Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 17. Tak mungkin dia tertarik denganku.


“Aku rasa aku tertarik padanya,” ujar Xavier seketika membuat Devina terdiam. Bukan hanya Devina, Graciella yang mendengar suara pria itu terdiam seketika. Apa? Xavier tertarik padanya? bagaimana bisa? tidak! pria itu hanya bercanda bukan?


“Tidak! aku tidak percaya. Kau tidak boleh menyukai wanita selain diriku! Ini semua hanya permainanmu saja kan agar menyerah untuk mendekatimu. Tidak! aku tidak akan menyerah. Aku tidak percaya. Ini sama seperti saat kau mengatakan kau ingin menikahi wanita asing itu kan?” teriak Devina lagi. Dia tak akan percaya hal ini. Dia tahu bagaimana Xavier. Pria itu tak mudah tertarik dengan seorang wanita. Bahkan sudah begitu lama dia mencoba untuk menarik perhatian pria ini, tapi selalu gagal. Mana mungkin ada wanita yang dengan mudahnya menarik perhatiannya.


 


“Itu hak mu untuk tidak percaya. Tapi aku tak pernah mengatakan sesuatu jika aku tidak sungguh-sungguh. Lebih baik kau pulang. Banyak yang harus aku lakukan.” Xavier dengan tenangnya mengatakan hal itu. Tidak terusik dengan wajah Devina yang sudah tertutup air mata. Xavier langsung membuka pintu kamar mandinya dan masuk ke dalamnya.


 


 


Graciella kaget melihat Xavier yang tiba-tiba saja masuk. Xavier mengerutkan wajahnya melihat Graciella yang sudah ada memanjat kloset duduknya. Mau kabur ternyata, pikirnya. Graciella kembali menyengir kuda melihat tatapan Xavier yang menangkapnya basah ingin melarikan diri. Xavier langsung menghidupkan air keran dan juga shower-nya.


 


 


“Kau harus memecahkan kacanya untuk bisa keluar. Gunakan penutup penampungan air koset untuk memecahkannya.”


 


 


Graciella mengerutkan dahinya. Dia lalu melihat ventilasi kamar mandi yang terbuat dari kaca ganda itu. Dia lalu melihat ke arah Xavier lagi, tak percaya. Bukannya marah, pria itu malah mengajarinya bagaimana cara kabur dari sana.


 


 


“Aku hanya ingin membersihkan kacanya," alasan Graciella yang tak masuk akal. Kenapa tiba-tiba dia merasa bodoh sekali.


 


 


“Setelah tidur di kamarku, kau ingin pergi begitu saja? tak akan ku biarkan!” kata Xavier menyusup kedua tangannya ke pinggang kecil Graciella. Graciella tentu kaget dan ingin berontak. Mau apa pria ini? “Jika kau berontak, akan ada kegaduhan. Percayalah, Devina bisa dengan mudah masuk ke dalam sini, aku tidak mengunci pintunya. Atau jangan-jangan memang itu tujuanmu untuk membuat dia memergoki kita berdua di sini. Ide yang brilian,” ujar Xavier.


 


“Tidak! jangan!” ujar Graciella, Tentu dia tak ingin Devina masuk dan memergoki mereka seperti ini.


“Jadi bersikaplah manis dan berjanjilah padaku tetap ada di sini. Atau aku akan menarikmu keluar untuk menemui dia," ancam Xavier pada Graciella.


“Baik, aku akan tetap di sini! aku janji," ujar Graciella pasrah. Apalagi yang bisa dia katakan. Xavier melihat wajah pasrah dari Graciella menaikkan satu sudut bibirnya. Dia lalu mengangkat tubuh Graciella dan membawanya turun dari kloset itu. Graciella tentu kaget, Xavier bisa mengendongnya sebegitu mudahnya.


 


 


“Aku akan kembali. Tunggu di sini! ingat jangan coba-coba kabur, atau aku akan memburumu ke ujung dunia sekalipun," ancam Xavier lagi.


 


 


“Iya! iya! aku akan duduk di sini dengan manis!” sungut Graciella dengan wajah kesal. Bagaimana dia bisa berurusan dengan pria ini. Kenapa tiba-tiba dia menjadi lebih menyebalkan dari pada sebelumnya? Xavier kembali menaikkan satu sudutnya melihat Graceilla yang patuh. Dia segera keluar dari kamar mandinya setelah mematikan semua air yang dia buka tadi. Melihat Devina masih saja menunggu dirinya.


 


Xavier bahkan tak melihat Devina dan berjalan keluar dari kamarnya. Tentu seperti ekor, Devina mengikutinya. Xavier langsung berjalan menuju keluar dari asramanya itu.


 


 


“Perintahkan salah satu penjaga untuk mengantar Nona Devina keluar. Fredy! Ikut aku," ujar Xavier.


 


Devina tentu bertampang sangat masam. Dia masih ingin mengeluarkan semua emosinya pada Xavier, tapi seperti tidak ada apa-apa. Pria itu pergi meninggalkannya begitu saja. Lihat saja! Devina bersumpah, siapa pun wanita yang berani merebut Xavier darinya. Dia akan melenyapkannya hingga nasibnya sama dengan wanita asing itu!


 


Xavier membawa Fredy mengitari rumahnya. Berhenti di dekat jendela ventilasi kamar mandinya.


“Fredy! Siapkan penjaga yang berdiri di sini dan setiap jendela di asramaku. Aku takut ada pencuri yang nantinya kabur dari tempat ini!” Teriak Xavier begitu keras hingga terdengar ke dalam kamar mandi asramanya. Graciella mendengar itu membesarkan matanya. Pria itu serius ternyata. Bagaimana dia bisa keluar dari tempat ini.


Fredy mengerutkan dahinya mendengarkan perintah aneh yang diberikan oleh Xavier. Mana mungkin ada yang berani mencuri di markas militer yang dipenuhi oleh para tentara. Jika ada itu sama saja pencurinya mencari mati. Tapi, dia tak mungkin menolak perintah komandannya.


 


“Siap Komandan, akan saya laksanakan," kata Fredy menjawab permintaan dari Xavier. Xavier menaikkan sudut bibirnya kembali melihat ke arah ventilasi kaca itu. Dia yakin wajah Graciella sekarang tampak masam.


 


Xavier kembali berjalan menuju bagian depan rumahnya. Dia berhenti sejenak sebelum menaiki mobil yang akan mengantarkannya ke tempat dia bekerja. “Fredy, siapkan beberapa makanan untuk sarapan. Siapkan sebelum tiga puluh menit. Aku akan segera kembali," ujar Xavier segera naik ke mobil dinasnya.


“Siap Komandan," kata Fredy segera.


 


Xavier masuk ke dalam kamarnya. Matanya mengedar tak menemukan sosok yang ingin dia cari. Xavier mengerutkan dahinya, apa wanita itu masih bertahan di kamar mandi? Xavier langsung menuju kamar mandi dan segera membukanya.


 


Xavier menambah kerutan di wajahnya. Melihat Graciella masih duduk di atas kloset sambil bertumpu tangan. Graciella langsung kaget melihat pintu terbuka, tapi  dia langsung berdiri senang. Akhirnya, bolehkah sekarang dia keluar dari kamar mandi ini?


 


“Kau masih di sini?” tanya Xavier.


“Bukannya kau yang menyuruhku menunggu di sini? aku takut jika keluar.”


 


Xavier tak percaya. Masih ada wanita seperti Graciella. Dia terlalu polos atau terlalu bodoh? Masa hanya karena diminta Xavier menunggu, dia benar-benar tidak mencoba untuk keluar dari kamar mandi itu.


 


“Baiklah, keluar.” Xavier segera membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamarnya.


 


“Ehm, Tuan tentara, aku boleh mengganti bajuku dulu?” ujar Graciella sedikit sungkan. Dia tak nyaman hanya menggunakan kaos milik Xavier. Kaos ini cukup pendek hingga separuh pahanya terlihat. Graciella merasa tak sopan menggunakan pakaian yang cukup seksi itu di depan Xavier.


 


Xavier memandang Graciella dari atas hingga bawah. Baru menyadari apa yang digunakan oleh Graciella ternyata cukup terbuka. Dia lalu mengalihkan pandangannya, takut akan terpaut terlalu lama akan kemulusan tubuh Graciella. “Ya, aku tunggu di ruang makan.”


 


“Siap komandan!” ujar Graciella menirukan perkataan Fredy. Dia dengan semangat menyambar baju dan celananya yang sudah dicampakkan oleh Devina tadi. Dengan berlari kecil kembali ke kamar mandi. Xavier yang melihat semua gerak Graciella hanya merasa. Wanita ini lucu sekali, kecil bagaikan seekor kelinci.