TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.391


Mereka berbicara dengan obrolan ringan, bercanda dengan riang.


"Terimakasih kalian sudah memberikan surprise untuk tuan putri kami ini"


Ucap Daddy German karena dia sangat senang atas kelahiran cucu pertama nya dari istri William.


"Kau ini bisa saja, bukan kah dia juga akan menjadi cucu kami, lihat itu kakek nya"


Papah Afar sekarang sedang menemani cucu cantik nya yang berada di box bayi banyak sekali kado dan karangan bunga selamat datang yang dirangkai dengan bunga mawar segar dan harum bau nya.


"Kau bisa saja Rei"


"Memang benar kan lihat nenek nya adalah ibu angkat anak ku, secara langsung dia keponakan anak ku"


Jelas Daddy Rei tentu saja dia turut senang atas kelahiran anak perempuan William.


"Kalian istirahat lah dulu, Will bawa Lisa untuk istirahat"


"Iya mom"


William menggandengkan dan memapah istri nya berjalan dengan perlahan menuju kamar mereka.


Begitu pun bayi cantik yang sedang tertidur pulas itu dibawa baby sitter nya untuk ke kamar baby yang sudah Will siapkan tentu nya.


"Kamu istirahat dulu ya yang"


"Iya, tapi gamu-gamu masih ada di sini, masa kita masuk mas"


"Tidak apa lagian mereka orang sendiri bukan tamu juga"


"Kamu ini"


Tok.....tok.....tok.


"Masuk"


Pelayan membawa makanan yang tertutup di meja kecil yang mereka dorong sampai di kamar mereka.


"Ini apa mas?"


"Makanan tentu saja untuk mu, kalau nanti malam lapar tinggal ambil saja, ada jus di dalam kulkas jadi jangan sampai kau kelaparan sayang"


"Iya sayang, aku istirahat dulu ya"


William mengangguk lantas segera keluar, setelah dia tugaskan salah satu pelayan menjaga nya.


"Will istri mu sudah istirahat?"


"Sudah mom, dia lelah sekali mungkin hingga langsung tidur"


"Tentu saja karena kan dia habis melahirkan"


"Iya banyak tenaga yang dia keluarkan ya mom, kasihan sekali harus berjuang mengeluarkan Rubby hingga melihat dunia"


"Maka nya sayangi lah istri mu nak"


"Iya mom"


"Hei kau disini rupa nya, selamat ya bro"


"Makasih ya bro"


Roy hanya menunjukkan kedua jempol nya itu lantas segera bergegas menikmati hidangan yang tersedia itu. Mereka mengobrol hingga lupa waktu.


Andra berada di taman samping kediaman megah Lordian.


"Kau disini?"


Andra menoleh, di lihat nya Will berjalan kearah nya.


"Kau juga kenapa kemari?"


"Aku hanya ingin melihat mu saja"


Andra terdiam pandangan nya menatap lurus keatas melihat malam yang kian kelam tanpa taburan bintang.


"Di pasti baik-baik saja, kau jangan khawatir"


Andra mengangguk lantas menghela nafas dengan berat.


"Sungguh kesalahan ku memang kesalahan yang tak patut untuk di maafkan"


William mengangguk.


"Benar, tapi jika itu kau lakukan secara sadar dan sengaja maka kau wajib di juluki lelaki bejad, tapi kau berbeda bro kau dalam pengaruh obat, mungkin jika aku maka aku sudah pasti mati saat itu juga"


"Tetap saja bro, hati istri ku pagi terluka dan amat teramat menderita, apa lagi dulu aku menikahi nya secara paksa tanpa ijin dari paman nya"


"Oh ya!"


Andra mengangguk lalu tersenyum getir.


"Pantes paman nya ngotot membawa dia pergi ke Negera Z"


"APA!, benar kah itu"


William mengangguk.


"Siapa pun akan memilih tinggal dengan keluarga dekat dari pada menunggu orang yang sudah berkhianat pada kita"


"Kau benar"


"Jika cinta mu tulus dan melebihi kasih sayang siapa pun di dunia ini, kejar lh istri mu dapatkan. Cinta nya lagi, aku yakin dia akan sangat bahagia jika kau memperjuangkan nya bro"


"Tentu bro, terimakasih ya"


"Iya bro"


Andra pergi kedepan nampak kedua orang tua, bodyguard serta semua asisten yang mereka bawa sedang berpamitan pulang.


"Ayo kita pulang"


Ajak Daddy Rei, Andra mengangguk.


Papah Afar melihat sorot mata sendu menantu nya itu. Dia juga sedih karena kakak ipar nya mengajak Rindi pergi dan berpisah dengan suami nya.


Mereka semua menaiki mobil yang mereka bawa tadi pagi.


Andra nampak memejamkan mata nya yang lelah, dia melihat senyum manis Rindi.


"Arin......"


Daddy Rei menengok, dia melihat putra nya yang sedang tertidur pulas.


"Sudah 6 bulan dia masih seperti itu"


Gumam mommy Jasmin lirih, dia begitu bersedih akan nasib putra nya.


"Yang sabar mom, putra kita pasti bisa melewati nya"


Daddy Rei mengelus punggung mommy Jasmin yang terdiam.


Hampir setiap hari mommy Jasmin menangisi nasib putra nya, semoga ada keajaiban untuk putra nya itu.


Merek sudah sampai di mansion keluarga Mid dan mereka segera turun.


Andra berjalan dengan lunglai menuju kamar nya itu, dia nampak tak bersemangat untuk hidup.


"Arin kamu dimana? mas kangen!"


Andra memeluk foto nya bersama Rindi di pantai waktu itu, di taman bunga juga sewaktu mereka bermesraan di balkon kamar di negara Z.


Andra segera pergi ke kamar mandi lantas bergegas untuk merendam diri nya menghilangkan sakit kepala yang mendera nya.


1 jam kemudian Andra sudah berpakaian, dia pergi ke balkon sambil meneguk segelas jus delima merah yang mirip dengan anggur ada rasa manis yang berbalut pahit.


Dia melihat Roy yang berenang saat malam, Roy setiap malam melakukan itu tak pernah terlewatkan semalam pun.


Andra memiliki syok minuman itu, sebagai pengganti anggur merah, dia merasa lebih segar dan nyaman saat menghirup aroma buah delima.


Sementara seorang wanita yang perut nya sudah membesar dan sangat buncit itu sedang duduk di balkon yang sama melihat keindahan malam tanpa bertabur bintang di negara S.


"Mas aku merindukan mu"


Gumam nya seraya mengelus perut buncit nya itu, bayi dala perut nya menendang lembut.


Ya dia adalah Rindi usia kandungan yang memasuki 8 bulan ini sangat berat karena dia mengandung janin kembar nya.


Dia tidak bisa tidur, selalu menginginkan sesuatu yang konyol dan entah lah tapi sebisa mungkin Rindi enjoy dengan kehamilan nya agar tak membuat stress diri nya.


Drrtt....drrttt.


Di lihat nya layar ponsel yang menyala memperlihatkan nama pemanggil nya.


"Pah"


"Apa kabar sayang?"


"Baik"


"Hari ini papah menengok Lisa yang telah melahirkan anak gadis yang sangat cantik, papah jadi ingat kamu nak"


Rindi terdiam.


"Apa kau baik saja disana? apa kau terluka, apa ku susah tidur?"


"Tidak pah"


"Nak kembalilah, suami mu merindukan mu papah tahu setiap malam dia memanggil nama mu, mendekat foto kalian baru dia tertidur"


Rindi terdiam.


"Nak papah tahu kamu terluka tapi dia tidak sadar melakukan itu, dia di bawah pengaruh obat, ingat janin mu adalah milik nya tolong jangan egois nak"


Rindi menangis mematikan panggilan ponsel nya sepihak.


BERSAMBUNG.