TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.264


Rindi terdiam beberapa saat, dia tersenyum mengelus foto itu. Lantas dengan segera menyimpan kembali foto usang itu.


Rindi berkeliling rumah ini, kemungkinan rumah ini menyimpan kenangan yang sangat manis. Kenangan dari masa kecil mamah kandung nya dan kakak serta kakek dan nenek nya.


Rindi naik ke lantai atas, di awal dia bertemu dengan paman nya, lelaki paruh baya itu menunjukkan kamar di lantai atas. Rindi berdiri di depan kamar itu, diam dengan segala kebingungan nya.


"Non...sedang apa disini?"


Rindi hanya menengok bibi yang sudah mulai sepuh itu.


"Non ingin masuk? kunci nya masih menggantung disitu"


Rindi tetap diam, entah harus bagaimana berkata tenggorokannya serasa tercekat.


Karena tidak mendapatkan jawaban apa pun dari nona kecil nya, bibi segera turun ke bawah.


"Bibi mau masak dulu ya, kalau tidak ingin masuk maka non cepat ke ruang santai saja"


Bibi mengelus pundak nona kecil di samping nya dengan segera bibi berbalik dan menghubungi nomor seseorang.


Drrtt...ddrrtt.


"Iya bi!"


"Tuan, seperti nya nona kecil sudah tahu"


"Bagaimana bisa?"


"Dia berdiri di depan pintu kamar nona muda"


"Aku segera kembali"


Paman Rindi yang akan meeting di luar, segera membatalkan semua jadwal kerja nya dan segera menuju pulang.


Rindi terdiam entah sudah berapa lama, dia ingin melihat sosok mamah kandung nya yang bahkan tak pernah diungkit mereka sekali pun bahkan dimana pun. Jika bukan karena ingin Rindi di usir dari rumah mungkin rahasia itu sampai mati akan terpendam.


"Mah!"


Klek....


Rindi membuka pintu kamar itu, nuansa asri kamar yang serba putih, bersih dan wangi khas yang diberikan kamar ini membuat Rindi akrab dan nyaman.


Beberapa foto dari mamah kandung nya, wanita cantik, muda dan sangat ceria begitu kentara terlihat dari beberapa foto yang diambil dengan senyum yang merekah indah.


Rindi memandangi tiap foto yang terpampang bahkan foto terakhir dengan wanita cantik yang menggendong bayi perempuan nya sendirian. Beberapa lembar kertas yang ada diatas laci disebelah tempat tidur.


Rindi mendekat membuka surat-surat dengan tulisan tangan yang indah itu Rindi baca.


'Kekasih hati mamah, putri kecil ku, Mey ku yang cantik kau bukan kesalahan, kau bukan terlahir tanpa kasih sayang, maafkan mamah nak mungkin kau tidak akan memaafkan mamah karena egois meninggalkan mu di dunia ini sendirian dan kedinginan. Sayang mamah percaya kau akan selalu bahagia, jangan sedih, mamah selalu disamping mu, sampai jumpa cantik, hanya ini yang mamah ucapkan untuk mu'


Sebaris kata-kata yang mamah kandung nya tinggalkan.


"Hiks....hiks...."


Rindi menangis terisak sambil memegang sepucuk surat dari mamah nya itu.


"Mamah Rindi ingin ketemu mamah, Rindi ingin sama mamah....!"


Seseorang yang sejak tadi berada di pintu kamar itu, hati nya begitu sakit hanya dengan mendengarkan tangisan gadis kecil nya. Paman Rindi masuk dan mengelus rambut panjang keponakan nya, Rindi mendongak lalu memeluk paman nya.


"Aku ingin ikut mamah, paman"


Sang paman hanya mendekap keponakan nya, jujur sudah 18 tahun dia tidak pernah membuka kamar ini. Meski bibi yang mengasuh adik nya itu selalu membersihkan kamar itu namun dia sudah berjanji jika bukan keponakan perempuan nya yang membuka kamar itu, dia tidak akan masuk.


"Jangan sedih, mamah mu selalu ada di dalam hati mu, dia selalu akan melihat mu dari surga"


Rindi mengangguk, paman mengusap air mata nya itu.


"Ayo kita turun kebawah!"


Rindi dan paman berbincang di ruang keluarga, sambil melihat televisi.


"Kenapa paman tidak mengunjungi Rindi?"


"Karena paman tidak bis mendapat hak asuh mu, lagi pula paman jika berkunjung maka apa yang paman kasih pasti di pakai atau di makan oleh Lisa"


"Begitulah?"


"Iya, paman tidak bisa apa pun, jadi paman meningkatkan perusahaan supaya lebih maju jadi ketika Rindi besar paman bisa memberikan apa pun yang Rindi mau"


"Jadi sewaktu Rindi masih SMA paman menemui Rindi?"


"Iya"


"Paman tidak bilang jika paman kakak mamah"


"Paman bilang kok, kan Rindi yang menebak jika paman adik mamah tiri mu"


"Oh, iya ya Rindi kan tidak tahu jika Rindi punya mamah kandung, Rindi kira mamah Melina adalah mamah kandung Rindi"


Rindi menggelengkan kepala nya itu.


"Sampai sekarang?"


"Iya, papah tidak pernah mengungkit apa pun, Rindi tahu Minggu lalu mamah Melina dan Kaka Lisa memancing Rindi untuk ribut tapi Rindi dengar percakapan mereka sebelum akting"


"Oh begitu"


"Kalau pun paman bukan kakak dari mamah kandung Rindi, Rindi akan meminta pekerjaan pada paman"


"Kenapa ingin bekerja?"


Rindi terlihat berpikir keras, sang paman mulai curiga.


"Ada deh paman"


"Gadis kecil jangan bohong ya"


"Rindi tidak suka bohong"


"Baik lah kita pergi ke restoran sekarang ata habis makan siang?"


"Sekarang saja, kalau makan siang Rindi ada janji"


"Baik lah, ayo"


Tak tanggung-tanggung paman Rindi memakai mobil sport keluaran limited, Rindi seakan tak percaya paman nya lebih boros dari ayah nya.


"Ayo naik kenapa bengong?"


"Oke paman"


"Kau bisa nyetir mobil?"


"Bisa tapi bukan mobil sport"


"Lalu mobil apa?"


"Mobil biasa saja, itu juga Rindi belajar dari teman-teman Rindi"


"Sekarang dimana teman mu?"


"Mereka sibuk kuliah"


"Oh, paman sudah meminta tutor agar kau ikut wisuda di universitas luar negeri terkemuka"


"Hah! bisa kah paman?"


"Tentu, mereka kan dosen disana"


"Terimakasih paman"


1 jam kemudian mereka tiba di restoran bintang lima, dengan berbagai menu dari seluruh dunia dan dengan tempat yang luas, megah serta berbagai design tempat yang nyaman. Apa lagi ruang VVIP yang disiapkan restoran ini begit privat karena menghormati para konsumen.


Paman memperkenalkan Rindi pada seluruh staf yang sudah di kumpulkan, baik dari pelayan yang ada di restoran pusat atau pun 5 cabang yang lain.


"Ini adalah putri kandung ku, dia adalah pewaris seluruh bisnis ku, aku memperkenalkan dia karena dia akan segera lulus dari universitas luar negeri"


Semua staf, pelayan dan koki bertepuk tangan dengan kencang.


"Arindi Meysarah Prajaya"


Kembali semua bertepuk tangan dengan gembira.


"Terimakasih, dan salam kenal semua"


Rindi tersenyum, rapat pun hanya berlaku sebentar.


"Jangan ungkap siapa pewaris ku hanya sebutkan dia nona muda Prajaya saja"


"Baik bos"


"Silahkan bubar dan selamat bekerja kembali"


Mereka pun bubar setelah perkenalan itu, restoran kembali di buka karena banyak para tamu yang kembali berdatangan karena akan jam makan siang.


"Nah, paman akan disini, jika mau pergi maka pergilah"


"Baik lah, aku segera kembali paman"


"Iya"


Rindi segera pergi ke dapur mengambil 3 box makan dari restoran dan beberapa dessert untuk dia bawa. Rindi segera meluncur menemui Andra di perusahaan nya.


BERSAMBUNG