkus nya sampai ke dada yang terlihat menggembung itu.
Mata Rindi membola melihat sang suami nampak dengan semangat seperti bayi sedang menyedot dada nya.
"Mas...bikin kaget saja"
Andra hanya mendongak, tanpa menghentikan kegiatan nya. Malah tambah parah, tangan sudah mulai meraba apa pun yang istri nya miliki.
"Mas aku mau mandi, lengket"
Andra yang memang sudah mengerjai istri nya dari kemaren siang itu tersenyum.
"Kok malah senyum, mesum tau"
Andra melepaskan pagutan pada dada istri nya yang agak merah di bagian ****** nya.
"Ya sudah mas gendong ya?"
Tawar nya dengan senyum yang tak luntur dibasuh sabun colek.
"Tidak usah nanti lama"
Rindi bangun, dia menghela nafas, benar tebakan nya pinggang ngilu, area pangkal paha nya sedikit sakit, lagi kaki nya juga sedikit Tremor.
'Ih kok pake Tremor segala?'
Ucap Rindi dengan kesal dia melangkah sedikit demi sedikit.
Nyata nya semua tingkah laku Rindi di perhatikan oleh Andra. Lelaki itu dengan cepat berjalan dan langsung menggendong istri nya yang sudah berjalan.
"Mas ........!"
Rindi memekik kala tubuh nya melayang keatas karena di bopong paksa oleh suami nya.
Andra tersenyum dan tak peduli pada pekikan istri nya itu. Andra segera membawa istri nya ke kamar mandi untuk dimandikan.
"Aku lelah mas"
"Iya sayang"
Andra hanya duduk memperhatikan istri nya yang berendam, sebenar nya masih menginginkan mereka merajut kasih namun apalah daya istri nya sudah Tremor gak lucu kalau harus dirawat di rumah sakit kan.
"Ya sudah sana keluar"
Usir Rindi kemudian.
"Mau di tungguin apa di tunggangin?"
"Mesum, keluar"
"Aku tidak akan melakukan apa pun, kamu mandi saja loh"
Rindi cemberut saja, dia tetap berendam meski sebentar dan air nya juga cepat dingin. Sementara Andra sudah mandi menggunakan shower, lelaki itu bertelanjang di depan istri nya. Rindi sudah tidak aneh dengan tingkah suami nya itu.
"Sudah belum?"
Andra sudah selesai dengan mandi nya itu, Rindi berdiri hendak membilas tubuh nya itu. Tremor nya sudah hilang, tubuh nya sudah agak berkurang pegal nya.
Andra ingin menuntun istri nya itu menuju lemari pakaian mereka.
"Tidak usah, aku bisa jalan kok"
"Iya"
Andra memilih pakaian rumahan kaos dan celana selutut saja, sedangkan Rindi memilih menggunakan daster saja.
"Yang kok pakai daster?"
"Kenapa?"
"Di rumah ada Daddy sama Will loh"
Rindi terdiam dia segera kembali ke tempat pakaian, Rindi memilih menggunakan rok plisket dan kaos longgar saja namun tidak menerawang.
"Tidak pakai celana saja yang?"
Rindi menghembuskan nafas nya kasar, memandang Andra dengan cemberut.
Rindi kembali ke lemari pakaian mereka memakai celana kulot saja.
"Bagaimana?"
"Hem oke deh"
Rindi hendak menguncir rambut nya namun segera Andra cegah.
"Kenapa, panas mas?"
"Kamu lagi cosplay jadi macan tutul tuh"
Andra menarik lengan Rindi ke hadapan cermin. Benar leher nya nampak belang, mata Rindi melotot dan mencubit kasar perut suami nya itu.
"Sakit yang"
"Sukurin, tau rasa"
"Aku kan tidak salah yang"
"Lalu siapa yang buat leher ku belang?"
"Mulut ku lah, bukan aku"
Dengan gemas Rindi mencomot mulut Andra hingga monyong.
"Aku lapar mas, mau makan"
"Ya sudah ayo"
Mereka turun untuk sarapan karena masih pukul 8 pagi saat ini.
Ketika turun di meja makan ada Daddy Rei dan mommy Jasmin, William dan Lisa.
"Nah akhir nya kalian sarapan juga"
Ucap mommy Jasmin.
"He...he, iya mom"
Ucap Andra dengan cengiran nya dan wajah yang sangat ceria.
"Ayo mommy masak sarapan kesukaan kalian"
"Iya mom"
Mereka memakan sarapan dengan lahap, terutama Andra maka sampai 3 porsi piring. Begitu juga Rindi sampai nambah ke porsi kedua nya.
Baik mommy Jasmin maupun Daddy Rei sampai saling pandang melihat porsi makan anak tunggal dan menantu nya ini. Mereka para sepuh hanya bisa saling senyum saja.
Lain hal nya dengan Lisa pasangan itu makan dalam diam, tak ada ucapan apa pun atau interaksi apa pun.
Will yang lebih dulu menyelesaikan sarapan nya itu.
"Aku pamit duluan ya, ada kerjaan di galeri seni ku"
Ucap Will pada semua nya.
"Mau pameran?"
Tanya Andra, melihat kearah pasangan itu yang baru saja seminggu lalu mengadakan resepsi pernikahan mereka.
"Ya kira-kira begitu lah"
Jawab Will singkat.
"Kak Lisa tidak diajak kak Will?"
Ucap Rindi.
"Dia butuh istirahat, nitip Lisa ya"
Ucap William dengan datar, dan tanpa pamit ke Lisa William bergegas keluar mansion keluarga Mid.
Lisa pun tanpa menatap kepergian lelaki itu dan hanya terdiam saja melanjutkan sarapan nya.
Mommy Jasmin ingin bertanya pada Lisa namun Daddy Rei melarang nya karena itu urusan keluarga kecil mereka.
"Kak"
Ucap Rindi, Lisa pun melihat kehadapan nya dimana Rindi berada.
"Kalian bertengkar?"
Lisa menggelengkan kepala nya itu.
"Lalu?"
"Di pernikahan kita tidak ada masalah apa pun karena pernikahan ini di mulai juga bukan karena apa pun"
Lisa berkata demikian karena Daddy Rei dan mommy Jasmin sudah pamit kedalam kamar sedangkan papah Afar sedang pergi ke rumah sakit.
"Kakak bisa cerita pada ku jika ada masalah apa pun dengan pernikahan kakak jangan di pendam sendirian, siapa tahu aku bisa cari solusi atau kita bisa cari solusi bersama"
Ucap Rindi pada Lisa meskipun pernikahan nya baru menginjak 6 bulan dengan sang suami.
"Baik lah, kamu tenang saja, kakak akan selalu bercerita pada mu dan papah tentu nya"
Ucap Lisa sambil tersenyum pada Rindi.
BERSAMBUNG.