
Cling.......
"Maaf, aku hari ini absen mengejar mu pangeran bermobil putih"
Itu lah sebaris pesan yang Rindi kirim ke ponsel Andra.
"Mungkin untuk beberapa hari, aku sibuk jadi masalah mengejar mu di pending dulu ya"
Chat nya kemudian.
Andra tersenyum, baru sehari saja rupa nya gadis itu sudah menyerah karena menunggu nya kemaren turun menjemput.
"Dari siapa tuan?"
"Dia sudah jera, tidak mengejar ku lagi"
Roy mengerutkan alis nya itu, rupa nya memang benar tuan nya bukan tipe lelaki yang di gemari para kaum hawa.
Roy keluar dari ruangan kantor tuan nya.
"Tumben murung?"
"Sudah tidak ada yang mengejar tuan lagi?"
"Hah! bagaimana dengan non Rindi?"
"Dia sudah pergi, hanya sekali itu saja"
"Apa iya?"
Roy mengangguk.
"Saking senggang nya kalian sampai bergosip, aku saja yang wanita tidak suka bergosip tapi kalian"
Crruuppp.....
Mulut Anita di bungkam oleh Novan dengan segera.
"Hemm.....!"
"Apa sih, berisik kita lagi berduka nih"
"Huh, tangan mu bau terasi tahu! eh, siapa yang meninggal?"
"Perasaan nya bos"
"Kalian sudah gila"
Anita berlalu, mereka berdua menggelengkan kepala.
"Tak ku sangka Anita lebih ambisius dari pada kita para pejantan"
BUKK......
"Ambisius kepala mu! pejantan dari mana kalian itu jomblo dari orok!"
Roy melihat Anita itu.
"Dia jadi ketularan tuan, gila kerja"
Ucap Roy.
"Wanita yang tidak menikmati hidup"
Sambung Novan.
Rei sudah hampir seminggu menemani Min di negara A, hari ini dia pulang ke negara Z.
"Pah, sudah pulang?"
"Iya, tumben bisa ngumpul makan malam?"
"Iya nih, kita kan sudah punya menantu dari Aditya dan Camelia, sekarang cari giliran buat Arvin yuk?"
"Terserah mamah saja, kalau bocah nakal itu setuju ya papah ikut saja"
"Baik lah pah"
"Jika tidak setuju jangan di paksa, biar dia memilih sehingga kita tidak perlu merasa bersalah jika terjadi sesuatu"
"Iya mamah mengerti pah"
Mereka makan malam dengan khidmat, mereka mengkode lewat mata. Tentu saja semua nya sudah terencana dengan matang dan hasil nya, ada beberapa rencana yang mereka susun karena kebanyakan rencana mereka di gagalkan oleh Andra.
Sudah seminggu berlalu sejak kemunculan gadis remaja anak bungsu keluarga Mukti itu. Andra pun kembali bekerja seperti biasa, tidak terlalu menaruh harapan yang banyak atau bergantung pada orang lain.
Tok....tok...tok.
Roy mengetuk pintu ruangan kantor Andra.
"Masuk"
Roy masuk membawa beberapa macam berkas kerjasama dengan beberapa perusahaan kecil.
"Apa jadwal ku?"
"Ada meeting di perusahaan Mukti dengan tuan Afar Mukti, tuan"
"Baik lah"
"Setelah itu ada jamuan makan malam di resto xx, dengan beberapa klien dan anak mereka"
"Baik lah, kita makan siang dulu"
Mereka pergi makan siang. Namun di perusahaan Mukti sangat heboh dari pagi perusahaan berbenah agak tidak ada yang kotor.
"Pah, ada apa ini?"
Satu jam sebelum makan siang Lisa datang ke kantor.
"Kenapa kamu baru datang? setelah jam makan siang pak Andra akan datang untuk meeting di kantor kita"
"Hah! kenapa papah tidak mengabari Lisa!"
"Papah lupa, papah sibuk"
Lisa dengan kesal segera pergi ke salon waktu nya hanya kurang dari setengah jam.
"Duh keburu tidak ya, papah pakai lupa lagi"
Lisa mencari salon yang dekat saja lantas hanya creambath dan dandan sebentar.
Andra sangat bersemangat, entah apa masalah nya. Selesai jam makan siang, Andra menuju perusahaan keluarga Mukti. Disana dengan senang hati seisi perusahaan menyambut nya.
Afar Mukti menyapa CEO muda yang kini karir nya sedang sukses. Andra hanya mengangguk menyambut uluran tangan dari Afar. Andra tidak melihat karyawan, mata nya menelisik tiap sudut untuk mencari seseorang.
"Silahkan pak!"
Afar mempersilahkan tamu agung nya untuk memasuki ruang terbaik demi menjalin kerjasama yang lancar.
Afar mempresentasikan kinerja nya lantas menyebutkan pegawai handal nya. Andra hanya mengangguk dengan pasti, Roy juga menganalisis barang kali kerja sama mereka ada pihak yang tidak seimbang.
"Bagaimana tuan?"
"Ini proyek kecil, setujui saja"
"Baik tuan"
Afar dan Andra dengan lancar bekerjasama, sementara Lisa terlambat datang ke kantor ini hampir lebih dari satu jam dia di salon karena ketiduran.
"Kenapa sial sekali sih, kenapa harus ketiduran!"
Dia marah-marah di salon dan menuntut salon tersebut karena tidak membangunkan. Ketika Andra hendak keluar ruang meeting, Lisa menabrak nya hingga jatuh hampir ke pangkuan Andra namun dengan sigap Andra mendorong wanita itu.
"Maaf pak atas kelancaran putri saya"
"Maaf saya kembali ke kantor dulu"
"Baik, hati-hati dijalan pak"
"Roy buang jas ku, belikan jas yang baru"
Afar yang mendengar nya seakan kaget, dia menunduk malu. Ada beberapa karyawan yang berbisik karena Lisa mencoba menggoda Andra.
Andra tidak menghiraukan Lisa atau pegawai yang ada disana, dia segera bergegas kembali ke kantor nya.
"Buat malu papah saja!"
Setelah itu Afar segera mengerjakan proyek yang akan di kerjakan dengan Andra.
"Semua nya gara-gara papah"
Lisa pun segera pergi ke ruangan nya, hari ini sangat sial bagi nya.
Andra sampai di lobi kantor sudah sore, disana melambaikan tangan seorang gadis kecil itu.
"Selamat sore calon pacar?"
"Sore"
Roy langsung menahan senyum, setelah seminggu gadis itu muncul lagi. Mereka menuju ruangan kantor Andra.
"Aku bawakan kue loh"
"Beli dari resto mana?"
"Aku minta"
Andra menoleh, lalu menyuap kue yang dibawa oleh Rindi.
"Oh ya aku sudah kerja loh"
"Kerja dimana?"
"Jadi pelayan restoran"
"Oh"
"Jadi tidak sempat mengejar cinta nya mas ganteng ini"
Rindi menoel hidung mancung milik Andra, sambil tersenyum manis.
"Kamu tidak bekerja di kantor papah mu?"
Andra bertanya sambil membaca laporan yang ada di meja nya.
"Tentu tidak, kan aku cuma tamatan SMA"
"Kakak mu bisa"
"Kak Lisa sudah S3 di luar negeri"
"Oh"
"Jadi aku hanya kerja serabutan saja"
"Kenapa tidak memilih perusahaan"
"Takut nya tidak ada bidang yang bisa Indy kerjakan, lagi pula pasti susah ngejar karyawan yang lain kalau kerja di perusahaan"
Andra terdiam.
"Ya sudah ini sudah sore, aku mau pulang dulu"
"Hati-hati dijalan ya"
"Iya"
Rindi melihat Andra yang selalu sibuk dengan setumpuk pekerjaan nya, dia tersenyum lalu pergi keluar ruangan itu.
"Mau pulang non?"
Novan menyapa gadis cantik remaja itu, sangat cantik tanpa kekurangan.
"Iya, selamat bekerja"
"Terimakasih non"
GREPP........
"Auuhh......"
Novan mengadu kesakitan karena telinga nya di jewer oleh Roy. Rindi yang masih belum terlalu jauh dengan mereka, hanya tersenyum saja.
"Jangan merebut milik bos kita atau kau mau jadi debu hah!"
Roy berkata di telinga Novan.
"Ampun bos!"
"Kalian tidak ada kerjaan ya!"
Mereka segera kabur karena ditegur oleh Anita.
BERSAMBUNG.