Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 276


Tapi Laura nyatanya benar-benar tak rela pria itu pergi. Dia segera menarik tangan Antony. Antony segera melihat ke arah Laura. "Jangan pergi, di sini saja. Filmnya belum habis." Pinta Laura manja.


Antony hanya diam sejenak lalu mengangguk kecil. Dia segera kembali ke posisinya. Tapi kali ini Laura duduk dan menyender manja di tubuh Antony. Dia ingin berdekatan dengan pria ini, hanya saja tak berani mengatakannya langsung.


Laura bisa mendengarkan suara jantung Antony saat dia menyandarkan kepalanya di dada Antony. Pria itu mengelus lembut rambut Laura. Sejujurnya, Laura sudah tak konsentrasi lagi dengan filmnya. Elusan lembut Antony semakin memancingnya. Apalagi rindu itu belum juga terpuaskan.


Laura memindahkan pandangannya dari tv ke arah wajah Antony. Antony hanya memandang wajah sayu merona yang benar-benar menggelitik sisi kejantanannya.


Dengan tiba-tiba Antony menaikkan Tubuhnya dan merubah keadaan menjadi dia berada di atas Laura. Laura bisa melihat kilatan nafsu di dalam mata Antony. Sudah dia tahan, tapi wanita ini malah terus menggodanya


Antony kembali mencium ganas bibir Laura yang membuat wanita itu kewalahan. Napasnya seluruhnya di sedot oleh Antony. Laura hanya bisa sedikit berontak karena kehabisan napas.


Antony segera melepaskan ciuman itu. Membiarkan Laura menarik napasnya panjang. Dada wanita itu naik turun mengisi paru-parunya. Cara pandangnya yang sayu benar-benar menggoda Antony.


"Laura, aku beri satu kesempatan untukmu untuk pergi dari kamar ini sekarang." Suara Antony terdengar terengah-engah. Berat menahan perasaan yang bergejolak di hatinya. Apalagi sudah lama dia tak menyentuh wanita yang selalu memikatnya. Seperti seekor serigala yang harus menahan nafsu makannya pada domba yang selalu ada di sampingnya.


Laura terdiam. Dia seharusnya mendorong tubuh Antony yang sudah merenggang di atasnya. Jika ingin lari dia tinggal lari saja. Tapi otak dan tubuhnya bagaikan tak saling berkomunikasi. Dia tahu seharusnya, seharusnya … tapi dia tak ingin. Laura menggigit bibirnya. Dari kepala yang terangkat sedikit dia pasrah menjatuhkan kepalanya.


"Kau yakin? Karena setelah ini, aku tak akan bisa menahannya," tanya Antony sekali lagi.


Laura mengangguk kecil. Mendapatkan persetujuan dari Laura, Antony segera membuka kaosnya. Laura menahan napas melihat tubuh yang waktu itu menggoda dirinya. Melihat dari dekat, semakin membuat dirinya susah menelan ludah.


Antony langsung menyusur leher Laura yang terpekik kecil karena ulahnya. Laura menggigit bibirnya ketika sentuhan bibir Antony perlahan turun. Kecupannya menyapu tulang leher Laura.


Antony menaikkan baju yang digunakan oleh Laura. Perlahan dia melepaskannya dan Laura pasrah bahkan terkesan membantu Antony.


Napas Antony makin berat ketika melihat pemandangan mulus itu di depannya. Walau bukan yang pertama kali tapi rasanya baru kali ini dia begitu jelas melihatnya.


Antony kembali mengecup bagian dada Laura yang membuat wanita itu menegang.


Mendapatkan serangan itu, Laura mende sah tak karuan sambil melengkungkan tubuhnya. Tak tahan merasa perasaan geli tapi juga nikmat dalam waktu bersamaan. Ingin melepaskan diri, tapi juga enggan kehilangan rasanya.


Antony meloloskan celana Laura hingga akhirnya tubuh wanita itu tak tertutup sehelai benang pun. Laura mencoba menutupi tubuhnya saat Antony melucuti dirinya sendiri. Dengan tangan gagahnya kembali merayap ke atas tubuh Laura.


Antony menapis tangan Laura yang menutupi tubuhnya. "Jangan ditutupi, ini indah," ujarnya lembut.


"Kau ini bicara apa? Ah …." Laura baru saja ingin merespon tapi Antony sudah mengerjai bagian di tengah selang kangannya. Laura langsung bergerak tak karuan. Rasanya jauh lebih gila dari pada tadi.


Antony menghentikan aksinya. Membiarkan Laura menikmati puncaknya. Dia hanya berbaring di sebelah Laura yang perlahan melihatnya. Matanya semakin sayu sendu.


"Bagaimana?" Tanya Antony mengelus pipi halus Laura.


"Mau lagi," ucap Laura yang tersenyum kecil.


"Ha?" Antony tak menyangka kata-kata nakal itu keluar dari mulut Laura. Hal itu sampai membuatnya terduduk. Laura hanya mempertahankan tawa kecilnya. Dia lalu merentangkan tangannya agar Antony mendekat.


Antony segera mendekati tubuh Laura kembali. Memberikan Laura sebuah pelukan tanpa penghalang.


"Kita mulai?" Bisik Antony.


Laura menggigit bibir lalu menggangguk. Dia semakin keras menggigit bibirnya ketika merasakan sesuatu menyesak dalam tubuhnya. Ada rasa sedikit nyeri tapi perlahan-lahan mulai hilang.


Antony menatap Laura yang perlahan akhirnya membuka mata. Pandangan pria itu penuh dengan perasaan, bukan hanya nafsu semata. Mata mereka saling menaut saat Antony sudah tak tahan memulai aksinya. Laura sesekali menutup matanya merasakan sensasi dari gerakan yang dibuat oleh Antony.


Lembut dan perlahan. Tak ada gerakan terburu-buru. Antony terus menjaga kontak matanya. Begitu senang melihat wajah Laura yang sekarang menatapnya.


Semua mereka lakukan dengan penuh perasaan. Tak ada kesan tergesa-gesa, semua lembut untuk bisa merasakan bagaimana rasa itu semakin membuat perasaan mereka bersatu bersamaan dengan tubuh mereka yang saling berkait.


Antony benar-benar menikmati setiap jengkal tubuh Laura yang akhirnya bisa dia sentuh tanpa ada penolakan dari Laura. Baik yang pertama apalagi yang kedua, Laura sering menolak dirinya. Tapi kali ini wanita itu seolah menari bersamanya.


Laura sendiri baru kali ini benar-benar menikmati semuanya. Perasaan yang disalurkan oleh Antony membuat hatinya begitu nyaman. Tak seperti sebelumnya yang dia rasa tak ada perasaan sama sekali. Hal ini membuatnya beberapa kali melayang dalam kenikmatan.


Hingga akhirnya gerakan Antony menjadi lebih cepat dan memburu. Laura tahu pria itu akhirnya akan puncaknya. Laura memeluk pria itu erat. Napas Antony memburu dan berat sekali terdengar.


"Laura -- aku sudah --" bersamaan dengan itu Antony tampak memegang. Laura merasakan pelukan erat dari pria itu yang segera terlentang lemas di sampingnya.


Laura menatap pria yang tampak menutup matanya merasakan sisa-sisa kenikmatan tiada Tara. Laura menarik selimut mereka dan segera menutupi tubuh keduanya. Antony segera memeluk tubuh kecil Laura. Mengecup keningnya.


"Terima kasih."


Laura mengangguk. Tak lama keduanya terlelap karena lelah tapi dengan perasaan yang begitu bahagia.