
David Qing memutar pandangannya ke arah ajudan Jenderal Marco. "Bagaimana dengan wanita itu?"
"Mereka sudah ada di sana dan sepertinya wanita itu tidak ada di sana," jelas ajudan Jenderal Marco. Mereka sudah merencanakan semua ini, semua tentara yang sekarang yang mendapatkan perintah untuk menjaga rumah Xavier telah dikoordinasikan oleh Jenderal Marco untuk mematuhinya agar membiarkan pasukan penjemput untuk masuk ke dalam rumah Xavier.
David Qing mengerutkan dahinya dalam, bagaimana bisa wanita itu tidak ada di sana? apakah dia kabur? tidak mungkin! mana dia tahu bahwa malam ini mereka akan menyerang. Hanya orang-orang tertentu yang tahu akan rencana ini. Siapa yang membawanya pergi?
"Bagaimana dengan anaknya?" Tanya David Qing.
"Anaknya ditemukan di kamar Letjend Xavier, Pak!"
David Qing memainkan rahangnya. Tak mungkin Graciella meninggalkan anaknya sendiri, pasti ada sesuatu hingga dia tak ada di sana. Tapi anak itu pun sudah cukup untuk menekan Xavier. "Bawa anak itu, itu sudah cukup. Aku yakin ke mana pun dia pergi, dia akan kembali lagi untuk mencari anaknya! Laksanakan!"
"Siap! Laksanakan!" ujar Ajudan dari Jenderal Marco, dia langsung keluar dan meninggalkan David Qing dan Jenderal Marco berdua.
David Qing melirik ke arah Jenderal Marco yang dari tadi membuang pandangannya.
"Kau melakukan hal yang benar, Marco!" ujar David Qing dengan nada tenangnya.
Jenderal Marco memandangnya dengan tatapan tak percaya. Baru saja membuat anaknya sendiri sepeti itu, tapi David Qing bagaikan seorang yang berdarah dingin, tak ada sedikit pun raut wajah bersalah atau sedih. Malah ada guratan puas di wajahnya. Pria ini benar-benar menakutkan.
"Aku harap kau menepati janjimu!" ujar Jenderal Marco dengan tangan terkepal.
"Aku mungkin licik, tapi kau tahu aku dari dulu. Aku selalu menepati janji. Dosamu ku bawa mati," ujar David Qing dengan senyuman tipis terulas. Dia segera meninggalkan ruang kerja Jenderal Marcos yang hanya bisa menatap kepergian David Qing dengan tatapan geramnya. Sial sekali! ada pria seperti dia!
000000000000000--------00000000000000
Graciella perlahan membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Dia segera melihat keadaannya. Seketika sadar sekarang dia ada di dalam sebuah mobil yang sedang berjalan.
Graciella langsung melihat ke arah sampingnya. Adrean sedang mengendarai mobil itu. Seketika saja Graciella langsung panik dan menjauhkan tubuhnya dari Adrean.
“Adrean!” ujar Graciella dengan matanya yang membesar sempurna.
“Sudah bangun?” ujar Adrean dengan sedikit senyuman di bibirnya.
“Di mana Moira?” pekik Graciella langsung.
“Dia ada di rumah Xavier. Tenang saja, mereka tidak akan melukainya.” Adrean tampak santai mengatakannya. Bahkan dia tampak menikmati mengendarai mobil itu menerobos gelapnya malam.
“Mereka? apa maksudmu dengan mereka?” tanya Graciella dengan sangat cemas.
“Ayah Xavier dan kakekku. Ini semua salahmu! Sudah aku katakan jangan berdekatan dengan Xavier, tapi kau malah tinggal dengannya! Jika terjadi sesuatu pada Moira, semua itu adalah salahmu,” ujar Adrean dengan sangat kesal. Dia harus mengambil langkah ini agar bisa menyelamatkan Graciella. Graciella menyipitkan matanya, benar-benar sifat Adrean tak pernah berubah.
“Apa yang mereka ingin lakukan? kenapa kau tidak mengatakan saja alasannya padaku! Kalau kau mengatakannya padaku, aku pasti akan menjaga jarak dari Xavier!” ujar Graciella begitu kesal.
Adrean sudah tahu, tapi dia hanya mengatakan setengah-setengah pada Graciella. Tentu jika saja Adrean mengatakan alasan sebenarnya pada Graciella, Graciella pasti akan meninggalkan Xavier demi Moira.
“Dan membiarkan Xavier yang menyelamatkanmu dan aku tak mendapatkan apa-apa? dia pasti tak akan hanya diam saja. Dia pasti akan segera membawamu entah ke mana dan membuat aku semakin susah untuk mendapatkanmu. Dengan begini, mereka akan menahan Xavier dan aku tetap akan mendapatkanmu. Kau tenang saja, mereka hanya inginkan Xavier. Mereka hanya ingin menggunakanmu dan Moira untuk menekan Xavier agar menikahi Devina,” ujar Adrean yang begitu tenangnya, dia bahkan sedikit tersenyum licik, hal itu langsung membuat Graciella bergidik ngeri. Jika mereka awalnya ingin menggunakan Graciella dan Moira untuk menekan Xavier, pastilah mereka akan melakukan sesuatu pada Moira.
“Kenapa kau tidak membawa Moira juga bersamamu! kenapa kau tega meninggalkannya?!” histeris Graciella yang memukul-mukul tubuh Adrean tapi Adrean langsung menangkap salah satu tangan Graciella dan menatap wanita itu dengan tatapan kesal. Dari mata Graciella terpancar kengerian akibat gambaran-gambaran yang muncul dipikirannya. Dia tak akan bisa hidup jika terjadi apa-apa terhadap Moira.
“Aku harus meninggalkan dia agar mereka bisa melakukan rencananya. Jika aku membawa dirimu dan Moira maka mereka akan memburu kita. Sekarang, jika ada Moira, mereka tidak akan mencari kita. Xavier akan tetap luluh pada anaknya, bukan begitu?” ujar Adrean dengan lirikan matanya juga satu sudut bibir yang terangkat masih menggenggam tangan Graciella, tak lama dia baru melepaskannya.
Graciella kembali membesarkan matanya, kali ini diikuti dengan bibirnya yang terbuka. Graciella segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya yang indah mulai tampak berkaca-kaca sebelum air matanya yang turun begitu saja.
“Kapan kau tahu Moira adalah anak Xavier?” ujar Graciella menatap Adrean.
Adrean mendengus kesal, “Kau tidak perlu tahu!”
“Adrean! Apa kau tahu Moira adalah anak Xavier dari pertama? Jadi kau tahu bahwa Xavier adalah pria yang sudah meniduriku dulu?!” tanya Graciella dengan tatapan tak percayanya. Tiga tahun menahan penderitaan dari Adrean dan Adrean sudah tahu siapa pria yang sudah tidur dengannya? apa dia juga tahu Xavier juga mencarinya? lalu kenapa Adrean tetap ingin menyiksanya! kenapa tidak membiarkannya bertemu dengan Xavier saja?
“Aku katakan kau tidak perlu tahu! Yang penting sekarang aku sudah menyelamatkanmu! Mereka tidak akan melakukan apa pun padamu!” ujar Adrean semakin kesal dengan sikap Graciella. Kenapa dia banyak sekali bertanya sekarang. Dia lebih suka Graciella yang dulu yang selalu menurut padanya. Melakukan apa pun yang dia minta. Sekarang Graciella menjadi pembangkang, membuat dia kesal saja.
“Kau tidak menyelamatkanku! Kau hanya ingin mengambil sesuatu yang kau sukai saja! Kenapa kau meninggalkan Moira! Mereka akan melakukan sesuatu pada anakku! Padahal kau bisa menyelamatkannya! Adrean! Kau memang hanya mementingkan dirimu sendiri! Berhenti! Aku ingin kembali ke anakku! BERHENTI!” teriak Graciella histeris. Dia rela menyerahkan dirinya pada mereka asalkan mereka tidak melakukan apa pun pada Moira. Sekarang bagaimana bisa dia tenang jika tidak ada anaknya di sisi dirinya. Apalagi dia tahu dia ada ditangan orang-orang kejam itu.