
Rei sudah dijahit luka nya dengan benar, sudah langsung dilaser juga supaya tidak berbekas.
"Sudah selesai?"
"Iya paman"
"Ini baju mu"
Rei menerima paper bag yang berisi pakaian lengkap nya, Rei menuju kamar mandi yang ada di sana, 1 jam membersihkan diri lalu memakai pakaian semula. Hari pun menjelang sore dan pria berjubah itu membawa Rei pulang ke rumah.
"Kalian sudah pulang?"
"Iya nek"
"Dari mana saja?"
"Paman mengantar ku mencari bahan-bahan tugas dengan teman-teman juga"
"Maka nya keliling kota ini supaya hapal agar bisa pergi dan memilih sesuka hati"
"Iya nek"
Sang kakek hanya melirik saja tanpa berniat menegur cucu nya, karena dia tahu apa yang terjadi pada cucu nya.
"Rei ke kamar dulu nek"
Rei beranjak menuju kamar nya, dia lantas merebahkan diri nya dan tertidur pulas.
Di rumah sakit, Aksara belum sadarkan diri hingga menjelang malam. Semua kelurga menjaga nya bergiliran, dokter bilang itu efek dari obat tidur saja agar pasien lebih santai.
"Mah"
"Iya, sayang"
"Riana laper pengen cari makan"
"Baik lah, bawa salah satu kakak mu"
"Mereka sudah tidur mah"
"Baik lah, hati-hati ya"
Riana mengangguk, lalu gadis itu menyebrang jalan untuk pergi ke sekitar rumah sakit mencari kedai makan yang masih buka. Ternyata sangat banyak angkringan disana, Riana memesan banyak makanan, juga minuman di stand minuman tentu nya.
"Hai kita bertemu lagi"
Riana menoleh namun tak peduli.
"Cuek amat ya"
"Ada urusan apa sih? kok kamu mengikuti ku kemana pun aku pergi!"
"Tidak ada sih, cuma ingin berkenalan saja"
"Tapi aku tidak mau, tolong jangan ganggu aku bisa?"
"Tidak"
Riana semakin naik darah karena lelaki culas seperti lelaki pemilik nama belakang Sanunjaya ini.
"Mang pesanan saya mana ya?"
"Sebentar non"
Pedagang itu telah di kode oleh Herdan hingga memperlambat pesanan gadis cantik itu.
"Kalau masih lama kenapa tidak makan disini saja?"
Herdan melirik gadis incaran nya itu.
"Makan saja sendiri, sekalian tuh meja nya kamu makan"
Dengan emosi Riana berucap.
"Mang pesanan saya masih lama ya, batal saja deh"
Riana Bergas ke warung nasi yang lain. Penjual nasi itu hanya terdiam menghitung kerugian nya karena perbuatan Herdan.
"Kan sama-sama warung nasi"
Riana berhenti tiba-tiba hingga Herdan hampir menabrak gadis mungil yang hanya setinggi dada nya saja.
'Gadis ini kalau ngerem mendadak sekali'
Gumam Herdan.
"Aku sedang lapar, jadi jangan ganggu aku"
"Aku tidak mengganggu"
"Tapi kau membuat aku lelah, aku tidak ingin berurusan dengan mu"
"Tapi aku ingin"
"Dasar kau idiot"
Herdan terdiam, baru kali ini ada gadis yang mengatai nya idiot.
"Mang pesan 1 porsi makan disini ya"
"Baik non"
Herdan tersenyum mengambil duduk di depan gadis cantik itu. Semua gen Alkatiri memang luar biasa menurut nya. Riana memakan dengan lahap semua porsi nasi dan lauk nya.
"Mang bungkus 10 porsi ya"
"Baik non"
Herdan mengkerutkan kening nya, banyak makan juga pikir nya gadis imut ini pada hal sangat kerempeng. Pesanan Riana sudah siap semua, gadis itu berdiri menerima pesanan nya.
"Mang yang bayar tuan muda Sanunjaya ya"
Setelah berkata demikian Riana bergegas pergi.
'Rasakan kau'
Gumam nya sambil berlalu Riana tersenyum senang.
Herdan yang hendak berlalu juga mengejar gadis cantik itu di tahan sang penjual nasi.
"Tuan makanan gadis mu belum kau bayar!"
"Hah kenapa aku harus bayar?"
Herdan mendadak cengo.
"Tentu saja karena gadis mu makan di warung makan ku"
Herdan menghela nafas.
"Ini ambil lah"
"Sering-sering makan disini tuan"
"Hem"
Herdan mengejar namun gadis nya sudah masuk ke pintu utama rumah sakit itu.
"Kau gadis nakal, mulai sekarang kau harus jadi milik ku seorang"
Ucap Herdan.
"Tapi kenapa ke rumah sakit?"
Herdan menggelengkan kepala nya lalu bergegas pergi dari lingkungan yang berbau obat itu.
"Mah, makan dulu yuk"
Ajak Riana.
"Mamah tidak lapar sayang"
"Jangan begitu mah, papah sakit, papah perlu mamah, kalau mamah sakit lagi pasti papah akan sedih mah"
Riana menyuapkan makanan itu ke mulut mamah nya.
"Sudah sayang, mama sudah kenyang"
Riana berhenti sekiranya hanya setengah porsi nasi bungkus nya itu.
"Kak Raksa, kak Rieka, kak Indri makan dulu gih"
Mereka bertiga bangun lalu mengambil seorang sebungkus dengan teh anget nya. Setelah nya opa dan Oma juga ikut makan.
"Kau makan lah dulu"
Cinta mengelus kepala Riana, gadis itu mengangguk lalu makan bersama saudara dan opa Oma nya.
"Nasi nya enak, jadi laper trus"
"Itu masih 3 bungkus"
Ucap Rieka menimpali.
"Bener banyak amat Ri?"
Ucap Indri pula.
"Kenapa kalian mau lagi? ambil 2 bungkus sisakan 1 buat papah, ada juga sisakan mamah tuh"
Ucap Riana menjawab pertanyaan mereka.
Benar saja mereka mengambil nya kembali dan membagi nasi nya.
"Dasar orang-orang rakus"
Setelah acara makan yang terlambat itu, mereka terlelap dengan tempat ternyaman mereka.
Sekitar jam 2 dini hari, Aksara tersadar, dia melihat sekeliling ruangan yang ditempati nya. Dia tersenyum kala melihat semua buah hati nya menunggui nya itu.
Aksara mengelus kepala istri nya yang terduduk di samping brankar tempat dia terbaring menjadi pesakitan itu. Mereka berempat adalah buah hati nya, Aksara teringat akan anak lelaki nya. Aksara beringsut duduk di kepala ranjang rumah sakit VVIP seperti ranjang tidur di rumah nya.
Aksara tidak bisa tidur lagi badan nya cukup ringan meski bekas jahitan di bahu kiri nya masih terasa sakit.
"Papah sudah sadar, Ri panggil dokter ya"
Aksara mengangguk, meski suara Riana lirih namun membangunkan sang istri.
"Sudah sadar?"
"Iya"
Cinta mengelus lengan suami nya. Beberapa saat kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Aksara.
"Anda sudah stabil tuan, semua normal hanya perlu laser untuk menghilangkan bekas luka dan menutup nya"
"Baik dokter, oh ya pemuda yang terluka di tangan kiri nya apa sudah diobati?"
"Maaf tidak ada pasien yang datang bersama anda"
"Baik terimakasih"
"Kenapa papah bertanya anak muda itu? bukan kah yang membuat papah terluka adalah dia!"
Raksa merangsek ke arah tempat tidur papa nya. Dia bertanya kepada sang papah seolah mengintrogasi penjahat.
"Apa yang kau tahu?"
Raksa terdiam memandang kearah sang papah.
"Kalau Rei tidak datang mungkin mamah mu sekarang sudah menangis di atas pemakaman papa"
Deg........
Semua tersentak kaget mendengar penuturan Aksara.
"Maksud papa?"
Riana bertanya, karena sang kakak menundukkan kepala nya. Mamah Cinta sudah sesegukan sementara yang lain saling pandang.
"Papah menuju jalan pintas saat jalan utama ada perbaikan, papah di hadang pasukan bayangan nomor 1, kalian tahu anak itu sendirian datang membela papa"
Aksara menghela nafas mengingat pertarungan kemaren dengan di dampingi Rei.
"Mereka di hajar hingga tewas oleh Rei tangan nya terluka, ketika kami rasa semua sudah mati kami akan pulang namun ketua tim itu bangun dan papah menghadang peluru yang akan bersarang di kepala Rei"
"Dia lelaki kecil yang baik ya pah"
Ucap Riana kemudian.
"Benar"
Semua terdiam, pagi pun menyapa dengan udara sejuk nya.
"Selamat pagi tuan"
"Masuk lah Melki"
Melki membawa sarapan untuk semua, setelah nya dokter visit ke ruangan Aksara.
"Dad"
"Anak muda yang menyelamatkan nyawa mu sudah sembuh, dia berobat di rumah sakit keluarga Aryandy"
Deg.......
Semua orang menoleh.
"Ya, dia adalah pewaris Aryandy"
BERSAMBUNG.