
Cinta terbangun dari tidur nya setelah pukul 4 pagi, dia segera mematikan televisi yang hampir 8 jam menonton nya terbuai ke alam mimpi.
"Kok aku ketiduran ya?"
Lirih Cinta bermonolog sendirian.
"Ya sudah lah"
Cinta bergegas untuk mandi supaya tubuh nya segar, menyalakan televisi yang menayangkan senam aerobik untuk kesehatan badan juga jantung nya. Selama 1 jam lama nya Cinta mengeluarkan peluh, tanpa AC menyala, hanya udara luar yang sejuk karena membuka jendela.
"Rasa nya segar sekali, aku mau bikin sarapan dulu"
Cinta segera beranjak menuju dapur, dilihat nya piring kotor bekas si tuan rumah makan semalam, 2 piring lauk yang sudah kosong juga sepiring sayur habis tak bersisa. Bahkan nasi pun hanya sekepal tangan bayi saja, Cinta menggeleng melihat bekas makanan di meja itu.
"Untung saja aku tertidur"
Lirih Cinta.
Cinta segera membersihkan beras putih, menambahkan air 3 berbanding 1 dengan beras nya, lalu memasaknya di kompor. Membuka isi lemari es, ada ikan tuna yang akan Cinta jadikan tuna sedikit pedas, serta kuah sop dengan daging sapi. 1 jam bubur sudah jadi pula, Cinta hidangkan satu mangkuk bubur putih dengan kuah sop terpisah juga ikan tuna yang sudah di goreng.
Klek.
Pintu kamar Aksara terbuka, menampakan penghuni nya yang sudah segar.
"Tuan mari sarapan"
Aksara melirik, mengamati menu sarapan nya.
"Apa kau buta aku baru saja bangun, aku ingin teh hangat terlebih dahulu setelah nya aku akan jogging keliling rumah"
"Baik"
Dengan tergesa Cinta membuat teh hangat dengan sedikit gula, menaruh disisi si tuan yang sedang membaca korannya pagi ini.
Aksara menyeruput teh itu lantas menyemburkannya.
"Kau ingin lidah ku terbakar, aku minta teh hangat tau kamu!"
"Maaf"
Cinta segera mengganti nya dengan yang lebih hangat kembali membawakannya untuk tuan nya itu.
"Ini kurang manis sedikit lagi"
Kembali Cinta menambahkan sedikit gula.
"Taruh sejumput garam!"
"Baik"
Aksara meminum nya sedikit demi sedikit.
"Kau rasa teh nya itu, itu kesukaan ku"
"Baik"
Cinta terdiam sejak kapan si suami nya ini suka teh seperti rasa air laut ini. Aksara tersenyum devil melihat ekspresi Cinta, gadis di samping nya pasti sedang bingung akan hal itu.
"Apa sudah kau coba?"
"Sudah tuan"
Cinta kembali ke dapur, lalu kembali menghampiri suami nya.
"Tuan ingin sarapan sekarang?"
Aksara melirik ke samping, nampak penampilan Cinta yang sudah rapi.
"Buru-buru sekali, ada apa?"
Cinta menundukan wajah nya, Aksara bangkit lantas berlari mengitari rumah itu. 1 jam menunggu Aksara, Cinta menghubungi Sofialy karena mungkin dia tidak datang bekerja di cafe kakek itu.
"Panaskan bubur nya lagi?"
"Baik"
Aksara sudah duduk di meja makan, nampak ada dua porsi sarapan.
"Kenapa harus dipisah, aku tidak suka itu!"
"Maaf tuan"
"Kenapa kau terburu-buru sekali?"
"Aku akan bekerja ke cafe"
"Aku ada di rumah, apa kau akan pergi?"
"Maaf tuan"
"Pergi dan bersihkan rumah"
"Baik"
Cinta pergi ke kamar untuk berganti pakaian, sekalian menghubungi Sofialy jika dia benar benar tidak bisa datang untuk bekerja sampingan.
Aksara menghabiskan sarapannya berikut sarapan porsi untuk Cinta. Sudah pukul 10 pagi lantas Aksara bergegas menuju pintu depan.
"Aku akan keluar dan pulang sore hari"
"Baik"
Sesaat setelah Aksara pergi, Cinta segera berkemas untuk bekerja sampingan di warung kakek itu.
"Kau tidak jera diberi pelajaran rupanya!"
Aksara sudah geram dengan gadis itu dan tidak suka pada nya. Dan dengan jelas gadis itu melanggar perintah dari nya.
"Baik lah kau ingin mencoba kekuatan ku"
Aksara menghubungi Melki lantas menyuruh nya membooking cafe kecil itu untuk klien besar Aksara.
"Iya"
"Ada pengusaha yang akan membooking cafe kita untuk 3 jam ke depan"
"Benar kah?"
Sofialy mengangguk senang begitu pun dengan Cinta.
'Semoga bisa dapet untung banyak, dan aku bisa menengok si kembar, sudah seminggu ini aku tidak menengok mereka sangat rindu sekali'
Gumam Cinta dalam hati nya lantas tersenyum manis sambil mengkhayalkan sepasang anak nya itu.
'Mamah akan menjenguk kalian segera'
Dengan semangat tinggi Cinta sangat bahagia.
Tak berapa lama muncul lah segerombolan orang, si kakek sudah sibuk mempersiapkan hidangan yang cocok untuk mereka.
"Indy cepat tawarkan menu apa yang ingin mereka makan?"
"Baik kakek"
Cinta segera menghampiri tamu itu.
"Silahkan memilih menu cafe kami tuan?"
Saat itu juga tatapan mata Cinta dan Aksa bertemu, jantung Cinta seakan mau keluar dari dada nya. Namun sebisa mungkin Cinta dengan tenang melayani mereka, Aksara tersenyum miring.
"Apa yang mereka pesan?"
"Hanya nasi goreng, beberapa lauk, minuman ringan, jus, juga buah segar yang di kupas dengan rapih"
"Baik kakek menyiapkan kue pembuka untuk mereka serta teh hangat, Indy masak makanan berat, lauk, sayur juga, Sofi kupas buah dan sajikan minum ya"
"Baik kakek"
Mereka mengerjakan bagian yang di tunjuk kakek, serta berharap menu yang di sajikan itu bisa memuaskan pelanggan yang membooking cafe si kakek itu.
"Silahkan di nikmati tuan"
Ucap si kakek setelah semua hidangan tersaji.
Mereka tampak melahap kue-kue kecil indah dan dibuat dengan rasa yang pas oleh kakek, sambil berbincang Aksara dan klien nya juga menikmati nasi goreng menu andalan cafe atau yang sering disebut warung untuk anak muda nongkrong itu.
Merek lega karen waktu 3 jam sudah berlalu.
"Permisi siapa pemilik cafe ini?"
Asisten Melki nampak bertanya, Cinta terdiam saja.
"Milik saya tuan"
"Tuan ku ingin berbicara dengan anda tuan!"
"Baik, ayo anak-anak kita ke depan"
"Baik kakek"
Mereka bertiga duduk di depan Aksara dengan wajah bingung, sementara Aksara tersenyum.
"Jadi kakek ini pemilik cafe ini?"
"Benar tuan"
"Aku berniat membeli nya, bagaimana?"
Sang kakek tampak kaget, Cinta dan Sofialy saling pandang.
"Besok aku akan datang lagi, ini kartu nama ku jika kakek ada syarat hubungi aku"
Aksara beranjak pergi, menuju mobilnya.
Semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Kakek aku pamit sebentar!"
Cinta segera berlari kencang ke jalan besar, ternyata mobil hitam itu masih bertengger disana.
Tok....tok.
"Tuan aku ingin berbicara?"
"Masuk lah"
Cinta menurut lalu masuk ke dalam mobil milik suami nya itu.
"Jalan"
Melki segera menjalankan mobil tuan nya menuju rumah mereka.
"Tuan, jangan beli cafe kakek!"
"Apa hak mu melarang ku"
"Aku tidak akan pergi bekerja ke cafe kakek lagi setelah berpamitan pada semua nya"
Ucap Cinta sambil menundukkan kepalanya.
Aksara tersenyum miring, mendongakkan dagu istrinya itu dengan ujung telunjuk nya.
"Maka jangan membantah perkataan ku, jika tahu hukuman nya"
"Baik"
"Nah jadi kucing penurut lebih baik"
BERSAMBUNG.