
Min berjalan dibelakang Aryos menuju ke ruangan kantor milik Rei, ruang kantor petinggi tertinggi di perusahaan ini.
Aryos mengetuk pintu sebentar, lalu setelah ada suara sahutan dia segera membawa Min masuk.
"Nyonya silahkan masuk"
"Baik"
Mereka masuk dengan Min yang memasuki ruang kantor Rei lebih dulu.
"Tuan saya sudah membawa nyonya"
Rei berbalik lalu berdiri menghampiri mereka.
"Kau bisa pulang sekarang"
"Baik, terimakasih"
Aryos sudah pergi, setelah cukup lama Rei menarik tangan Min. Tubuh kecil Min ambruk di dada bidang Rei yang kuat.
"Pak....."
Tubuh Min sepenuh nya sudah masuk kedalam pelukan Rei.
"Jangan bergerak terus"
"Nanti ada karyawan yang datang pak"
"Mereka semua sudah pulang"
Rei mulai menciumi pucuk kepala Min, Rei sangat ingin menyentuh makhluk lembut dihadapan nya.
"Tapi pak ini kantor"
Rei tidak peduli dengan penolakan Min, dia melanjutkan aksi nya dengan membuka kemeja Min.
"Pak......."
"Diam lah!"
"Tapi aku tidak mau, lapaskan aku"
Sekuat tenaga Min menolak, sehari semalam dan malam kemaren sudah cukup bukan menyerahkan milik nya yang paling berharga.
'Tidak, aku tidak mau menghadirkan nyawa yang tidak berdosa!'
Min menjerit dalam hati nya.
"Apa tidak bisa untuk diam, tidak penurut sekali"
Min mengigit bahu Rei yang kekar itu. Lelaki itu sedikit kaget karena perlakuan mendadak itu.
"Kenapa?"
Rei melototkan mata nya, Min terdiam, lantas menggelengkan kepala nya.
"Bisa tidak membantah?"
Min terdiam.
Rei hendak menyentuh pundak Min, namun Min malah menepis tangan Rei.
"Ada apa?"
"Aku tidak mau"
Lirih Min sepekan mungkin.
"Tidak mau melakukan hubungan badan lagi"
Wajah Min menunduk.
"Kenapa? bukan kah kemaren malam tidak membantah"
"Bukan kah aku sudah memberikan nya lebih dari sekali"
"Maksud nya apa?"
"Aku tidak mau melakukan nya lagi"
Rei tersenyum meremehkan pada Min.
"Kau takut hamil? kau takut karena aku belum menikahi mu?"
Rei mencengkram rahang wajah Min.
"Kau takut hah!"
Rei langsung ******* bibir kecil milik Min, menggigit nya dan juga menahan nya di dalam mulut nya dengan sangat lama.
"Hemm........."
Min meronta karena kehabisan nafas, pada saat itu pula kancing kemeja nya rontok.
'Gawat sekali'
Min segera menutupi nya dengan tangan.
"Bahkan tubuh mu tidak menolak nya"
"Tuan lepaskan aku!"
Min menundukkan wajah nya berharap Rei mau mengasihani diri nya.
"Kalau kau bisa keluar dari ruang kerja ku ini, kau bisa pulang dengan selamat"
Rei menjeda perkataan nya.
"Tapi jika tidak, maka malam ini kau adalah mangsa ku waktu mu 10 menit"
Min langsung lari kearah pintu, mencari kunci pintu, sementara Rei menghitung waktu nya.
'Semoga masih keburu'
Gumam Min, yang sangat polos. Dia tidak menghiraukan kemeja nya, hanya fokus pada pencarian kunci.
"10 menit"
Tangan dan tubuh Min berhenti bergerak, bola mata nya bergetah kearah jarum jam.
Min memejamkan mata nya, berharap hari ini tak pernah datang.
"Kau kalah Jasmin sayang"
Rei berjalan mendekat.
"Aku tidak mau melakukan nya, om lain kali saja boleh?"
Rei tersenyum smirk, lalu mengangkat tubuh langsing itu dengan terburu-buru.
'Kucing liar kau ingin mempermainkan ku, mimpi saja'
Gumam Rei dalam hati.
'Karena sejak kau ditemukan maka kau adalah milik ku'
Lanjut nya.
Bugh.....
Rei menjatuhkan Min di ranjang besar dan mewah milik nya yang ada di kantor.
"Om, boleh ya nanti malam saja"
Rei semakin mendekat kearah Min.
"Kenapa? bukan kah sama saja"
"Beda kn ini di kantor"
"Sama saja, ini juga kamar tidur ku"
"Di villa saja ya"
Min sudah bermain dengan petinggi perusahaan, menolak dengan halus sekarang beralasan dengan kenyamanan.
GREEPP......
Rei sudah mendekap Min kedalam pelukan nya.
"Aku rindu lembut tubuh mu"
Bisik Rei ditelinga Min.
Min seolah mendapat bisikan jahat dari iblis, bulu kuduk nya mendadak berdiri.
"Om di villa saja ya"
Rei langsung menindih tubuh Min, melepaskan semua pakaian nya.
"Om, tunggu"
Rei membungkam mulut istri kecil nya dengan mulut nya. Lantas dengan terburu-buru menyatukan diri nya kedalam tubuh istri nya yang berada dibawah Kungkungan nya.
'Ah.....sakit, sakit sekali'
Min menjerit dalam hati, tangan nya menarik seprei yang melapisi kasur yang bertumpuk mereka berdua.
Rei sudah habis kesabaran, dan tidak ingin bermain lagi. Nafsu dalam dada nya memuncak, kala istri rahasia nya itu memohon dengan sangat imut.
Rei memperlakukan Min diatas ranjang kali ini dengan sangat kasar, Rei tahu jika istri nya meringis menjerit kesakitan karena perilaku nya. Namun dia bagaimana pun harus menuntaskan hasrat nya.
"Om, sudah.......sakit sekali"
Racau Min dalam kekuasaan Rei.
"Sebentar lagi ya"
Rei masih terus memacu diri nya, di belum puas sama sekali. Siapa suruh gadis itu mengulur waktu dengan permainan tak berguna nya.
Dari sore hingga dini hari Rei baru menyelesaikan kepuasan yang dia harapkan.
"Malam ini dia begitu memuaskan"
Ucap Rei, namun pada kenyataan nya wanita di bawah nya kesakitan. Tapi Rei sangat menyukai nya, lembut dan wangi, mungkin Rei sudah ketagihan pada tubuh milik istri nya yang dia rahasiakan dari gadis belia itu.
Rei duduk ditepi ranjang, mengelus rambut yang agak basah dan sangat berantakan.
'Kenapa kau lahir dari nama ayah mu yang sudah membantai milik yang paling ku sayangi'
Ucap Rei dalam hati.
'Jika kau tak terlahir dari keluarga itu, mungkin aku akan sangat mencintai mu dan menginginkan mu'
Lanjut Rei, dia tentu bukan pria bodoh yang tidak tahu perasaan nya sendiri. Bukan nya tidak ingin cari pasangan, semenjak Queena meninggal dia tidak lagi tertarik dengan bau wanita. Tapi gadis ini berbeda, wangi, lembut dan bersih. Tipe wanita yang Rei inginkan ada dalam diri gadis ini semua.
'Mungkin ke depan nya kita akan berjalan bersebrangan, kau sesuatu yang harus ku hancurkan'
Ucap Rei.
Rei membersihkan tubuh nya, di sudah memesan makanan via antar online. Setelah 1 jam Rei keluar dengan tubuh yang bersih dan memakan makanan nya. Jujur saja untuk menaklukan gadis diatas ranjang butuh tenaga ekstra.
Min tertidur dengan pulas, badan yang penuh dengan keringat juga lelah yang tak tertahankan.
Rei mendial nomer seseorang.
"Iya tuan"
"Besok bawakan seragam kantor dan baju-baju wanita ya"
"Baik tuan"
"Baik lah, sudah malam aku tidak mengganggu mu lagi"
Tut.
Sambungan dimatikan secara sepihak, memang siapa lagi jika bukan bos sombong dari Aryos.
"Sudah tau malam, sudah tau mengganggu, masih nekad juga telpon, apa coba, aneh-aneh aja"
Aryos segera menghubungi salah satu tangan kanan wanita nya untuk mencarikan pesanan yang di minta bos nya itu. Supaya besok pagi diri nya tidak Ken semprot.
"Selesai, selamat, dan lanjut tidur lagi"
Ucap Aryos menaikan selimut nya kembali di ranjang empuk nya.
BERSAMBUNG.