TERJERAT MENIKAHI OM TUA

TERJERAT MENIKAHI OM TUA
S3 EPS.281


Rindi sejenak tertawa seketika keluar dari gerbang rumah nya yang sejak kecil seperti penjara itu. Dia amat teramat puas. Rindi segera mengeluarkan ATM itu dan menyimpan nya di bank.


Tebakan nya sangat benar, tadi pagi wanita tua itu mencoba membujuk nya agar mau berbicara dengan papah nya untuk melunasi hutang. Dia menginginkan uang warisan dari ibu Rindi untuk bisa mereka gunakan.


"Huhft, 25 miliar sudah pasti bisa membalikkan keadaan mereka yang bangkrut jadi miliarder, heh enak sekali ya"


Ucap Rindi tersenyum sembari menjalankan mobil nya menuju rumah sakit. Sebelum nya Rindi mampir dulu ke bank dan mentransfer seluruh uang milik ibu nya ke akun bank baru nya. Rindi membuat akun bank yang terdaftar di bank dunia.


"Jika mereka menginginkan ya ambil saja cangkang nya ha.....ha"


Sekitar 40 menit akhir nya Rindi memasuki rumah sakit tempat sang papah dirawat. Penampilan Rindi terkesan dewasa, elegan dan juga cantik mempesona di umur nya yang baru menginjak 23 tahun itu.


"Permisi saya mau menjenguk pak Afar Mukti"


Resepsionis rumah sakit itu segera menunjukkan tempat Afar dirawat. Rindi segera bergegas menuju kamar rawat sang papah.


KREEKK.......


Rindi melihat sang papah yang sedang terpulas lelap tampak nyenyak. Tak ada siapa pun lagi yang menunggui di pesakit. Rindi duduk di bangku dekat ranjang papah nya, memandang wajah yang dulu gagah kini tampak keriput mulai memenuhi wajah nya.


Afar perlahan menggeliat sesaat setelah Rindi datang ke kamar rawat nya. Samar-samar Afar membuka mata nya, dia tersenyum melihat putri bungsu nya lagi.


"Kau datang nak?"


Rindi hanya mengangguk lalu tersenyum manis. Afar mengulurkan tangan nya untuk memegang tangan anak nya.


"Pah, apa kabar?"


"Baik nak"


"Kenapa papah bisa sakit?"


Rindi mengajukan pertanyaan itu tapi entah lah dia tidak tahu maksud pertanyaan nya sendiri.


"Papah sudah semakin berumur nak"


"Harus nya papah banyak libur bukan memforsir tenaga dan malah membuat papah sakit"


Afar tersenyum manis, tubuh nya agak kurus. Rindi agak trenyuh melihat tubuh sang papah yang kurus.


"Papah mau makan apa?"


"Ini belum jam makan siang nak"


"Atau mau makan buah"


Afar menggelengkan kepala nya, dia hanya ingin melihat anak nya saja. Rindi berbicara sebentar lantas dia memesan perawat khusus untuk menjaga sang papah.


Tak terasa waktu pun sudah sore.


"Pah Arin mau pulang dulu ya"


Terlihat ekspresi Afar sedikit kecewa, dia ingin lebih lam namun mungkin anak nya juga tak suka di rumah sakit.


"Hati-hati di jalan nak"


"Papah cepet sembuh ya, agar bisa cepat pulang"


"Iya"


Afar mengelus lengan Rindi dan tersenyum melepas sang anak pulang. Afar lega jika suatu saat diri nya di jemput maut karena sudah melihat anak bungsu tercinta nya.


Rindi segera menuju parkiran rumah sakit setelah berpesan pada perawat yang dia sewa secara khusus untuk menjaga sang papah.


Drrtt..ddrrtt.


"Iya paman"


"Pulang lah malam ini"


"Ini Arin lagi di jalan menuju rumah paman"


"Hati-hati nak"


"Iya"


Sambungan ponsel pun ditutup, Rindi kembali menyetir mobil nya. Dia nampak fokus, membuka atap mobil agar bisa menikmati udara sore di ufuk barat terlihat warna jingga yang pekat.


CITTT.......


Saat di lampu merah semua kendaraan berhenti, tak sengaja Andra dan Rindi bersisian berhenti. Andra menengok tak sengaja, lantas kembali melihat ke samping nyata nya mobil tadi sudah menghilang karena lampu sudah hijau.


'Oh, mungkin salah lihat'


Gumam Andra, lagi pula gadis polos itu sudah menghilang selama 5 tahun. Tak ada dimana pun setelah Andra cari dengan benar.


"Ada apa tuan?"


"Ah, tidak ada barusan aku melihat seseorang yang aku kenal"


"Oh, mungkin sudah pergi duluan tuan"


"Mungkin juga"


Rindi sudah masuk ke halaman rumah sang paman. Lantas bergegas pergi ke dalam rumah mencari paman nya.


"Kau sudah datang?"


Rindi mengangguk.


"Lalu?"


"Meski sulit, dia akan mengupayakan nya, ya kejadian nya sudah 23 tahun lalu wajar jika susah menemukan bukti nya"


"Benar juga paman"


"Kau istirahat lah"


"Iya aku naik ke atas dulu"


"Bagaimana dengan papah mu, Rin?"


"Aku sudah menengok nya paman"


Rindi jadi teringat sesuatu, dia tak jadi naik ke kamar nya.


"Kok balik lagi ada yang ketinggalan ya"


Rindi menggelengkan kepala nya, dia selanjut nya merogoh tas nya. Sang paman terbelalak melihat bank itu masih aktif.


"Ini.....ini bagaimana kamu menemukan nya?"


Dengan tangan yang bergetar sang paman menerima kartu bank tersebut. Bank lama yang dia berikan pada adik kandung nya, setelah menikah. Rupa nya adik nya selalu menyimpan uang yang dia berikan tak sepeser pun dia ambil.


"Paman tahu?"


"Iya, karena ini paman yang buat, paman kasih ke mamah mu karena itu hak mamah mu, warisan kedua orang tua, usaha nya sukses paman kembangkan jadi tiap bulan di transfer kesana"


"Ini ada 25 miliar loh paman, dan mamah tiri ku sedang mencari rekening ini"


"Ya paman sudah tahu, meski hanya suatu percakapan itu bukan bukti yang menguatkan meski pun benar ada nya"


"Lalu bagaimana paman?"


"Ada beberapa informan yang paman sewa untuk menyelidiki kasus meninggal nya mamah mu"


"Semoga cepat tuntas paman"


"Lalu apa kau akan kembali kesana?"


"Kesana kemana paman?"


"Tentu saja ke rumah papah mu"


"Entah lah, papah juga di rumah sakit tidak terurus seperti nya mamah Melina dan kak Lisa selalu foya-foya bukan nya menyembuhkan penyakit papah"


"Lalu bagaimana tindakan mu?"


"Aku sudah menyewa perawat untuk sekedar menjaga papah"


"Kau anak yang berbakti"


Paman mengelus pucuk kepala Rindi, Rindi hanya tersenyum manis.


"Kan keponakan paman yang paling cantik"


Sang paman tertawa, rumah terasa lebih ramai jika ada keponakan tunggal nya itu.


"Baik lah, Arin mau istirahat dulu"


"Ya nanti bibi akan memanggil mu saat makan malam"


"Oke"


Tanpa banyak berbicara lagi Rindi naik ke lantai atas.


Sementara di rumah keluarga Mukti, Lisa sudah menunggu kedua anggota yang sehat untuk makan malam.


"Mah, kok sendirian?"


"Lah papah mu kan lagi sakit, terus mamah harus sama siapa lagi?"


"Arin mana?"


"Dia paling tidak pulang"


"Kok mamah tahu"


"Mungkin nginep di rumah sakit menemani papah mu"


"Iya juga sih"


"Sudah kita makan saja"


"Kok cuma dua lauk dan satu sayur, sop lagi"


Melina mengerutkan kening nya.


"Memang kenapa?"


"Biasa nya banyak macem lauk dan sayur, sup kan pelengkap"


"Kita bukan kaum sultan lagi"


Lisa mendengus tapi tetap saja memakan makan malam yang sederhana itu.


BERSAMBUNG.