
Rindi mengabarkan pada sang paman, jika hari ini diri nya akan kembali ke negara Z.
"Tumben menghubungi paman mu ini?"
"Memang tidak boleh?"
Bukan pertanyaan atau pun pernyataan. Diseberang sana sang paman hanya tersenyum saja.
"Paman!"
"Iya"
"Tiga hari lalu Arin sudah wisuda dan sekarang Arin sudah ada di bandara untuk pulang ke negara Z"
Sang paman mengangguk lantas tersenyum.
"Jika sudah mantap maka pulang lah"
"Iya paman"
Sambungan ponsel itu terputus karena pesawat Rindi harus take off.
Paman Rindi di negara Z sibuk memerintah para pekerja terutama satpam, supir dan tukang kebun untuk merenovasi beberapa bagian rumah. Terutama kamar Rindi, taman, ruang kerja baru untuk Rindi.
Sementara Rindi masih mengudara sekitar 10 jam lagi. Paman sudah memberitahu Afar jika putri bungsu nya itu akan tiba di tanah air sekitar besok pagi.
Sementara itu di sebuah rumah sakit ternama yang memiliki fasilitas lengkap bertaraf internasional. Seorang lelaki matang 37 tahun sedang melakukan gerakan untuk melemaskan otot kaki nya. Dia adalah Andra selama 5 tahun selalu bertahap untuk menyembuhkan kaki nya.
"Bagaiman keadaan nya Roy?"
"Tuan muda selalu ada kemajuan tuan"
"Ya, semua karena diri mu yang memberikan semangat untuk terus maju Roy"
Roy hanya mengangguk tersenyum, dia senang jika bisa membuat sesuatu yang berharga untuk tuan muda nya itu.
"Tuan tidak masuk?"
"Aku hanya lewat dan melihat mobil kalian jadi sekalian mampir"
"Oh"
"Jaga tuan mu itu"
"Baik"
Tepat nya terhitung 4 tahun perawatan intensif dan terkontrol, Rei menyewa profesor ahli untuk kesembuhan kaki putra semata wayang nya, dokter Andalas dan putri nya Rebeca.
"Lelah?"
Tanya dokter Andalas itu pada lelaki yang sedang semangat terapi kaki itu.
"Sedikit dok"
Dokter Andalas tersenyum, bukan nya dia tidak tahu tapi jelas saja itu sangat menyakitkan selama 25 tahun kaki itu seperti jeli. Dan saat ini kaki itu harus kuat menopang tinggi badan 187 sentimeter itu.
Dokter Andalas hanya geleng-geleng kepala saja. Sedangkan sang putri selalu tersipu malu kala berdekatan dengan pemuda itu.
"Mari saya bantu"
Dokter Andalas melihat putri nya sibuk memijat kaki Andra pada hal tidak ada dalam prosedur nya.
"Terimakasih"
"Sama-sama"
Mereka berdua terlihat minum pengetahuan dalam hal lawan jenis. Dari latihan alat pertama hingga terakhir Rebeca selalu menemani dan membantu Andra.
'Semoga dia adalah jodoh mu nak'
Doa dokter Andalas pada putri nya.
Hampir tengah hari Andra baru akan selesai terapi kaki nya. Sungguh lelah tapi dia ada kesempatan untuk sembuh, bahkan sang Daddy mendukung nya.
"Sudah selesai!"
Ucap dokter Andalas, Andra pun lega.
"Terimakasih dok"
"Sama-sama, nanti Minggu depan harus datang lagi ya"
Andra mengangguk mengiyakan pesan dokter tadi.
"Saya pamit dokter"
"Silahkan"
Selepas Andra pergi dari ruangan itu, dokter Andalas tersenyum.
"Apa kau menyukai lelaki itu?"
Bertanya pada putri nya yang kemaren genap berusia 28 tahun.
"Siapa dad?"
"Kamu"
"Kau ini mengerjai Daddy ya!"
"Ha.....ha.....ha"
Dokter paruh baya itu tertawa senang karena putri nya yang selalu melucu.
Andra kembali ke rumah nya, hari ini seperti biasa ketika selesai terapi maka Andra akan istirahat di rumah. Termasuk bekerja pun dari rumah, dan kaki nya akan kram untuk beberapa hari.
"Tuan"
"Masuk lah, ada apa?"
"Saham perusahaan keluarga Mukti akan mengalami penurunan"
"Lalu?"
"Kalau penurunan nya sesuai daya beli kita akan membeli nya"
"Begitu saja"
"Iya"
"Baik lah"
Roy segera menghubungi Novan untuk menyampaikan pesan dari big bos nya. Biar mereka bisa menjalankan misi nya dengan segera.
Pagi sekali Lisa sudah mendapat telpon dari asisten papah nya yang sudah di kantor.
"Nona Lisa anda ada dimana?"
Ucap Asisten itu.
"Kau berisik sekali, tentu aku masih tidur, ngantuk lah"
"Bukan nya saya sudah bilang pada anda agar segera ke kantor pagi ini karena ada rapat pemegang saham"
Lisa teringat dia segera membuang ponsel nya lantas bergegas mandi. Dengan cepat Lisa berpakaian dan menyetir mobil nya dengan ngebut.
"Kenapa dia tidak sarapan?"
Ucap Melina karena melihat anak nya terburu-buru sekali.
Semua peserta meeting kali ini sudah menunggu Lisa sekitar 30.menit. Lisa masuk dengan meminta maaf pada para pemegang saham.
"Maaf saya telat"
Pihak HRD maju.
"Maaf meeting kali ini menyangkut suruhan nona Lisa yang mengambil uang dana proyek A"
Lisa kaget karena sepengetahuan nya dia tidak pernah menyuruh seseorang untuk membawakan uang perusahaan pada nya.
"Jangan memfitnah ku ya, aku sakit 4 hari lalu, tidak ada hubungan nya dengan uang itu"
"Coba kau ingat ada orang suruhan mu 4 hari lalu mengambil uang dan bergegas pergi"
Ucap pihak penyidik, karena proyek A ditangguhkan padahal mereka sudah menggelontorkan banyak dana untuk proyek tersebut.
BRAAKK.....
Lisa menggebrak meja meeting siang ini, meski libur pihak pemegang saham dari perusahaan meminta rapat dadakan. Mereka semua kaget karena putri sulung Presdir Afar memiliki tabiat buruk itu.
"Kenapa bisa seperti ini?"
Ucap nya dengan lantang, ya semenjak 6 bulan lalu Lisa menjadi pengganti sementara sang papah sedang sakit.
Lisa sudah berada di atas awan ketika diri nya menduduki kursi Presdir, Dia menganggap jika diri nya penting. Dia menganggap jika perusahaan sudah menjadi milik nya.
"Bu Lisa uang itu diberikan asisten mu dua Minggu lalu ketika ada seorang lelaki mengajukan berkas atas tanda tangan mu mengeluarkan uang 5 miliar itu"
Ucap salah satu HRD yang kebetulan hadir disana saat ada orang yang mengambil uang secara sah.
"Hah! apa kau gila?"
"Kalau begitu anda lihat cctv dua Minggu lalu"
"Aku tidak melakukan itu"
"Lantas anda ijin sakit saat itu setelah sembuh saya ingin mengkonfirmasi tapi anda tidak ingin di ganggu"
Mata Lisa membola karena memang betul dia tidak ingin bertemu pihak HRD.
"Anda sudah ingat, jadi silahkan periksa cctv siapa yang melakukan nya barang kali anda ingat sudah memberi tanda tangan pada siapa untuk mengambil uang yang saat itu akan kita gunakan untuk tender A"
Lisa ingat jika sang papah meminjam uang 5 miliar itu dari bank atas jaminan rumah mereka. Lisa jadi pusing sendiri, sementara semua peserta meeting keluar mereka sudah menebak Presdir wanita memang hanya untuk pamer juga untuk menghamburkan uang.
"Bagaimana jika papah nya tahu"
Ucap salah satu pemegang saham.
"Peduli amat, dia wanita boros yang suka hura-hura dan murah"
Mereka membahas Lisa layak nya bukan atasan di kantor mereka.
BERSAMBUNG.