
Hari ini Min sangat bahagia, di kantin saat makan siang dia terus tersenyum dengan sangat cantik. Boy yang tak sengaja lewat dan melewati tempat duduk gadis itu tersenyum devil.
"Bro itu gadis incaran mu, seperti nya Dewi keberuntungan berpihak pada mu"
Boy tersenyum dengan tampan dan percaya diri nya, lelaki itu berjalan sambil membawa menu yang dia pesan ke meja Min.
"Hai gadis cantik"
Min tersadar dari lamunan nya, dia sedikit terkejut dengan kedatangan lelaki yang tak terduga itu. Lelaki yang 3 hari lalu mendekati diri nya, namun sempat hilang dan kini kembali lagi.
"Selamat siang pak"
"Seperti nya sedang bahagia nih?"
Min hanya tersenyum canggung, dia selalu waspada pada lelaki ini. Terang saja waspada karena beberapa hari lalu lelaki ini pergi ke hotel membawa gadis yang tak lain teman satu jurusan di kampus nya.
"Bagaimana kabar mu?"
"Baik"
Min masih menyuapkan makan siang nya dengan cepat.
"Jangan terburu-buru"
"Oh tidak pak, saya masih banyak pekerjaan"
Min dengan cepat menghabiskan gado-gado kesukaan nya. Min hendak berdiri dari tempat duduk nya untuk segera pergi namun lelaki itu lebih dulu mencekal tangan Min.
"Maaf pak saya buru-buru"
Penolakan halus itu tak di gubris oleh Boy, malah memegang erat tangan mungil milik Min. Min sekuat tenaga ingin melepaskan cekalan tangan itu, meski tangan nya sudah memerah.
"Ada apa ini?"
Suara lantang Ravenda menggema, seorang tangan kanan CEO pemimpin perusahaan datang ke kantin. Rave datang dengan gagah lalu melepaskan cekalan tangan Boy pada Min dengan mudah nya.
"Anda jangan keterlaluan pak!"
Boy tersenyum smirk kearah Ravenda.
"Oh pak Rav, maaf saya hanya mengucapkan selamat atas terpilih nya nona Jasmin"
Min segera pergi tak ingin ambil pusing dengan mereka, lagi pula dia sudah terbebas.
Boy bangkit dari kursi kantin, dia belum menyentuh makanan yang dia pesan.
"Bu kantin makanan bekas ku ini untuk anjing mu saja"
Dia berkata tanpa mengalihkan arah pandang dari Ravenda, dengan segera Rave memegang kerah baju si playboy cap ikan amis itu.
"Apa maksud mu!"
"Hanya seorang kacung tapi belagu!"
Ucap Boy sambil melepaskan tangan Rave dari kerah baju nya. Rave ingin sekali menonjok mulut si tukang cabul itu, namun ini di kantor jadi dia tidak berkutik. Boy berlalu dengan senyum mengejek yang terdapat di bibir nya yang sering mengucapkan kata cabul untuk merayu gadis-gadis polos.
Aryos dan Rei baru datang, mereka berpapasan dengan Boy di lorong menuju kantin tadi.
"Hei, kau sudah pesan?"
Rei menepuk Rave, Rave menggelengkan kepala nya.
"Ada apa?"
"Tidak ada, hanya berselisih dengan karyawan saja"
"Oh"
Rei melirik Aryos yang mengangguk, Aryos segera pergi.
"Ayo kita makan siang"
"Baik lah"
Rei hanya makan berdua dengan Ravenda saja. Aryos memang sering disisi Rei, karena pekerjaan yang ditangani Dino kini dihibahkan pada Aryos sedangkan Rave menangani pekerjaan yang harus nya dikerjakan pak Arto ketika masih belum pensiun atau belum memimpin perusahaan cabang.
"Apa kau sedang resah?"
"Tidak"
"Kembalilah dulu kesana bersama Aryos nanti malam, karena aku masih ada urusan disini"
"Kapan kau akan kembali?"
"Mungkin besok pagi"
"Baik lah, hati-hati"
Rave berdiri dan hendak meninggalkan kantin.
"Jangan terlalu banyak pikiran Rave"
"Aku mengerti, sobat"
Rei memperhatikan punggung sahabat nya hingga menghilang.
"Tuan"
"Ada apa?"
"Ini rekaman cctv nya"
Rei melihat rekaman yang Aryos tunjukan lalu mengerutkan kening nya. Dia tersenyum Devil, menggelengkan kepala nya lalu menepuk Aryos.
"Baik tuan muda"
Seperti hal nya Min, Herdan juga nampak sangat bahagia. Apa lagi jika bukan sudah berkumpul dengan keluarga itu.
Drrtt....ddrrtt.
"Iya sayang"
Herdan menghubungi sang istri karena rasa bahagia yang di derita nya saat ini.
"Sayang, aku sudah ketemu mamah sama adik ku, mereka menerima ku loh"
Herdan tersenyum saat video call dengan sang istri.
"Memang siapa yang berspekulasi bahwa kelurga itu tidak akan menerima mu?"
Tanya Riana pada Herdan, entah suami nya menjadi bodoh atau saking bahagia nya hingga berkata yang tak masuk akal pikir Riana.
Herdan terdiam sejenak, betul juga perkataan istri nya mengapa dia mendadak bodoh seperti demikian.
"Iya juga ya"
"Tapi mereka senang kan menerima mu?"
"Benar aku sudah menceritakan tentang rumah tangga kita"
"Bagus lah, kapan kau bawa mereka kemari?"
"Entah lah, besok aku akan berbicara pada mereka"
"Baik lah, tapi ingat jangan memaksa mereka"
"Iya itu pasti sayang"
Herdan mengakhiri panggilan nya pada sang istri lantas dia mengerjakan proposal untuk meeting nanti sore.
Cuaca agak mendung, di luar perusahaan juga agak gerimis, sedikit dingin saat suasana pulang kantor. Merek para pekerja banyak yang memesan becak motor, angkutan jemputan bahkan mobil jemputan bersama. Min sendiri sampai lupa jika hujan kendaraan tidak ada yg beroperasi karena licin.
"Sebaik nya ke halte saja mungkin belum terlambat"
Min berlarian diantara gerimis, sementara seseorang sudah sangat lama menunggu diri nya keluar.
"Kau gadis sial, akan ku buat kau menderita"
Mobil yang orang itu kendarai menuju kearah Min, berhenti lalu membuka setengah jendela nya.
"Hai nona cantik, ketemu lagi"
Min hanya mengangguk, tak ingin menggubris ucapan orang itu.
Klek.
Nampak lelaki itu turun dari mobil kau mencekal lengan Min kembali.
"Lepaskan pak, saya bukan barang yang bisa anda pegang-pegang"
"Oh ya tapi kenapa kamu mulus banget ya?"
"Sinting, lepas!"
Teriak Min dengan lantang, orang-orang yang mendengar itu melihat kearah mereka.
"Maaf istri ku sedang marah!"
Ucap Boy spontan membuat mata Min melotot.
"Jangan asal bicara pak"
"Tidak akan karena sebentar lagi ucapan ku akan jadi kenyataan"
"Lepaskan aku!"
Min dipaksa untuk ikut dengan Boy kedalam mobil nya, lalu Boy melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah gedung tua di pinggiran desa itu di dalam hutan.
"Turun!"
"Aku tidak mau turun!"
"Kau membantah ku!"
Min hanya duduk saja di dalam mobil, cara satu satu nya yaitu menunggu seseorang yang dia hubungi untuk menolong diri nya.
"Percuma kau diam sampai malam pun tidak ada orang yang akan menolong mu"
Teriak Boy pada Min, Min sedikit takut juga gemetar. Karena sekarang banyak orang yang muncul yaitu bodyguard dari Boy.
'Apa aku akan mati disini?'
Pikir Min.
"Wah tak ku sangka di pinggiran desa ada hutan sebagus ini, dan ramai juga"
Aryos berucap dengan nada yang begitu tenang.
"Oh rupanya anjing penjaga yang menggonggong"
Ucap Boy, dia tersenyum meremehkan.
Aryos mendekat dengan beberapa orang ke kerumunan milik Boy.
BERSAMBUNG.