
"Anda sudah pulang bos?"
"Benar, apa tempat nya sudah siap di kota?"
Rei melirik Aryos yang berdiri tak jauh dari diri nya.
"Semua sudah beres tuan muda"
"Kerja bagus, ambil bonus dua kali lipat mu bulan ini"
"Terimakasih tuan muda"
Rei mengangguk lantas dengan segera menuju ruang kerja nya. Rei tersenyum smirk bak iblis.
"Meski pun kau datang lebih awal sekali pun kau tidak akan bisa menyentuh kaki ku"
Ucap Rei entah pada siapa namun binar mata nya jelas membiaskan dendam tak berkesudahan.
Sementara Herdan nampak gelisah di dalam kamar hotel nya, setelah mendengar bahwa sang adik ipar lelaki nya itu berada di desa yang sama bahkan pendiri perusahaan itu adalah diri nya. Herdan mondar mandir seperri setrikaan rusak, hati nya tak tenang pikiran nya sudah melayang kemana-mana.
"Apa yang harus ku lakukan?"
Sementara anak buah nya belum menemukan tempat tinggal pasti kedua orang yang Herdan sayangi itu.
Herdan segera menghubungi orang-orang kepercayaan nya itu.
Drrtt....ddrrttt.
Sekali tekan saja mereka sudah mengangkat panggilan milik nya.
"Bagaimana? informasi apa yang kamu dapatkan?"
Ucap Herdan segera.
"Kami menyelidiki lewat jenjang pendidikan nona mida, tuan"
"Lalu?"
"Universitas nya disini, peringkat nilai nya sangat bagus sehingga bisa membuat nona melanjutkan pendidikan tanpa biaya"
"Bagus, bagaimana sekarang?"
"Nona bekerja menjadi ketua tim pengecek bahan baku di perusahaan xx, yang mensuplai bahan baku untuk perusahaan utama mereka di kota xx"
Deg.....
PRAAKKKK.........
Ponsel milik Herdan terjatuh sehingga lawan bicara disana memanggil diri nya.
"Tuan...tuan anda kenapa tuan!"
Seru diseberang sana menyentak Herdan untuk segera merespon panggilan itu.
"Oh tidak ada, lanjutkan"
"2 hari yang lalu, nyonya besar di operasi karena tumor otak di rumah sakit xx, sempat ada insiden kekurangan darah karena koma tapi entah dari mana ada pendonor dan dokter ahli sehingga nyonya bisa diselamatkan"
"Bisa kau cari tahu dari mana dokter dan bantuan darah itu?"
"Kami sudah melakukan penelusuran tuan, namun tidak bisa ditemukan sama sekali oleh mata-mata kami"
"Baik lah sementara seperti ini dulu, dapatkan alamat rumah mereka"
"Baik tuan"
Herdan gelisah karena ada beberapa kejanggalan, namun dia berusaha menepis pemikiran buruk nya itu.
Pagi sekali Min sudah berperang di dapur untuk memasak sarapan dan bubur untuk sang mamah.
"Pagi sekali bangun nya?"
Sang mamah masih duduk di kursi roda, juga kadang berjalan sebentar-sebentar.
"Min akan ke kantor mah"
"Oh, kalau begitu Jasmin berangkat saja, mamah bisa jaga diri"
"Min tahu mah, Min hanya sebentar kok ke kantor nya, Min usahakan untuk pulang cepat"
"Baik lah gadis mamah yang baik"
Akhir nya setelah drama tak tega yang di bintangi Min itu usai. Gadis itu pergi ke kantor juga sang mamah hanya menggelengkan kepala nya saja.
Tok...tok.
Pintu rumah mamah Laula di ketuk seseorang, mamah Laula segera membukakan pintu. Terlihat lelaki muda dengan senyum yang sangat tampan lagi berkharisma.
"Selamat pagi tante?"
"Selamat pagi nak Rei, silahkan masuk nak"
Rei mengekor masuk dengan membawa buah-buahan segar seperti biasa nya.
"Min sudah berangkat 10 menit lalu, nak Rei ada apa kemari?"
Rei tersenyum sejenak lantas menyodorkan buah segar dan sebuah map biru.
"Ini apa nak?"
"Ketika mamah sedang membutuhkan darah dan dokter tumor Min meminta pada saya untuk menolong nya, Min bersedia menikah dan melakukan apa pun perkataan saya mah"
Mata mamah Laula membulat sempurna, dia terdiam mencermati perkataan pemuda di hadapan nya.
"Maaf saya setuju dengan ide nya tanpa bertanya pada mamah, dan langsung mendaftarkan pernikahan kami, performa kerja Min sangat bagus di kantor"
"Kau benar, mamah hanya memberi restu nak, urusan ini adalah keputusan kalian karena kalian yang menjalani nya"
"Terimakasih mah, Rei juga akan membawa Min untuk tinggal di kota bersama Rei, karena lusa Rei akan kembali ke kota, Min bisa bekerja di kantor pusat jika dia mau"
Mamah Laula tersenyum hangat pada pemuda di hadapan nya yang juga adalah menantu nya.
"Baik nak, memang seorang istri harus mengikuti kemana pun suami nya pergi"
Rei tersenyum dengan tampan nan polos.
"Mah, tolong rahasiakan pernikahan kami, meskipun Min sendiri yang bertanya, aku masih punya banyak pesaing takut nya itu sangat berbahaya bagi keselamatan Min"
"Baik nak, mamah mengerti, cukup jaga dia untuk mamah, maka mamah akan sangat berterimakasih"
"Apa mamah mau ikut dengan kami?"
Mamah Laula menggelengkan kepala nya.
"Baik lah, kalau begitu Rei akan siapkan perawat unyuk menemani mamah"
"Baik lah terimakasih nak Rei"
Rei bangkit dari hadapan mamah mertua nya, semua sangat mudah dia lakukan.
"Mah ini untuk mamah, nanti setiap bulan Rei tinggal transfer uang buat mamah belanja sayur"
"Tidak usah nak Rei, mamah masih ada uang"
"Terimalah mah, ini kewajiban Rei"
"Baik lah"
Rei pun segera pamit undur diri dari rumah sederhana yang ditempati istri dan mamah mertua nya.
"Bagaimana tuan?"
"Semua nya lancar, awasi terus nyonya besar Sanunjaya itu"
"Baik tuan muda"
Mobil mewah milik Rei segera melaju di jalanan untuk menuju ke kantor nya. Di kantor Rave sudah menempelkan stempel perusahaan dan di pajang di pengumuman bahwa ada beberapa karyawan yang bisa naik pangkat dan di rekrut ke perusahaan pusat.
Herdan baru saja selesai meeting seharian di desa itu, untuk membahas salah satu kerja sama dengan perusahaan nya di kota. Dia sangat lelah sesampai nya di hotel, Herdan langsung mandi. Dia juga memikirkan orang suruhan nya belum mengabari sedari pagi.
Drrtt.....ddrrt.
Herdan sedang mengeringkan rambut nya, ponsel nya berbunyi tertera nama orang kepercayaan nya yang dia suruh untuk menyelidiki adik satu ayah dan istri pertama papah nya.
"Katakan"
"Nyonya besar dan nona muda ada di alamat xxx"
"Baik lah, aku segera kesana kita bertemu di persimpangan hotel"
"Baik tuan"
Meski pun tubuh Herdan sangat lelah dan butuh istirahat namun dia memaksakan untuk pergi mengunjungi keluarga nya. 1 jam berkendara dari hotel menuju jalan desa yang sempit dan masih ada beberapa pekarangan kosong serta lampu yang tidak begitu terang. Herdan terdiam ketika sampai di sebuah halaman rumah sederhana, dia sungguh tidak menyangka jika istri pertama sang papah dan adik nya satu-satu nya selama 15 tahun telah menderita tanpa ada siapa pun yang berada di samping mereka.
"Bos!"
Herdan menoleh pada orang suruhan nya.
"Apa mau masuk? atau saya yang masuk.dan membawa mereka"
"Tidak kedua nya"
"Kenapa bos? bukan kah bos sudah lama mencari mereka?"
"Aku tidak sanggup jika malam ini, besok saja kita kembali lagi"
"Baik bos"
BERSAMBUNG.