TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.275


Sekelumit kisah antara Lucas dan Rindi.


Rindi sudah menyelesaikan pendidikan nya di luar negeri, dia sudah lulus dengan nilai dan uji lapangan terbaik. Usaha nya tidak pernah gagal selama ini, dia begitu fokus dengan apa yang ada di hadapan mata nya.


Awal masuk ke universitas banyak yang acuh pada diri nya, bahkan profesor Ben Darian sendiri ragu akan kemampuan nya. Namun Rindi tidak menonjolkan kemampuan yang dia bisa secara sombong tapi membiarkan semua orang tahu akan keberadaan nya.


Lihat lah sekarang bukan hanya pemuda bodoh yang tua semacam Lucas namun profesor Ben kadang meminta pendapat nya. Rindi juga mengikuti les design yang kadang diadakan universitas secara gratis. Atau juga les lain nya hingga dia tidak di bodohi di masa depan.


Rindi mengambil semua keterampilan yang diberikan secara cuma-cuma oleh pihak universitas internasional itu, jika dia lebih tertarik maka akan mendatangi club' khusus yang menyangkut keterampilan tersebut. Lucas tidak habis pikir teman kecil nya ini mampu bersaing dan bahkan sewaktu-waktu gadis itu menunjukkan keunggulan nya.


Dua musim semi lalu, Lucas pria menjadi pria culas bukan tanpa alasan. Karena sang Daddy berkata jika diri nya memiliki wanita luar biasa maka harus segera di lamar menjadi menantu Admire.


Lucas mendekati Rindi, mungkin gadis itu mengira diri nya hanya bercanda. Hingga puncak nya Lucas mengenalkan kedua orang tua nya kepada Rindi. Rindi mendiamkan nya, hingga Lucas pun tidak tahan karena di acuhkan gadis kecil itu.


Hubungan Lucas dan Rindi membaik karena Lucas membantu Rindi membeli serat benang emas untuk maha karya lukis yang akan Rindi ikuti. Tapi jelas Rindi tak seperti semula, ada jarak tak kasat mata yang membentang menghalangi jarak mereka.


Meski Lucas bersikap seperti semula, namun kadang kala Rindi marah dan selalu mendiamkan nya. Hingga Lucas berjanji di malam tahun baru kemaren dia menganggap Rindi teman nya saja tanpa ada yang spesial atau tujuan.


Arah pandangan Ben pada Rindi.


Lelaki yang cukup matang saat ini 38 tahun usia nya bahkan sudah menjadi profesor di universitas bertaraf internasional bukan tanpa celah atau mulus. Ben melalui nya dengan susah payah, jatuh bangun.


Dengan usaha terakhir tanpa pantang menyerah dan sudah pada ambang batas akhir nya Ben bisa mendapatkan gelar profesor.


Namun berselang 2 tahun menyandang gelar dan mengajar di universitas ternama, tiba-tiba datang pengacau dari keponakan sahabat paman nya.


Mendapatkan mandat mengawasi keponakan sahabat sang paman. Entah bocah wanita kecil yang seperti yang sudah bermain di otak Ben. Ben sengaja tidak peduli, remeh dan acuh. Dia hanya melihat dari jauh tanpa mencampuri.urusan gadis kecil itu.


Begitu pun gadis itu seolah tidak melihat Ben atau menyapa nya.


Semua telah pergi dari apartment Rindi setelah makan malam. Gadis itu segera pergi ke kamar mandi karena dia harus mandi. Banyak debu di jalan tadi. Besok acara kelulusan dan moment terakhir yang baik di universitas.


Sebenar nya paman Rindi sudah meminta nya kembali sejak setahun lalu tapi gadis itu menolak dan ingin menunggu untuk hadir dalam acara wisuda yang terakhir.


"Papah mu sakit hari ini sempat di rawat 3 hari di rumah sakit"


Rindi mengangguk, saat ini dia sedang bervideo call dengan sang paman. Rindi lebih fokus mempelajari mata kuliah ketimbang memperhatikan papah nya.


"Kenapa?"


Suara sang paman membuyarkan nya dari lamunan.


"Tidak ada paman, bukan kah disana ada anak papah yang lain bukan hanya aku saja"


"Memang, tapi dia menghubungi paman, dia ingin bertemu dengan mu, entah lah"


"Paling dua hari lagi aku pulang paman"


"Baik jaga diri mu, jangan terlalu keras"


"Iya, selamat malam paman"


Rindi terdiam setelah berbicara dengan paman nya lewat video call. Apa ada yang lebih berarti selain kakak nya dan perkembangan perusahaan. Rindi tidak pernah mendengar selama 18 tahun papah nya merindukan nya begitu saja.


Sementara di rumah sakit memang Afar terbaring sakit, dia kena typus karena tidak menjaga kondisi badan nya selama setahun terakhir. Dia sibuk bekerja, jarang di rumah dan akhir nya drop pada 3 bulan terakhir kondisi nya memburuk.


"Pah"


Seorang wanita masuk, siapa lagi jika bukan Lisa anak kandung sulung nya. Wanita muda itu berpakaian modis, berparfum menyengat pula.


"Lisa bisa tidak kalau jenguk papah jangan pakai parfum yang menyengat?"


"Apa sih pah, lagian Lisa gak lama disini, bawa makanan terus nemenin papah menghabiskan makanan nya"


Afar sudah pasrah dengan putri nya itu, dia memakan bubur hambar dengan kaldu ayam hambar juga. Sekitar 20 menit Afar sudah menghabiskan nya.


"Ini.....!"


"Cepet sehat pah, supaya cepet pulang dan tidak menambah biaya"


Ucap Lisa entah sengaja atau tidak wanita itu mengatakan nya.


Hati Afar sangat sakit, pada hal dia selalu menuruti kemauan putri sulung nya lebih bahkan seluruh perhatian untuk putri sulung nya. Tapi apa sekarang bahkan biaya rumah sakit saja menjadi masalah bagi mereka.


Afar menatap nanar langit-langit, dia melihat seulas senyum manis nan tulus. Senyum tanpa penuntutan, lugu dan periang. Tidak pernah memberontak, tapi aneh nya dia sendiri yang mengekang gadis kecil yang memiliki senyum tulus itu.


"Kapan kau menengok papah nak?"


Ucap Afar, tak terasa bulir bening mengalir dari sudut mata nya.


Memang pantas jika gadis bungsu nya tidak mau menjenguk nya, selama ini dia selalu abai akan keberadaan nya. Hanya Lisa yang dia lihat, yang sekarang baru terlihat watak nya yang keras, suka marah-marah dan lagi pembangkang.


Afar memang seorang pekerja keras, dia mempercayai istri pertama nya yang lemah lembut, baik dan melayani nya dengan sepenuh hati. Namun satu kesalahan fatal Afar karena mencintai wanita lain yang lebih tulus hingga menikahi wanita itu tanpa menjelaskan status asli nya.


Masih teringat jelas saat wanita kedua terbaik nya melahirkan sosok gadis cantik yaitu putri bungsu nya ke dunia. Setelah menemani selama tiga hari persalinan, Afar ada klien dari luar daerah yang ingin bertemu dan menyangkut tender besar.


Afar tak menyangka jika perpisahan itu merupakan perpisahan terakhir dengan wanita tercinta kedua nya. Sesaat Afar masuk ke ruang rawat, dia sudah mendapati wanita ibu dari anak bungsu nya tertutup kain kafan putih.


Hati Afar hancur, terpuruk, bahkan anak cantik nya dia biarkan seharian menangis tanpa dia gendong atau susui. Sejak saat itu Afar menganggap bahwa kelahiran putri nya menggeser hak hidup dari istri yang dia cintai. Hingga berusia dua tahun Afar membawa nya pada istri pertama nya setelah dia mengobati psikis nya.


Afar menyerahkan hak hidup putri bungsu nya pada istri pertama nya. Dia mengatakan pada bocah lugu itu jika wanita itu adalah ibu kandung nya. Setelah nya Afar hanya melihat gadis itu selalu hadir di meja makan tanpa tahu kondisi dan keadaan nya.


Dia tidak pernah tahu apa pun tentang putri bungsu nya, bahkan menahan gadis itu untuk melanjutkan pendidikan nya ke universitas. Sungguh ironi ketika gadis itu menemukan paman kandung yaitu kakak dari mendiang istri nya mengurus nya. Afar seolah tak rela dia di urus oleh orang lain, tapi kata-kata gadis itu meyakinkan nya sangat jujur.


Beberapa kali Afar menghubungi kakak dari mendiang istri kedua nya, namun seolah lelaki itu tuli dan hanya menyampaikan kabar jika putri nya sedang berkuliah saja.


Meski boleh jujur memang saat ini Agar ingin dirawat oleh salah satu keluarga nya, tapi itu memang tidak bisa dia realisasikan.


Di perusahaan yang kini sudah bertaraf internasional lelaki matang nan gagah sedang mengerjakan tumpukan dokumen.


"Tuan"


Andra menoleh karena panggilan Roy.


"Anda harus istirahat dulu, tulang belakang anda tidak bisa di forsir"


Andra mengangguk.


"Aku sudah mengganti kursi ku dengan kursi pijat khusus yang ku pesan dari saran dokter ortopedi"


Roy mengangguk.


"Baik, tapi jangan lupa minum obat"


Roy mengingatkan dengan lembut, setelah kejadian 5 tahun lalu. Ya 5 tahun lalu, Andra kehilangan jejak seorang gadis belia. Tak dia sangka jika gadis itu sudah menancapkan akar dari pohon cinta.


Andra mengamuk hingga terjatuh dari lantai 2, tidak bermaksud bunuh diri namun entah mengapa dia bisa terjun sendiri. Selang 3 jam Roy baru menemukan tuan nya tergeletak dibawah balkon kamar Andra sendiri.


Roy panik bukan main, membawa lelaki dewasa itu untuk pergi ke rumah sakit. Tak terkecuali semua asisten, pelayan dan bodyguard dibawa serta. Lagi dan lagi Andra terlibat dengan pisau bedah, namun kali ini masalah cedera 25 tahun lalu menjadi terpecahkan.


Dalam keterpurukan itu, Andra mendapat berkah. Entah lah bagaimana lebih tepat nya, dokter menyarankan agar terapi kaki nya untuk berjalan. Karena dengan jatuh nya Andra dari lantai 2 otot-otot yang semula kaku menjadi kendur karena saraf yang terjepit itu mulai bergeser.


Yang sebelum nya dokter mendiagnosis Andra akan lumpuh seumur hidup kini mau mengusulkan terapi berjalan. Semua kabe gembira ini disambut baik khusus nya Daddy Andra yaitu Rei.


Kabar bahagia namun tidak bagi seseorang siapa lagi jika bukan ibu tiri Andra yaitu Elian. Wanita itu emosi nya meluap semua barang antik dia pecahkan bahkan membakar baju baju mahal nya. Elian geram karena anak wanita yang masih koma itu mendapat keajaiban.


Elian tertawa bahagia, ketika melihat brangkas nya. Dia melihat sesuatu yang bisa dia jadikan sebagai pacu teror yang mengerikan hingga anak tiri nya menyerah akan pewaris dua keluarga dan dua bisnis mengingat dia cucu lelaki satu-satu nya.


Elian mengangkat kotak usang itu, melihat barang didalam nya masih utuh. Dia tersenyum seperti setan karena rencana nya sudah tersusun di otak licik nya.


"Mah"


Tanpa mengetuk pintu Aditya masuk, membuat Elian kaget setengah mati.


"Ketuk pintu mamah kalau ingin masuk tuh"


"Kenap mamah membawa kotak itu, ada apa mah"


Aditya sudah gemetar hanya dengan melihat kotak nya saja.


"Tidak, tapi mamah punya rencana terkait dengan kotak ini"


"Letakkan kembali mah!"


"Apa sih Dit, ini hanya kotak saja, tidak ada yang spesial"


Aditya sudah gemetar, badan nya seolah tak bisa dia ajak kompromi. Terbayang peristiwa malam yang mendebarkan. Terbayang juga peristiwa sadis yang masih jelas membekas dalam ingatan nya.


"Oh, ayolah mah, letakan itu kotak yang menjijikan"


"Baik lah, kau ini ada-ada saja"


"Aku jijik lah mah"


Mendengar sang mamah dan saudara lelaki nya berteriak membuat keributan Camelia mendekat.


"Ada apa mah?"


"Ini kakak mu, mamah hanya membuka kotak ini kakak mu sudah jijik"


Mata Camelia membola melihat kotak itu, kotak yang 25 tahun lalu dia berikan pada mamah nya.


"Kok mamah membuka kotak itu buat apa sih?"


Elian menatap heran pada saat ini kedua anak nya nampak kompak memberikan ucapan yang sama.


"Tenang saja, mamah akan memberikan syok terapi pada saudara kecil kalian, karena mamah menyimpan kenangan saudara miskin wanita nya itu"


Baik Aditya mau pun Camelia saling pandang tak mengerti atau bingung.


"Memang mamah ada rencana apa?"


"Sudah mamah bilang, mamah akan membuat syok terapi untuk adik kecil kalian"


"Mah jangan gila mah"


"Tidak kok, kenapa memang?"


"Kita buat rencana lain saja, Ditya akan pikirkan dengan matang"


"Memang kalian sudah punya rencana?"


Mereka dengan kompak mengangguk, Elian merasa aneh dengan sikap kedua orang itu.


"Baik lah"


Ketika Elian akan kembali menyimpan kotak tersebut langsung dihadang oleh Aditya.


"Mah, biarkan kami yang simpan"


"Kenapa?"


Elian sudah curiga dengan kedua anak nya itu, pertama tumben mereka kompak, kedua mereka terlihat gugup dan ketiga mereka memberikan opsi lain untuk nya.


"Tidak ada, hanya kan ini barang usang kenapa masih disimpan?"


"Tidak apa"


"Mah"


"Sudah lah kalian istirahat saja mamah akan segera menyimpan nya"


"Tapi......"


"Mamah akan mendengarkan kalian, jangan khawatir"


Mereka berdua mengangguk setuju lantas segera masuk ke kamar masing-masing.


"Mereka aneh sekali"


Elian hanya menebak namun tebakan itu semua tak berdasar. Dia tidak mau mencurigai kedua anak kesayangan nya meski mereka hanya anak adopsi.


"Kak"


Ditya menoleh, karena Camelia meminta bertemu di taman belakang.


"Ada apa?"


"Bagaimana ini?"


"Sudah lah jangan dipikirkan semakin kita agresif mamah akan curiga peristiwa 25 tahun lalu"


Camelia mengangguk pelan.


"Kenapa tidak kakak rebut saja kotak nya?"


Aditya menggelengkan kepala nya.


"Tidak perlu, aku percaya mamah pasti menyayangi kita"


Camelia mengangguk.


"Baik lah"


"Pergilah tidur temani anak dan suami mu"


Camelia tersenyum mengangguk.


"Kakak juga"


Aditya mengambil sebatang rokok, dia hampir saja ketahuan akan peristiwa itu. Dia harus lebih ketat menjaga mamah nya jangan sampai mengungkap jati diri nya.


Bagaiman pun pasal nya Andra selalu mencari pelaku kejadian 25 tahun lalu. Dan itu bukti kongkrit nya, dia tidak ingin sisa hidup nya berada di jeruji besi meski pun tidak memiliki anak dengan istri nya. Namun dia memiliki mimpi melihat tumbuh kembang anak nya yang bersama Camelia.


BERSAMBUNG