TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
EPS.107 SESSION 2


Semua keluarga Alkatiri tidak lagi berdiam diri di negara Z mereka bermigrasi ke negara B


Meski ada luka mendalam 17 tahun lalu namun mereka semua mencoba menutup luka dengan baik dan memendam nya. Menahan kesedihan bahu membahu bersama keluarga. Cinta juga anak-anak kembar nya itu selalu hidup untuk menutup luka dan masa lalu meski tak mungkin terobati dari masa ke masa.


17 tahun berlalu disebuah desa terpencil dalam lingkup yang sederhana. Seorang anak lelaki tampan nan tegap hidup dengan kakek dan nenek serta paman nya yang yang cacat. Meski dalam taraf yang sederhana namun mereka berkecukupan.


"Paman sudah pulang?"


Lelaki berusia 54 tahun itu mengangguk, dia tidak pernah bersuara, sekujur tubuh nya terkena luka bakar. Mengenakan jubah sehari-hari nya.


"Rei!"


Seorang kakek renta memanggil remaja berusia 17 tahun yang baru saja lulus sekolah menengah itu.


Kakek itu itu hanya berbaring di kasur saja, meski sang nenek yang menyuapi bahkan membersihkan tubuh nya. Kakek itu sudah mengalami kemunduran fisik, sejak 5 tahun lalu.


Krriinng.......kriinnggggg.


Sudah sore bel itu seperti sebuah alarm, sejak Arei berusia 2 tahun maka alarm itu sudah berdentang di telinga nya. Alarm latihan fisik, skill bertarung bahkan pembelajaran yang tersimpan di sebuah buku Rei pelajari. Lelaki yang disebut Arei sebagai paman nya itu memberikan akses dengan luas untuk semua pengetahuan bahkan hal semacam berjudi pun Arei atau yang sering di panggil Rei itu pelajari.


Rei sudah setara dengan pembelajaran sabuk hitam di taekwondo, bahkan otak bisnis nya sudah lancar dia sudah menanam saham dibeberapa perusahaan menengah. Hingga cara memasak pun Rei pelajari atas petunjuk dari paman nya.


"Rei makan dulu nak"


Ucap sang nenek, sementara kakek hanya tersenyum saja melihat Rei yang bercucuran keringat sehabis latihan.


Sang kakek berusaha untuk duduk bersandar, dan berusaha untuk berbicara meski kadang nafas nya tak kuat.


"Rei dengarkan kakek!"


"Iya kek"


"Kakek sudah berobat di desa ini, tapi belum sembuh kebetulan sekarang kau sudah lulus sekolah menengah jadi kakek bermaksud pindah ke kota untuk berobat"


Ucap sang kakek sambil menelisik wajah cucu lelaki nya.


"Bagaiman Rei?"


"Rei setuju saja untuk kesembuhan kakek maka kita harus segera bergegas"


Sepasang kakek dan nenek itu saling pandang dan langsung mengangguk seraya tersenyum manis.


"Baik lah malam ini segera kemasi barang mu, kita berangkat dengan kereta besok pagi"


"Baik"


Mereka menyelesaikan makan nya, Rei segera masuk ke dalam kamar untuk berkemas. Rei mengeluarkan sebuah foto gadis cantik nan manis, sahabat Rei mereka foto bertiga kedua nya pindah ke kota sejak masih di bangku sekolah pertama. Rei menjalani hidup nya di sekolah menengah sendirian sejak kedua sahabat nya pindah.


"Kita akan segera bertemu kembali, bagaimana rupa kalian?"


Gimana Rei dalam hati.


Paman Rei selalu memperhatikan gerak gerik keponakan tampan nya.


'Kau persis seperti dia, ini adalah bakti ku pada mu sobat, tunggulah saat yang tepat untuk kedatangan pewaris mu'


Ucap lelaki yang akan beranjak paruh baya itu, sebenar nya yang disebut paman oleh Rei lebih pantas menjadi ayah nya.


BERSAMBUNG.