TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S2 EPS.190


Min terbangun dari tidur nya, dia bergegas untuk mandi.


Klek.


Min keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


"Sudah bangun?"


"Iya"


"Apa sudah lebih tenang?"


Min mengangguk, dia hanya tersenyum tipis. Rei mengerti, gadis seperti Min yang bahkan tidak pernah bergaul dengan lelaki pasti agak trauma.


"Pergi lah sarapan, jangan bekerja dulu"


"Baik om"


Min turun ke bawah untuk sarapan, sementara Rei pergi ke ruang kerja nya.


"Nyonya mau dibawakan camilan apa?"


"Tidak usah bi"


Bi Annete diam memandang nyonya rumah nya menaiki tangga menuju lantai atas satu per satu.


"Seperti nya nyonya sedang murung"


"Kenapa tidak di bujuk?"


Annete hanya menghela nafas disebelah nya ada James yang menimpali.


"Apa nyonya sudah sarapan?"


"Hanya sedikit tuan, saya bawakan camilan tadi dia menolak"


"Baik lah, jika butuh kalian nanti ku panggil"


"Baik tuan"


Rei naik ke lantai atas menuju kamar nya, terlihat istri gadis nya itu sedang berada di balkon termenung.


"Masih berpikiran tentang peristiwa kemaren?"


Rei mendekat menaruh tangan besar nya di pundak istri nya itu. Min menggelengkan kepala dengan cepat, takut si empu tangan tersinggung.


"Lantas?"


"Aku mengenal mas Ravenda adalah lelaki yang baik, ramah serta akrab menjadi sahabat"


Rei melirik kearah istri nya.


'Menarik'


Gumam Rei.


"Mungkin aku yang kurang bergaul ya om"


Rambut Min diterpa semilir angin hingga beterbangan bak bulu, Rei menyukai nya karena saat ini gadis itu terlihat lebih cantik dari biasa nya.


"Memang seperti apa sosok Rave dalam pandangan mu?"


"Orang yang bisa diajak bergaul dan mempunyai sifat terbuka, tapi......"


"Tapi.......?"


"Setelah 2 Minggu lalu di taman dia seolah menjaga jarak, dia menyatakan perasaan nya pada ku, om"


"Lalu?"


"Aku menolak nya, syarat yang dia ajukan adalah tentang masa lalu yang tak mungkin bisa di ulang"


"Maksud nya?"


"Dia akan menebus semua biaya yang om keluarkan dan menyuruh Min untuk bersama nya serta meninggalkan om"


"Kalau kau cinta kenapa tidak menuruti nya?"


"Cinta bukan kah bisa dibedakan, aku cinta sama mamah, om"


Rei memandang gadis disampingnya begitu pun sebalik nya.


"Bukan kah tak pantas jika suatu kebaikan di ungkit"


"Benar"


Mereka sama-sama terdiam dalam beberapa saat.


Tok......tok.....tok.


"Masuk"


James membuka pintu kamar utama milik tuan nya.


"Tuan, ada nyonya besar Alkatiri yang meminta bertemu"


"Mamah seperti masuk ke rumah tahanan saja harus minta ijin dulu"


Sang mamah rupa nya sudah tak sabar untuk menemui si bungsu nya.


"Mah, ayo kita turun ke ruang tamu!"


Rei sejenak kaget karena sang mamah menyambangi kamar nya di villa itu.


"Tidak perlu, bukan kah sama saja, James kau keluar jangan ada yang berani masuk!"


"Baik nyonya besar"


James segera pergi undur diri dari hadapan ibu dan anak juga menantu yang berada dalam satu kamar.


Mamah Cinta duduk di sofa, sementara Min segera mendekat kearah nya dengan senyum manis yang tersungging di bibir tipis nya.


"Kemari lah nak, duduk dengan manis disini bersama mamah"


"Terimakasih nyonya"


Rei pun segera mendekat untuk bergabung.


Rei berhenti dihadapan sang mamah yang seperti nya marah pada nya.


"Kau sudah tidak menurut pada mamah kan? pikirkan kesalahan mu itu!"


Rei terdiam sejenak lantas tersenyum.


"Maaf mah, Rei sibuk"


"Arei Rafiensah Alkatiri, kau ini sudah membatah mamah ya?"


"Tidak sama sekali mah"


"Kau berbohong, mamah sudah menyuruh mu untuk datang dan makan malam bersama keluarga ajak istri mu juga!"


Sang mamah seperti bocah 5 tahun yang ngambek pada ayah nya. Min tersenyum melihat tingkah ibu dan ank itu terlihat lucu dan imut.


"Iya mah kalau ada waktu pasti Rei bawa Min untuk makan malam bersama"


"Tidak bisa, jika mamah minta ya harus datang, kau sudah tidak menyayangi mamah mu lagi Rei"


Sang mamah mulai mengeluarkan jurus andalan dengan air mata nya itu.


"Baik lah mah, Rei pasti datang jika mamah minta"


"Janji?"


"Janji"


Sang mamah tersenyum, wanita paruh baya itu sangat senang.


"Ayo kita turun, mamah membawakan cake kesukaan mu"


Rei mengangguk, mereka turun ke meja makan.


"Annete hidangkan tiga porsi kue dari nyonya besar"


"Baik tuan"


Tak lama kemudian muncullah Annete dengan 3 porsi cake berwarna kuning terang.


"Silahkan menikmati"


Ucap Annete.


Mereka nampak menikmati cake dengan segelas jus mangga.


"Ini cake kesukaan Rei, lain kali mamah akan mengajari kami membuat nya bagaimana?"


"Baik mah"


"Kau cantik sekali sayang, mamah membawakan gaun cantik salah satu dari koleksi di butik mamah"


"Terimakasih mah"


Mamah Cinta sangat tertarik dengan gadis belia yang dipersunting putra bungsu nya. Apa pun alasan Rei mamah Cinta ingin melindungi menantu bungsu nya itu.


"Oh ya, mamah juga ingin segera menggendong cucu dari kalian secepat nya"


Ucap mamah Cinta, Min tersenyum manis.


"Sebaik nya kau bawa istri mu untuk tinggal di rumah keluarga besar, disini dia pasti akan kesepian jika ditinggal sendirian"


"Min bekerja juga di kantor Rei, mah"


Ucap Rei segera menimpali.


"Kau mengijinkan istri mu bekerja?"


"Benar, kami juga bisa bersama sepanjang hari"


Sang mamah mengangguk lalu menggelengkan kepala nya.


"Rei, tugas wanita itu mencintai suami, di manjakan dan menjaga anak-anak, jika Min bekerja kapan kalian akan memiliki anak!"


"Mah kami kan masih muda, mamah tenang saja urusan anak akan Rei usahakan dengan keras"


"Min memang masih muda, tapi kau sudah matang anak nakal"


Mamah Cinta geram di buat anak bungsu nya.


"Mah, kami masih mau punya banyak waktu berdua saja, nanti jika Rei agak senggang juga kita pasti program sehat supaya cepet punya anak kok"


"Baik lah jaga istri mu"


"Pasti, mah"


Min nampak memperhatikan ibu dan anak yang nampak kompak, dia teringat perkataan ibu dari bos besar nya ini.


'Mengapa semua orang menyebut ku istri nya si om, pada hal aku hanya karyawan nya saja'


Gumam Min dalam hati.


"Baik lah mamah pulang dulu"


Ucap sang mamah segera pergi dari rumah pasangan muda itu.


"Min titip anak mamah yang nakal ini, jika kasar kasarin balik aja ya"


"Baik mah"


"Jangan lupa sering-sering ke rumah mamah dan papah, mentang-mentang bocah ini punya rumah, kamu tidak pernah berkunjung ke rumah mamah"


"Iya nanti Min berkunjung mah"


"Bagus lah, mamah banyak menantu, mamah senang sekali"


Setelah nya Rei dan Min mengantar sepuh mereka pulang sampai di halaman.


"Aku ke ruang kerja dulu, nanti sore aku ajak jalan-jalan ya"


"Iya om, terimakasih"


Rei segera menuju ruang kerja untuk memeriksa pekerjaan nya hari ini.


BERSAMBUNG.