
Lautan malam itu sepi sekali. Ombak pun tak muncul. Tenang tapi sangat menghanyutkan.
Cahaya bulan jatuh terpantul bersama dengan bintang-bintang yang menghiasi malam itu. Xavier memandang jauh ke ujungnya.
Dia sudah lengkap dengan pakaian khusus menyelamnya. Dengan teropong khusus dia memandang ke arah sebuah kapal yang tak jauh dari mereka.
Gelapnya malam membantu kamuflase dari kapal yang mereka tumpangi. Semua orang di sana sudah bersiap dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Komandan," Tegur Arnold. Dia tidak ikut dalam misi penyelamatan ini.
Xavier tak menjawab. Dia hanya melirik bawahan kepercayaannya ini.
"Saat ini yang terlihat hanya enam orang penjaga yang menggunakan senjata laras panjang. Melihat model kapalnya. Ruangan ada di bagian bawah di tengah kapal. Aku rasa di sana Tuan Adrean menyekap Nyonya," jelas Arnold menjelaskan bagaimana denah kapal yang baru dia dapatkan.
"Baik. Sesuai rencana. Setelah ada sinyal. Sebastian harus datang mendekat dengan perlahan," tegas Xavier.
"Baik Komandan."
Arnold segera menjauh. Xavier melihat lima orang lain yang menggunakan pakaian menyelam khusus dan tabung oksigen sepeti yang dia gunakan. Mereka duduk di pinggiran kapal.
Xavier menganggukkan kepala sebagai sinyal mereka memulai operasi penyelamatan ini. Xavier langsung memakai topeng dan menggigit regulator tabung oksigen yang dia bawa agar dia bisa bernapas lebih lama di bawah air.
Dengan cepat dia segera menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan masuk ke dalam air. Hal itu langsung diikuti oleh para tentara elit pasukan khusus dari angkatan laut. Mereka segera menyelam dan mengikuti titik koordinat yang sudah diberikan. Xavier melakukannya dengan cepat.
Mereka langsung muncul di bawah kapal Andrean. Sebisa mungkin tidak tampak sama sekali dari atas. Xavier melucuti tabung oksigen yang menggantung di tubuhnya dan memberikannya pada dua orang yang bertugas mengamankan tabung oksigen itu. tiga orang mengikuti langkah Xavier untuk berenang menuju bagian buritan kapal.
Xavier melihat ke arah buritan itu. Dua orang berjaga di sana. Satu di bagian atas dan satu lagi di bagian bawah.
Mereka harus melumpuhkan orang yang ada di atas dahulu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Xavier memberikan aba-aba dan salah satu dari tentara itu naik.
Saat dia naik ada suara yang terdengar. Penjaga itu saling menatap.
"Periksa!" Perintah penjaga yang ada di atas. Penjaga yang di bawah segera patuh dan mencoba mencari sumber suara.
Saat dia melihat ke arah samping, ada jejak kaki basah. Dia membesarkan matanya dan segera ingin melapor pada penjaga di atas. Nyatanya dia melihat penjaga itu sudah terkulai lemas. Tentara itu mematahkan lehernya dengan cepat.
Penjaga itu langsung kaget dan cepat ingin bersikap siaga. Tapi percuma saja. Dari belakang, Xavier langsung memegang kepalanya dan dengan gerakan cepat memutarnya membuat leher pria itu seperti terpelintir dan dia terkulai lemas.
Dua orang lain segera naik. Xavier langsung meminta mereka untuk segera menyisir kapal itu. Mengikuti arahan dari Arnold yang melihat mereka dengan teropong termal.
"Satu orang masing-masing berjaga di sisi-sisi kapal," lapor Arnold yang masih melihat keadaan dari jauh.
Dua orang tentara langsung mengerti, mereka mendatangi penjaga itu dengan mengendap-endap. Pakaian mereka yang hitam membuat sebuah samaran yang sangat tepat. Saat para penjaga lengah. Dengan cepat para tentara itu menaklukan mereka. Sesuai dengan motto mereka 'Menyerang bagaikan bayangan.'
"Sisi kanan lumpuh," lapor salah satu tentara.
Xavier mendengar itu langsung bergerak maju. Mereka harus segera menemukan pintu menuju ke bagian dalam kapal ini. Dan pintu itu ada di bagian depan.
Xavier memimpin jalan. Dua tentara mengikutinya. Sedangkan salah satunya menjaga bagian belakang hingga ke tengah.
"Ada yang datang," lapor Arnold dengan suara tegang.
Xavier yang ada di depan dengan cepat bergerak. Penjaga yang baru saja ingin keluar langsung dia pukul wajahnya dan menendang perutnya hingga pria itu sama sekali tidak berkutik. Xavier langsung mengambil senjata yang ada di tangannya dan mengunci pergerakan dari pria itu. Dia menodongkan sejata itu di leher pria yang tampak kesakitan. Sengaja Xavier tak mengeluarkan semua tenaganya agar pria ini tetap sadar.
"Katakan padaku di mana ruangan Graciella," bisik Xavier sambil menekan moncong senjata itu di leher sang pria. Pria itu tentu langsung gentar.
"Di bawah. Di ujung lorong utama. Pintu sebelah kanan," Kata pria itu mendesis kesakitan.
"Berapa orang lagi yang ada di dalam?"
"Empat, lima orang dengan Tuan Adrean."
"Kalau kau bohong tentang ruangan Graciella. Aku akan kembali ke sini dan memastikan kepalamu pecah tertembus peluru ini." Xavier mengancam dengan suaranya yang berat. Membuat siapapun ciut mendengarnya.
"Aku mengatakan sebenarnya," kata pria itu bergetar.
"Akan ku buktikan nanti." Xavier langsung memukul tengkuk pria itu yang langsung membuatnya lunglai. Xavier langsung menangkap tubuhnya karena jika dibiarkan jatuh akan menimbulkan suara.
Dia menyerahkan tubuh itu dan salah satu tentara menyeretnya menjauh. Xavier melihat kedua tentara yang segera memegang senjata api mereka. Dia langsung memberikan tanda. Satu tentara masuk ke dalamnya, lalu Xavier dan baru yang lain masuk.
Saat mereka sampai, dua orang pria yang sepertinya menjaga sesuatu langsung mendatangi mereka. Xavier langsung berlari menerjang mereka yang kaget dengan ulah Xavier. Mereka bersiap ingin menembak Xavier. Tapi gerakan Xavier lebih cepat dan dia melayangkan tendangan yang membuat salah satu dari mereka terkapar.
Satu dari orang itu langsung dihajar oleh tentara yang mengikuti Xavier. Belum lagi dia sanggup berdiri. Xavier langsung memutar kepala pria itu.
"Aman," kata prajurit yang lain.
Xavier langsung memberikan isyarat agar mereka berpencar. Xavier lalu menyusuri lorong kosong yang lurus di depannya menuju ke arah pintu yang dijaga oleh dua orang tadi.
Xavier mengerutkan dahinya melihat pintu yang ada di sebelah kanannya. Jika benar apa yang dikatakan oleh penjaga itu. Ini adalah pintu kamar Graciella.
Graciella yang masih bingung harus melakukan apa hanya diam di ranjangnya. Dia sudah menyusuri tempat ini dan tak bisa menemukan apa-apa. Adrean sudah dua kali mencoba membujuknya keluar. Untung saja dia tak punya kunci cadangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Tapi sedikit pun rasa kantuk tak menyergapnya. Bagaimana? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah benar, Xavier tidak akan menemukan mereka? Itu saja yang terngiang di kepalanya saat ini.
Tiba-tiba dia mendengar suara tiga kali ketukan berirama. Greciella mengerutkan dahinya. Siapa itu?
Ketukan itu kembali terdengar yang membuat Greciella membesarkan matanya. Logikanya jika itu adalah Adrean, dia tidak perlu melakukan itu.
Greciella langsung mendekati pintu itu. Dia mencoba mendengarkannya. Tiga kali ketukan itu kembali terdengar dan Greciella mencoba menjawabnya dengan suara yang sama.