TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.338


Ayah dan kedua anak perempuan nya itu sedang reuni nampak nya.


"Halo apakah aku ketinggalan sesuatu?"


Mereka bertiga menengok kearah lelaki dewasa yang berpakaian sebagai pengantin lelaki itu.


"Pah kenalkan dia lelaki yang menjadi suami ku?"


Afar menatap dalam kedalam mata lelaki dewasa yang bersanding dengan putri sulung nya.


Ayah dua orang anak gadis cantik itu menghela nafas, mengapa kedua putri nya menikah dengan tanpa berbicara pada nya terlebih dahulu.


"Kalian ini kakak adik menikah pun kompak dadakan ya, anak gadis nakal"


Rindi dan Lisa saling pandang, mereka kemudian terkekeh bersama.


"Kau juga demikian?"


Tanya Lisa.


"Benar, karena tuan suami ku yang arogan ini"


Lisa menyemburkan tawa nya, karena perkataan adik nya itu.


"Sayang"


Andra protes, dengan ucapan sang istri nya itu.


"Iya kan mas kita menikah di catatan sipil saja, sebelum melakukan resepsi dan sebagai nya, ini keburu nemplok"


Mengusap perut nya yang agak besar meski baru menginjak 3 bulan saja.


"Wah kau lebih parah bro"


Ucap William.


"Jangan membully ku ya!"


Will tersenyum menggelengkan kepala nya.


"Kalau sudah ada di depan mata harus segera diikat jangan sampai kabur lagi"


Ucap Andra kemudian, Will mengernyit lantas dia paham ucapan sahabat nya.


"Oh pantas langsung tancap gas rupa nya sudah pernah di tinggal kabur ya"


Will tertawa dengan keras.


"Iya karena selalu dingin tak kira tidak mau ya sudah"


Ucap Rindi tersenyum.


"Niat nya aku mau pamer pada mu malam ini tapi apes keduluan pula"


Ucap Will, Andra langsung menepuk punggung lelaki muda itu.


"Istri mu adik dari istri ku ya?"


Andra mengangguk, Will tersenyum.


"Ada hikmah nya, aku jadi Abang ipar mu"


Andra mencium bau-bau merepotkan rupa nya.


"Nanti hadiah pernikahan ku minta yang spesial ya"


"Ngarep amat bang"


"Emang lah, kapan lagi punya adek ipar kaya raya loh mn anak tunggal lagi"


"Bukan kah kau juga anak tunggal"


"Tidak lagi karena aku memiliki kakak lelaki yang baru saja Daddy temukan"


"Oh ya mana?"


William menunjukkan pada kerumunan itu, mata Andra menyipit lantas melihat dengan seksama.


"Bang Aditya"


"Yups"


"Kenapa dia?"


"Karena dia anak kandung papah ku yang pertama dan aku adalah bungsu"


"Kau tida kaget"


William menggelengkan kepala nya.


"Tidak sama sekali dan aku juga bisa menekuni hobi ku"


"Ah benar kau juga punya usaha sendiri aku lupa"


"Satu lagi yang kau lupa"


"Apa?"


"Saat ini aku punya adek ipar kaya raya"


Andra menghela nafas.


William mendekat pada papah mertua nya yang masih betah mengobrol dengan kedua anak gadis nya itu.


"Pah"


"Eh menantu papah kenapa?"


"Will minta restu menikah dengan Lisa, maaf karena pengetahuan tentang keluarga Lisa sangat minim jadi William tidak tahu"


"Tidak apa nak, kau tidak salah, kami juga tidak sengaja datang ke pesta ini menemani Arin dan suami nya"


"Nona"


Asisten Carmen hendak mengajak nona nya untuk kembali turun karena kedua mempelai seperti nya asik berbincang dengan tamu penting diatas panggung.


"Ayo kita salami mereka"


Carmen pun nekad karena memang niat nya untuk membuat acara William dan Lisa itu gagal. Meski suasana tidak memungkinkan namun Carmen masih optimis usaha nya akan berhasil.


"Wah seru sekali ya reuni kalian sekeluarga!"


Semua orang menoleh kearah Carmen, suara lembut Carmen membuat siapa pun ingin mendengar nya.


"Carmen kau hadir"


Ucap William tanpa berprasangka apa pun tentang Carmen.


"Tentu Will, kau lelaki yang menjadi pacar ku satu-satu nya, tentu aku datang di hari bahagia mu meski pun harus dibayar dengan tergantikan nya posisi ku"


Ucap Carmen angkuh, Rindi mendengar dan melihat sosok wanita cantik yang menghiasi Billboard itu nampak membawa kecemburuan.


"Kak siapa dia?"


Rindi mendekat pada Lisa seraya berbisik di telinga Lisa yang agak pendek dari nya.


"Pacar suami kakak"


"Hah! Kok bisa kak?"


"Cerita nya panjang sih dek, sudah nanti kalau ada waktu kakak cerita kan ya"


"Oke deh, awas kak bau-bau pelakor"


Ucap Rindi sambil terkikik geli.


Lisa melihat adik nya mengapa berubah menjadi gadis tengil seperti ini pikir nya mungkin karena hormon kehamilan nya barang kali pikir Lisa.


"Selamat ya Will atas hari bahagia mu"


Carmen menjabat tangan Will dengan sopan dan mengeringkan mata nya nakal, berusaha memancing amarah Lisa dan mencari keributan.


Namun Lisa hanya terdiam, bukan Lisa tidak tahu namun Lisa mencoba acuh tidak ada guna nya marah karena perasaan nya pada William karena tak lain karena menebus rasa bersalah nya yang sudah menjebak lelaki itu.


"Terimakasih Carmen"


Ucap William datar, Carmen tersenyum masam lalu dia bergeser kearah Lisa dimana Lisa berdiri bersama dengan Rindi.


"Selamat ya Lisa"


Ucap Carmen dengan ekspresi yang datar pada Lisa.


"Terimakasih"


Ucap Lisa juga tanpa ekspresi, Carmen menjabat tangan Lisa dan Lisa menyambut jabat tangan dari Carmen.


Carme seolah mendapatkan ide yang cemerlang lantas segera menghempas kuat-kuat tangan Lisa hingga.......


BUKK......


Hempasan tangan Lisa kini menyenggol seseorang yang berada disisi nya siapa lagi jika bukan Rindi. Karena serangan mendadak Rindi yang tak siap oleng ke belakang posisi nya miring hingga perut ny terantuk kursi.


"Aww..............."


Ringis Rindi, sambil memegangi perut nya. Semua orang menoleh kepada korban, nampak warna merah pekat mengalir di kaki Rindi.


"Ariiinnnnn!!"


Lisa berteriak histeris sementara Rindi menahan rasa sakit yang amat teramat diperut nya.


"Sayang!"


Andra, Will, Roy dan Novan mendekat.


"Cepat siapkan mobil!"


Suara Andra meninggi lantas para bodyguard berlarian, Daddy Rei, ayah Andreas mendekat.


"Ada apa?"


Melihat menantu mereka pucat, papah Afar juga khawatir. Dia mengekori Andra yang membopong putri nya itu.


"Jangan panik.....jangan panik"


Ucap ayah Andreas.


Mobil segera datang, Will dan Lisa masuk ke mobil. Will lebih jago mengemudi langsung tancap gas ke rumah sakit keluarga Mid.


Sementara yang lain mengekori mereka, suasana jadi kalut. Sementara Carmen masih mematung di panggung pesta itu.


"Nona"


"Aku tidak membunuh......Aku.....aku bukan!"


Teriak Carmen, di sela-sela ketakutan nya itu.


"Nona ayo kita pergi"


"Aku takut, bagaimana dengan wanita itu?"


"Ayo kita pulang dahulu nona, tidak baik disini"


Asisten Carmen segera menarik nona nya untuk pergi secepat mungkin.


Daddy German segera mengantisipasi acara karena kedua mempelai sibuk, dia dan Aditya mengantisipasi duduk di pelaminan.


"Adik mu ada-ada saja"


BERSMBUNG.